Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Februari 19

dan Inilah Tidurku

--------------------
....

ku bilang padanya,
tidur itu bermakna,
maka jangan salahkan aku jika aku meninggalkanmu untuk tidur ku

tidur ini bermakna,
sahut temanku
maka biarkan hidayah Tuhan masuk dalam benakku lewat tidur ku

seorang datang dalam kantuk ku
membisikkan aksara tanpa kata
ukirlah anganmu, layangkan pandangmu
ku tunggu langkahmu

jauh sudah ku dayung khayalku
dan ku tinggalkan bisikan itu

sekarang,
aku tlah sampai di himalaya,
menikmati sejuknya greeland dan panasnya sahara
jadi rajapun aku pernah
bahkan jabatan rendahan di negri ini sempat pula ku emban
tidurku kali ini benar-benar nikmat

aku terkapar sambil harap berharap
tentang aku dan tidurku
tentang bantal dan gulingku

sungguh, inilah tidurku

....
--------------------

Pujasera Arum Dalu
Malang, 1 Juli 2010


Berawal dari diskusi singkat dengan seorang demang di alam mimpi, tentang hobi tidurnya yang hampir mirip denganku. Ternyata tidur tak hanya sekedar memejamkan mata dan menghilangkan rasa capek serta pegal-pegal, namun jauh dari itu. Terdapat kisah kelana hebat di dalamnya, tak terlupa amanat dari satu bisikan pengantar tidur. dan Inilah Tidurku...

Rindu tak Terobati

aku merindukanmu
disaat dirimu semakin menghilang dari hidupku
rasa ini hambar dan hidup ku pun serasa sepi
sendiri dalam lelah menanti

aku menunggumu
menunggu bayangmu lewat menyapa
aku diam dalam setiap hembus nafas
akankah kau kembali dalam pelukan kisah lalu??

6-9-2010

Ku Rindu Kau Mama...

ku ambil secarik kertas
dan ku goreskan pena kerinduan
untukmu mama...

dalam kesendirian,
sejak terakhir kau jenguk aku dalam mimpi-mimpi mu,
kesepian diam2 hadir menggerayangi,
dan semua yang berasa ramai,
seolah sirna tergusur waktu

mama...
biarkanlah aku menangis,
dalam keriduan akan belaianmu,
dalam kerinduan akan suaramu,
dalam kerinduan akan nasehat2mu,
juga senyum dan tawamu...

mama...
sehabis petang ini hilang,
kirimkanlah seekor kunang,
yang menemaniku dalam gelapnya malam,
agar rasa sepi ini hilang,
dan ku rasakan hadirmu mendekap,
menuntunku dalam lelap asaku.

mama...
sudah lama ku nantikan belaianmu,
yang hanya bisa ku rasa lewat bayu,
kirim kabar satu-satu,
aku makin rindu...

hari penantian pun datang,
dan semua yang larut dalam keramaian,
diam-diam mengirimkan doanya,
berharap rindu ini terhapus,
walau sedentang waktu...

ku layangkan pandangku
pada seorang wanita paruh baya
dengan langkah kaki yang tak biasa
menyusuri kelas satu-satu
seakan mencari tahu
keberadaan liliput kecil
yang sedari lama pergi menuntun ilmu.

berhentilah dia di hadapku,
wajah ini...
suara ini...
dan perangai ini...
tak asing lagi bagiku
sosok mama seakan hadir dalam penantian
-dialah bulik-
seorang bibi yang slalu mengurus dan merawat ku disini.

Tuhan...
kiranya kau dengar doa hambaMu ini,
walaupun mama tak bisa hadir menemaniku,
tlah Kau kirim bidadari seanggun dia,
sedikit galau ku pun hilang, Tuhan...

Tuhan...
jika Kau ijinkan aku tuk berdoa lagi,
ku inginkan dia benar2 hadir dalam nyataku,
dialah mama,
yang tak pernah tergantikan
dan slalu mendekam dalam sanubariku

dan terkirim satu rindu untukmu,
mama...
dari anakmu tercinta.

Prigi

ombak mengiring tawa di pantai prigi

ingin rasa ku hempaskan tubuhku di tengah samudra
yang membawa tenangnya dalam lusuh pikirku
hari-hari yang lalu terkubur dalam ricik air yang menabrak karang
mengoyak kepenatan dalam keriangan

aku pun berlari meninggalkan lorong yang pekat itu
yang berapa lama menjeratku dalam ketiadaan
raga berdiri namun jiwa letih tak berdaya
sungguh hari-hari dalam kehampaan

dan sekarang...
akupun bebas!
bebas berenang, bebas menyelam
sebebas ikan pindang yang lolos dari jaring nelayan
dan teriakan ini...
ku persembahkan bagi diriku, mereka dan semua yang mendengarku,
kebebasan benar-benar dalam nyatanya


Sabtu, 12 Juni 2010

Mawarku

pertama ku bertemu denganmu
rasa ini sungguh tak menentu
kau tersipu malu karna ku
saat ku layangkan pandangku kepadamu

aku terbuai dengan kata-katamu
lembut, merdu dan bersahaja
dan semua isi ruangan itu
terkagum melihat matamu yang merona

duhai kau mawar yang tlah lama hilang
aku sungguh terjatuh dalam merahmu
aku sungguh terpaku akan harummu
aku sungguh terbuai akan lembutmu

aku yakin...
banyak hati yang juga melayangkan pandang padamu
aku juga yakin...
bukan diriku saja yang sedang terbuai olehmu
dan yang paling q yakin...
hati ini tlah terpikat olehmu

Ooohhh...
duhai sang mawar ku
mengapa kau tumbuhkan rasa ini lagi??
aku sudah melupakan kenangan itu

ooohhh...
apakah ini suatu mimpi
yang hanya sekejab lalu pergi?
tidak...tidaklah tidak
jangan...pegilah jangan
aku sunggguh haus akan tatapanmu

aku disini..
dan masih tetap disini untuk berdiri...
menemani mekar merahmu...
kau mawarku...


03.35 WIB
Malang, 20 Februari 2010

Ku Tanya

ku tanya embun di pagi ini
"masihkah kau rindukan mentari?"
dengan senyum, dia menjawab
"ku kan slalu disini menantikan cahyanya"

ku tanya angin di sore hari
"masihkah kau rindukan awan?"
tanpa berlama dia berkata
"kan ku bawa keliling dunia dan akulah miliknya"

dan ketika ku tanya pada hatiku di sepanjang malam
"masihkah kau rindukan biduanmu?"
dengan lirih dan terbata, aku bekilah
"dia sudah ada yang punya"

tak berlama,
bisu pun bersilah pergi
dan akupun hanya terdiam tak berdaya
tergolek lemah diantara dedaunan
yang jatuh menghujam dengan sindir tawanya
-siluman mimpi lemah di nyatanya-
bisingpun menguburku di kekelaman...


Malang, 6 Juli 2010
Inilah nyata, dan siapa saja yang meragukan hatinya, suatu saat penyesalan kan melanda. Teruntuk pak demang dan mbok sum, yang tlah menertawakan seorang temanku, kau adalah aspirin di sisa-sisa kepercayaan ini...
Terimakasih teman sampaikan. Dengan lirih dan sedikit diberani-beranikan dia berjanji, tak akan hanya berjaya di mimpi, semua akan terbukti...ku takkan berlari lagi.

Ku Paksakan

...

ku paksakan membuka cakrawala dan bangun dari tidurku, pagi itu
tak pernah ku buyarkan mimpiku sepagi ini dan sejarahpun mengurai crita

dengan terseok langkah kaki berujar pada jalannya,
mataku yang masih setengah terpejam, ku guyur dengan mata air telaga
dingin, dingin sekali pagi itu dan tulang2 serta jantung ini tertusuk berulang-ulang
sejenak ku terdiam di keramaian kokok ayam dan tetesan embun yang menyambut mentari di langit timur
inilah pagiku yang gila membangunkanku, lantang dia berujar,
"bangun gan, ladangmu tlah menunggu"
...


13 Juli 2010

Kau Anggap Kami Apa?

........
sekarang ku tantang kau
-seorang bangsat dalam jajaran berdasi-

dalam pidatomu di lapangan pinggir desaku yang malang ini
kau ucapkan dengan lantang padaku dan pada kami yang mendengarkan bualan periodikmu
"Kalian adalah masa depan masa depan bangsa!
Kalian adalah para penerus pahlawan-pahlawan bangsa
dan di punggung kalian, nasib bangsa ini dipertaruhkan!"

hha...
aku, aan, arip, aris, guk san, guk di dan yang lain
semuanya tertawa bersama tepukan formal yang kami hadiahkan untuk gaya dan tenagamu

..........

"Jika kami memang masa depanmu! Bersiapkah engkau jadi masa lalu?"

..........
Kau katakan dengan lantang, kami ini masa depan kalian,
Namun ketika kami bergeming tentang kesiapan kaian menjadi masa lalu, maka jawaban tak pasti yang kami dapat.

Engkau memang benar2 tidaklah siap menjadikan kami tulang punggung bangsamu ...yang besar ini...
sekali lagi, aku dan teman2ku tertawa abis...
sampai2 perut kami yang pada buncit karna mahalnya hidup, membuat kami berpikir tuk pergi meninggalkan bualan2mu dan membuangnya jauh2 ke angkasa...

biar semua tau bahwa semua itu PALSU!

Malang, 29 Juli 2010

Gadis Berkerudung Biru

gadis berkerudung biru
can...tik sekali siang itu
menarik sukma untuk mencumbu
di peraduan buaian bayu

ku terjatuh pada tatapannya
tajam menusuk relung hatiku
ingin rasa ku singkap waktu
membuka angan, menerpa pandang

kau jadikan aku raja di singgasanamu
ku angkat ratu kau temani aku
bercakap kita terdiam tanpa kata
dalam nafas sebaris nama
"oh... adinda.."

jika ini yang pertama...
kau sangat menggoda
jikalaupun ini menjadi yang terakhir bagi kita...
kau takkan pernah ku lupa

"Din,
jikalapun kita jauh,
pandanglah embun dan mentari di pagi hari,
tanpa malu mereka merindu,
begitu pula aku..."


Malang, 4 Juli 2010

Ucup dan Final AFF 2010 I (26 Desember 2010)

13.00 WIB

Riuh gemuruh angin membawa pesan
"INDONESIA MERAIH MIMPI", ulasan salah satu media televisi
Ucup, Seorang anak paruh baya
yang sedari tadi setia menyimak berita
bingung dan bertanya padaku,
"maksud e opo?" -maksudnya apa-
akupun tak heran dengan tanyanya...

Di saat uforia AFF 2010 menggema di seluruh penjuru Indonesia
tak lain dan tak bukan karna TIMNAS kita belum pernah terkalahkan sejak babak penyisihan
serta pesta gol-gol diluar dugaan
antusiasme meningkat dan harapan itu muncul kembali

sedang untuk satu anak ini,
akupun turut berduka,
dia adalah 1 dari sekian ribu masyarakat Indonesia
yang trauma akan prestasi persepakbolaan negeri ini.
15 tahun sejak piala Tiger -dan sekarang AFF- digelar,
Bangsa kita hanya mampu menjadi spesialis Runner Up selama 3 kali,
dan ini cukup membuat kita haus kemenangan
di perparah lagi,
5 tahun belakangan,
permainan kita sangatlah buruk
bahkan sandangan spesialis (2) tak pernah terdengar lagi pekiknya.
dan semuanya itu cukup membuat anak yang duduk termangu ini
kehilangan harapan pada Timnas GARUDA

Sejak awal bola bergulir,
dan GARUDA tampil gemilang dengan melibas HARIMAU MALAYA 5-1
dilanjut 6-0 dengan LAOS dan 2-1 dengan THAILAND
tetap membuatnya teguh pendirian
takkan melihat GARUDA bertanding lagi...
trauma akut pun serasa tlah mengalir ke seluruh nadinya

hingga sampai siang ini,
disaat kami terpaku di depan layar bersama,
alisnya pun terangkat
dan menyirat keheranan
"Hah..!! Opo bener mas?", tanyanya sambil tangan kanannya menepuk pundakku dengan keras
"Iyo leee...", sahutku dengan sedikit meringis kesakitan
"Jambu, Asem, Anggur..." dan beberapa nama buah-buahan hingga hewan dia sebut satu persatu,
dan berakhir dengan bacaan syukur, "Alhamdulillah duh gusti..."
akupun tak luput dari tendangan dan pukulannya
anak ini tlah hidup kembali dari traumanya
dan orang di dekatnya saat itu -aku-
menjadi samsak pelampiasan kebahagian
remuk semua rasa

tapi tak apa,
syukurlah dia tlah kembali
dan doa serta harapan pun dipanjatkan
setidaknya belum terlambat
untuk mendukung GARUDA beraksi sore ini.

 

17.40 WIB
Suara adzan magrib pun berkumandang
dari sebuah surau kecil pinggir kali

Cepat-cepat Ucup melangkahkan kakinya
berdandan ala santri,
peci hitam, sarung dan baju koko pun membalut tubuhnya
berlomba untuk shof terdepan
dan berharap doa hari ini akan lebih manjur

salam pun terdengar
dan dzikir serta doa-doa telah dipanjatkan bersama
perlahan lahan,
Ucup pun menggeser posisi duduk ke pojok kanan depan
dalam kerendahan diri,
dia pun menengadahkan tangannya ke atas
seraya berdoa...

"Tuhan...
cukup lama ku terpuruk lesu
dalam kubangan yang ku bangun
berserta ribuan harap yang terkubur
pada kejayaan dan kemenangan sang GARUDA

3 kali Kau tunda kemenangan ini,
bahkan untuk 5 tahun belakangan
Kau cabut kepak2 sayap yang menggelora
seaakan Kau wajibkan kami berpuasa
dan ayat-ayat yang ku lantunkan tiap malam
mencumbu dan berbisik
"belum waktunya, sobat..."

Dan pada satu waktu
akupun berhenti dalam harap
biarlah GARUDA terbang sendiri
cukuplah,
tak usah ajak aku,
aku malu...

Namun setelah lama menunggu,
Kau hadirkan momen itu lagi, Tuhan...
jiwa yang tlah lama tertidur
seakan bangkit.
bersama riuh sorai dari Sabang - Merauke

GARUDA DI DADAKU
GARUDA KEBANGGAANKU
KU YAKIN...
HARI INI, PASTI MENANG!

TUHAN...
Kami sudah rindu kemenangan,
Dalam kerendahan diri ini
ku mohon padaMu...
Lancarkanlah jalan sang GARUDA menggapai mimpinya
Berilah kami pelepas dahaga setelah lama berpuasa
inilah harap kami dalam kuasaMu...

Kau pemilik kami,
dan Kau tau yang terbaik bagi kami,
Trima kasih Tuhan
amien, amien ya rabbal alamin..."

dan ucup pun tak kuasa menahan air matanya
yang sedari dari menetes bersama bulir-bulir harapnya


-bersambung-

Aku, Kamu dan Kainmu

Bagus memang namamu
Indah benar gayamu
Namun tak jua luluhkan hatiku
Karna semua itu semu

Aku benci dirimu
Bukan karna lakumu, pikirmu, dan bahkan wajahmu
Namun topeng yang kau bawa...
Kain yang kau kenakan...
Klambu yang kau kibarkan...
Semua tau itu

Pernah kau buang aku di lembah tak bertuan
Karna memang aku tak punya tuan
dan juga aku tak mau mempertuankanmu
aku, kamu dan kainmu....
semakin mengharu

Lusa dan kini...
Aku berjalan di kesendirian
Tanpa kainmu
Tanpa topengmu
Dan tanpa kelambumu
aku...dan kesendirian...


H5. 205, UM, Malang (PTK)
11.45 WIB, 25-2-2010

Rabu, Juni 30

Kado Perpisahan

-------------------

Lama waktu bersua
namun raga tak jua berjumpa
hanyalah ricik suara mu yang kudengar
dentingan gitar yang ku rasa

aku heran dengan diriku
kau bukanlah juwitaku
namun syair yang kau dendangkan
cukup mampu mengusik hatiku

hha...
aku tertawa akan semua
ehmm...
akankah aku terlena
sungguh semua itu masih penuh tanya
untuk ku dan mungkin juga untukmu


dan sampai pada saat itu
kita bertemu,
dengan sedikit gontai melangkah,
karna jantung riang menabuh kendangnya,
dengan isyarat tanpa kata,
sampailah si hitam di tangan
ku selinap intipku padanya,
dan tertulis manis...

Sebuah "Kado Perpisahan" untukmu yang slalu menemaniku

aku terpaku
dalam kering angin yang membisu
inilah misteri alam
merangkai kata dalam kebimbangan
berlalu satu-satu
dan rindu ini kan slalu ada
untukmu....

------------------------
Kediri, 29 Juni 2010

Kamis, April 1

Ketika Engkau Bersembahyang

Oleh :
Emha Ainun Najib

Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

Bacaan Al-Fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya

Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan


1987

Ikrar

Oleh :
Emha Ainun Najib

Di dalam sinar-Mu
Segala soal dan wajah dunia
Tak menyebabkan apa-apa
Aku sendirilah yang menggerakkan laku
Atas nama-Mu
Kuambil siakp, total dan tuntas
maka getaranku
Adalah getaran-Mu
lenyap segala dimensi
baik dan buruk, kuat dan lemah
Keutuhan yang ada
Terpelihara dalam pasrah dan setia

Menangis dalam tertawa
Bersedih dalam gembira
Atau sebaliknya
tak ada kekaguman, kebanggaan, segala belenggu
Mulus dalam nilai satu

Kesadaran yang lebih tinggi
Mengatasi pikiran dan emosi
menetaplah, berbahagialah
Demi para tetangga
tetapi di dalam kamu kosong
Ialah wujud yang tak terucapkan, tak tertuliskan

Kugenggam kamu
Kau genggam aku
Jangan sentuh apapun
Yang menyebabkan noda
Untuk tidak melepaskan, menggenggam lainnya
Berangkat ulang jengkal pertama

Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,
1997

Do’a Sehelai Daun Kering

Oleh :
Emha Ainun Najib

 

Janganku suaraku, ya 'Aziz

Sedangkan firmanMupun diabaikan

Jangankan ucapanku, ya Qawiy

Sedangkan ayatMupun disepelekan

Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah

Sedangkan kasih sayangMupun dibuang

Jangankan sapaanku, ya Matin

Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan

Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka

Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus

Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka

Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban

Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati

Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali

Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti

Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu

Sedangkan IbrahimMu dibakar

Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut

Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian

Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir

Wahai Jabbar Mutakabbir

Engkau Maha Agung dan aku kerdil

Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan

Engkau Maha Kuat dan aku lemah

Engkau Maha Kaya dan aku papa

Engkau Maha Suci dan aku kumuh

Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya

Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar

Rasul kekasihMu maĆ­shum dan aku bergelimang hawaĆ­

Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab

Wahai Mannan wahai Karim

Wahai Fattah wahai Halim

Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu

Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu

Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu

 

Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999

Ditanyakan KepadaNYA

Oleh :
Emha Ainun Najib


Ditanyakan kepadanya siapakah pencuri
Jawabnya: ialah pisang yang berbuah mangga
Tak demikian Allah menata
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah penumpuk harta
Jawabnya: ialah matahari yang tak bercahaya
Tak demikian sunnatullah  berkata
Maka cerdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas
Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
Menjadi kacaulah sistem alam semesta
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya sapakah penindas
Jawabnya: ialah gunung berapi masuk kota
Dilanggarnya tradisi alam dan manusia
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa pemanja kebebasan
Ialah burung terbang tinggi menuju matahari
Burung Allah tak sedia bunuh diri
Maka berdusta ia

Ditanyakn kepadanya siapa orang lalai
Ialah siang yang tak bergilir ke malam hari
Sedangkan Allah sedemikian rupa mengelola
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa orang ingkar
Ialah air yang mengalir ke angkasa
Padahal telah ditetapkan hukum alam benda
Maka berdusta ia

Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin
Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
Orang wajib menebangnya
Agar tak berdusta ia

Kemudian siapakah orang lemah perjuangan
Ialah api yang tak membakar keringnya dedaunan
Orang harus menggertak jiwanya
Agar tak berdusta ia
Kemudian siapakah pedagang penyihir
Ialah kijang kencana berlari di atas air
Orang harus meninggalkannya
Agar tak berdusta ia

Adapun siapakah budak kepentingan pribadi
Ialah babi yang meminum air kencingnya sendiri
Orang harus melemparkan batu ke tengkuknya
Agar tak berdusta ia

Dan akhirnya siapakah orang tak paham cinta
Ialah burung yang tertidur di kubangan kerbau
Nyanyikan puisi di telinganya
Agar tak berdusta ia

1988

Dari Bentangan Langit

Oleh :
Emha Ainun Najib


Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu, datang kepadamu
Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu, Ia, kemarau itu
dari Tuhan, yang senantia diam
dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.

Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,

1997

Begitu Engkau Bersujud

Oleh :
Emha Ainun Najib


Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang
yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
setiap kali engkau bersujud, setiap kali
pula telah engkau dirikan masjid
Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
telah kau bengun selama hidupmu?
Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
meninggi, menembus langit, memasuki alam makrifat

Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang
Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara adzan

Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid
Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
Allah, engkaulah kiblat
Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang
didengar Allah, engkaulah tilawah suci
Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai
Allah, engkaulah ayatullah

Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi
dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud
menjadilah engkau masjid

1987

Antara Tiga Kota

Oleh :
Emha Ainun Najib

di yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk

kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

Jakrta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari memelototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu

kemanakah harus juhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga

surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya

kemanakah haru kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,
1997

Kamis, Februari 25

Aku, Kamu dan kainmu

Bagus memang namamu
Indah benar gayamu
Namun tak jua luluhkan hatiku
Karna semua itu semu

Aku benci dirimu
Bukan karna lakumu, pikirmu, dan bahkan wajahmu
Namun topeng yang kau bawa...
Kain yang kau kenakan...
Klambu yang kau kibarkan...
Semua tau itu

Pernah kau buang aku di lembah tak bertuan
Karna memang aku tak punya tuan
dan juga aku tak mau mempertuankanmu
aku, kamu dan kainmu....
semakin mengharu

Lusa dan kini...
Aku berjalan di kesendirian
Tanpa kainmu
Tanpa topengmu
Dan tanpa kelambumu
aku...dan kesendirian...


H5. 205, UM, Malang
11.45 WIB, 25-2-2010

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More