Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Februari 20

Buku Baru: “Gus Dur Presiden Republik Akhirat”


Surabaya (GP Ansor Online): Sebuah buku yang mengupas kehidupan dan pemikiran mantan Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diluncurkan di Pasar Buku Indonesia Cerdas (PBIC) Kapas Krampung Plaza, Kamis (18/2/2010) hari ini.

Anehnya, judul buku itu sedikit kontroversial, yakni “Gus Dur Presiden Republik Akhirat”. Penulisnya adalah Ketua Ikatan Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Jatim H Muhammad Zakki dan juga merupakan tokoh muda NU.

“Meski judulnya terkesan aneh dan kontroversial, Insya Allah menjadikan kita lebih semakin terbuka untuk melihat secara jernih dan arif. Yakni, pikiran dan keberanian yang gigih dari sosok Gus Dur tidak pernah basi untuk diulas dan diapresiasi. Gus Dur itu juga sebagai malaikat demokrasi,” kata M Zakki, sang penulis kepada beritajatim.com.

Menurut dia, penggeloraan semangat Gus Dur dalam hal menegakkan demokrasi dan pembelaan terhadap kelompok minoritas yang tertindas tidak akan terlupakan dalam catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

“Pikiran yang konsisten dan keberanian tangguh pada diri Gus Dur terus dibarakan, hingga mengkristal menjadi satu kekuatan besar untuk disumbangkan ke masyarakat, bangsa dan agama. Meski Gus Dur telah meninggal, beliau mewarisi pikiran dan keberanian harus diteladani generasi bangsa,” imbuhnya.

Pada saat acara bedah buku Gus Dur Presiden Republik Akhirat itu dihadiri sejumlah tokoh. Di antaranya adalah Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul), adik kandung Gus Dur dr Umar Wahid, Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya Nur Syam, dan Cawawali Surabaya Edy Gunawan Santoso (EGS).

Sejumlah tokoh dari berbagai kalangan tersebut juga diminta menandatangani prasasti untuk Penganugerahan Rakyat Pahlawan Nasional untuk Gus Dur. [bj]

Source: http://www.gp-ansor.org/berita/buku-baru-gus-dur-presiden-republik-akhirat.html

Sejuta Hati Untuk Gus Dur

Damien Dematra
Harga : (+-) Rp 58.000,- *
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 432 halaman
Terbit : Januari 2010
Soft Cover
ISBN : 978-979-22-5346-7; 20401100019


Novel ini diadaptasi dari skenario film Gus Dur: The Movie, yang awalnya direncanakan akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada ulang tahun GusDur yang ke-70 pada Agustus 2010. Namun, berpulangnya sang tokoh pada sang Pencipta sangat mengejutkan semua pihak, termasuk sang penulis, sehingga lahirlah inisiatif spontan untuk membuat versi novel sekaligus menggalang proyek pengumpulan Sejuta Hati untuk Gus Dur.

Dalam novel ini pembaca akan dibawa menyelami kehidupan seorang Gus Dur dari sebelum kelahirannya hingga akhir hayatnya. Semoga banyak manfaat yang bisa dipetik dari kehidupan sang tokoh besar, pahlawan kemanusiaan, bapak pluralisme, dan guru bangsa ini.

"Abdurrahman Wahid telah berangkat menghadap penciptanya untuk waktu tak terbatas. Bangsa ini telah kehilangan pahlawan humanis yang tidak mudah dicari penggantinya. Dengan novel ini, kenangan manis terhadap sahabat kita ini akan terus hidup dan segar dalam lipatan kurun yang panjang."
--Ahmad Syafii Maarif, guru bangsa

Selasa, Januari 26

Sang Kiai Pembelajar: KH Achmad Mustofa Bisri

Kyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius. Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini enggan (menolak) dicalonkan menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-31 28/11-2/12-2004 di Boyolali, Jawa Tengah.

KH Achmad Mustofa Bisri, akrab dipanggil Gus Mus, ini mempunyai prinsip harus bisa mengukur diri. Setiap hendak memasuki lembaga apapun, ia selalu terlebih dahulu mengukur diri. Itulah yang dilakoninya ketika Gus Dur mencalonkannya dalam pemilihan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada Muktamar NU ke-31 itu.

“Saya harus bisa mengukur diri sendiri. Mungkin lebih baik saya tetap berada di luar, memberikan masukan dan kritikan dengan cara saya,” jelas alumnus Al Azhar University, Kairo (Mesir), ini, yang ketika kuliah mempunyai hobi main sepakbola dan bulutangkis. Setelah tak lagi punya waktu meneruskan hobi lamanya, ulama ini lalu menekuni hobi membaca buku sastra dan budaya, menulis dan memasak, termasuk masak makanan Arab dengan bumbu tambahan.

Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, dari keluarga santri. Kakeknya, Kyai Mustofa Bisri adalah seorang ulama. Demikian pula ayahnya, KH Bisri Mustofa, yang tahun 1941 mendirikan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, adalah seorang ulama karismatik termasyur.

Ia dididik orangtuanya dengan keras apalagi jika menyangkut prinsip-prinsip agama. Namun, pendidikan dasar dan menengahnya terbilang kacau. Setamat sekolah dasar tahun 1956, ia melanjut ke sekolah tsanawiyah. Baru setahun di tsanawiyah, ia keluar, lalu masuk Pesantren Lirboyo, Kediri selama dua tahun. Kemudian pindah lagi ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia diasuh oleh KH Ali Maksum selama hampur tiga tahun. Ia lalu kembali ke Rembang untuk mengaji langsung diasuh ayahnya.

KH Ali Maksum dan ayahnya KH Bisri Mustofa adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya. Kedua kiyai itu memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.

Kemudian tahun 1964, dia dikirim ke Kairo, Mesir, belajar di Universitas Al-Azhar, mengambil jurusan studi keislaman dan bahasa Arab, hingga tamat tahun 1970. Ia satu angkatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Menikah dengan Siti Fatimah, ia dikaruniai tujuh orang anak, enam di antaranya perempuan. Anak lelaki satu-satunya adalah si bungsu Mochamad Bisri Mustofa, yang lebih memilih tinggal di Madura dan menjadi santri di sana. Kakek dari empat cucu ini sehari-hari tinggal di lingkungan pondok hanya bersama istri dan anak keenamnya Almas.

Setelah abangnya KH Cholil Bisri meninggal dunia, ia sendiri memimpin dan mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, didampingi putra Cholil Bisri. Pondok yang terletak di Desa Leteh, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 115 kilometer arah timur Kota Semarang, itu sudah berdiri sejak tahun 1941.

Keluarga Mustofa Bisri menempati sebuah rumah kuno wakaf yang tampak sederhana tapi asri, terletak di kawasan pondok. Ia biasa menerima tamu di ruang seluas 5 x 12 meter berkarpet hijau dan berisi satu set kursi tamu rotan yang usang dan sofa cokelat. Ruangan tamu ini sering pula menjadi tempat mengajar santrinya.

Pintu ruang depan rumah terbuka selama 24 jam bagi siapa saja. Para tamu yang datang ke rumah lewat tengah malam bisa langsung tidur-tiduran di karpet, tanpa harus membangunkan penghuninya. Dan bila subuh tiba, keluarga Gus Mus akan menyapa mereka dengan ramah. Sebagai rumah wakaf, Gus Mus yang rambutnya sudah memutih berprinsip, siapapun boleh tinggal di situ.


Di luar kegiatan rutin sebagai ulama, dia juga seorang budayawan, pelukis dan penulis. Dia telah menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi. Justru melalui karya budayanyalah, Gus Mus sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap “budaya” yang berkembang dalam masyarakat. Tahun 2003, misalnya, ketika goyang ngebor pedangdut Inul Daratista menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, Gus Mus justru memamerkan lukisannya yang berjudul “Berdzikir Bersama Inul”. Begitulah cara Gus Mus mendorong “perbaikan” budaya yang berkembang saat itu.

Bakat lukis Gus Mus terasah sejak masa remaja, saat mondok di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ia sering keluyuran ke rumah-rumah pelukis. Salah satunya bertandang ke rumah sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi. Ia seringkali menyaksikan langsung bagaimana Affandi melukis. Sehingga setiap kali ada waktu luang, dalam bantinnya sering muncul dorongan menggambar. “Saya ambil spidol, pena, atau cat air untuk corat-coret. Tapi kumat-kumatan, kadang-kadang, dan tidak pernah serius,” kata Gus Mus, perokok berat yang sehari-hari menghabiskan dua setengah bungkus rokok.

Gus Mus, pada akhir tahun 1998, pernah memamerkan sebanyak 99 lukisan amplop, ditambah 10 lukisan bebas dan 15 kaligrafi, digelar di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Kurator seni rupa, Jim Supangkat, menyebutkan, kekuatan ekspresi Mustofa Bisri terdapat pada garis grafis. Kesannya ritmik menuju zikir membuat lukisannya beda dengan kaligrafi. “Sebagian besar kaligrafi yang ada terkesan tulisan yang diindah-indahkan,” kata Jim Supangkat, memberi apresiasi kepada Gus Mus yang pernah beberapa kali melakukan pameran lukisan.

Sedangkan dengan puisi, Gus Mus mulai mengakrabinya saat belajar di Kairo, Mesir. Ketika itu Perhimpunan Pelajar Indonesia di Mesir membikin majalah. Salah satu pengasuh majalah adalah Gus Dur. Setiap kali ada halaman kosong, Mustofa Bisri diminta mengisi dengan puisi-puisi karyanya. Karena Gus Dur juga tahu Mustofa bisa melukis, maka, ia diminta bikin lukisan juga sehingga jadilah coret-coretan, atau kartun, atau apa saja, yang penting ada gambar pengisi halaman kosong. Sejak itu, Mustofa hanya menyimpan puisi karyanya di rak buku.

Namun adalah Gus Dur pula yang ‘mengembalikan’ Gus Mus ke habitat perpuisian. Pada tahun 1987, ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur membuat acara “Malam Palestina”. Salah satu mata acara adalah pembacaan puisi karya para penyair Timur Tengah. Selain pembacaan puisi terjemahan, juga dilakukan pembacaan puisi aslinya. Mustofa, yang fasih berbahasa Arab dan Inggris, mendapat tugas membaca karya penyair Timur Tengah dalam bahasa aslinya. Sejak itulah Gus Mus mulai bergaul dengan para penyair.

Sejak Gus Mus tampil di Taman Ismail Marzuki, itu kepenyairannya mulai diperhitungkan di kancah perpuisian nasional. Undangan membaca puisi mengalir dari berbagai kota. Bahkan ia juga diundang ke Malaysia, Irak, Mesir, dan beberapa negara Arab lainnya untuk berdiskusi masalah kesenian dan membaca puisi. Berbagai negeri telah didatangi kyai yang ketika muda pernah punya keinginan aneh, yakni salaman dengan Menteri Agama dan menyampaikan salam dari orang-orang di kampungnya. Untuk maksud tersebut ia berkali-kali datang ke kantor sang menteri. Datang pertama kali, ditolak, kedua kali juga ditolak. Setelah satu bulan, ia diizinkan ketemu menteri walau hanya tiga menit.

Kyai bertubuh kurus berkacamata minus ini telah melahirkan ratusan sajak yang dihimpun dalam lima buku kumpulan puisi: Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (1988), Tadarus Antologi Puisi (1990), Pahlawan dan Tikus (1993), Rubaiyat Angin dan Rumput (1994), dan Wekwekwek (1995). Selain itu ia juga menulis prosa yang dihimpun dalam buku Nyamuk Yang Perkasa dan Awas Manusia (1990).

Tentang kepenyairan Gus Mus, ‘Presiden Penyair Indonesia’ Sutardji Calzoum Bachri menilai, gaya pengucapan puisi Mustofa tidak berbunga-bunga, sajak-sajaknya tidak berupaya bercantik-cantik dalam gaya pengucapan. Tapi lewat kewajaran dan kesederhanaan berucap atau berbahasa, yang tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada. Bahasanya langsung, gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise. “Sebagai penyair, ia bukan penjaga taman kata-kata. Ia penjaga dan pendamba kearifan,” kata Sutardji.

Kerap memberi ceramah dan tampil di mimbar seminar adalah lumrah bagi Gus Mus. Yang menarik, pernah dalam sebuah ceramah, hadirin meminta sang kiai membacakan puisi. Suasana hening. Gus Mus lalu beraksi: “Tuhan, kami sangat sibuk. Sudah.”

Sebagai cendekiawan muslim, Gus Mus mengamalkan ilmu yang didapat dengan cara menulis beberapa buku keagamaan. Ia termasuk produktif menulis buku yang berbeda dengan buku para kyai di pesantren. Tahun 1979, ia bersama KH M. Sahal Mahfudz menerjemahkan buku ensiklopedia ijmak. Ia juga menyusun buku tasawuf berjudul Proses Kebahagiaan (1981). Selain itu, ia menyusun tiga buku tentang fikih yakni Pokok-Pokok Agama (1985), Saleh Ritual, Saleh Sosial (1990), dan Pesan Islam Sehari-hari (1992).

Ia lalu menerbitkan buku tentang humor dan esai, “Doaku untuk Indonesia” dan “Ha Ha Hi Hi Anak Indonesia”. Buku yang berisi kumpulan humor sejak zaman Rasullah dan cerita-cerita lucu Indonesia. Menulis kolom di media massa sudah dimulainya sejak muda. Awalnya, hatinya “panas” jika tulisan kakaknya, Cholil Bisri, dimuat media koran lokal dan guntingan korannya ditempel di tembok. Ia pun tergerak untuk menulis. Jika dimuat, guntingan korannya ditempel menutupi guntingan tulisan sang kakak. Gus Mus juga rajin membuat catatan harian.

Seperti kebanyakan kyai lainnya, Mustofa banyak menghabiskan waktu untuk aktif berorganisasi, seperti di NU. Tahun 1970, sepulang belajar dari Mesir, ia menjadi salah satu pengurus NU Cabang Kabupaten Rembang. Kemudian, tahun 1977, ia menduduki jabatan Mustasyar, semacam Dewan Penasihat NU Wilayah Jawa Tengah. Pada Muktamar NU di Cipasung, Jawa Barat, tahun 1994, ia dipercaya menjadi Rais Syuriah PB NU.

Enggan Ketua PB NU
Kesederhanaannya telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia didorong-dorong oleh Gus Dur dan kawan-kawan dari kelompok NU kultural, untuk mau mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PB NU pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004, di Boyolali, Jawa Tengah. Tujuannya, untuk menandingi dan menghentikan langkah maju KH Hasyim Muzadi dari kelompok NU struktural. Kawan karib Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir, ini dianggap salah satu ulama yang berpotensi menghentikan laju ketua umum lama. Namun Gus Mus justru bersikukuh menolak.

Alhasil, Hasyim Muzadi mantan calon wakil presiden berpasangan dengan calon presiden Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan, pada Pemilu Preisden 2004, itu terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Tanfidziah ‘berpasangan’ dengan KH Achmad Sahal Makhfud sebagai Rois Aam Dewan Syuriah PB NU. Muktamar berhasil meninggalkan catatan tersendiri bagi KH Achmad Mustofa Bisri, yakni ia berhasil menolak keinginan kuat Gus Dur, ulama ‘kontroversial’.

Ternyata langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukannya. Jika tidak merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri. Sebagai misal, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992, mewakili PPP, demikian pula pernah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mantan Rois Syuriah PB NU periode 1994-1999 dan 1999-2004 ini tidak pernah mau dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut. Lalu, ketika NU ramai-ramai mendirikan partai PKB, ia tetap tak mau turun gelanggang politik apalagi terlibat aktif di dalamnya.

Demikian pula dalam Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan itu sendiri digelar. Ia merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang pemerintahan. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat. “Selama saya menjadi anggota DPRD, sering terjadi pertikaian di dalam batin saya, karena sebagai wakil rakyat, yang menerima lebih banyak dibandingkan dengan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat Jawa Tengah,” kata Mustofa mengenang pengalaman dan pertentangan batin yang dia alami selama menjadi politisi.

Dicalonkan menjadi ketua umum PB NU sudah seringkali dialami Gus Mus. Dalam beberapa kali mukhtamar, namanya selalu saja dicuatkan ke permukaan. Ia adalah langganan “calon ketua umum” dan bersamaan itu ia selalu pula menolak. Di Boyolali 2004 namanya digandang-gandang sebagai calon ketua umum. Bahkan dikabarkan para kyai sepuh telah meminta kesediaannya. Sampai-sampai utusan kyai sepuh menemui ibunya, Ma’rafah Cholil, agar mengizinkan anaknya dicalonkan. Sang ibu malah hanya menjawab lugas khas warga ulama NU, ”Mustofa itu tak jadi Ketua Umum PB NU saja sudah tak pernah di rumah, apalagi kalau menjadi ketua umum. Nanti saya tak pernah ketemu.”

Gus Mus sendiri yang tampak enggan dicalonkan, dengan tangkas menyebutkan, “Saya mempunyai hak prerogatif untuk menolak,” ucap pria bertutur kata lembut yang sesungguhnya berkawan karib dengan Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir. Saking karibnya, Gus Mus pernah meminta makan kepada Gus Dur selama berbulan-bulan sebab beasiswanya belum turun-turun. Persahabatan terus berlanjut sampai sekarang. Kalau Gus Dur melawat ke Jawa Timur dan singgah di Rembang, biasanya mampir ke rumah Gus Mus. Sebaliknya, bila dia berkunjung ke Jakarta, sebisa-bisanya bertandang ke rumah Gus Dur. Selain saling kunjung, mereka tak jarang pula berkomunikasi melalui telepon.

Sumber: www.tokohindonesia.com

Sabtu, Januari 23

Keteladanan Telah Diberikan (Gus Dur)

Semua orang merasa kehilangan, sebab hampir semua orang merasa berhutang budi pada Gus Dur. Begitu Komentar orang terhadap kepergian tokoh yang satu itu. Hal itu tidak lain mengingat besarnya kiprah Gus Dur terhadap umat Islam dan bangsa ini. Kemunculan Gus Dur di tengah puncak kekuasaan Orde baru memberikan tempat tersendiri bagi bangsa ini, terutama di kalangan muda yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman rezim yang otoriter itu seolah Gus Dur memberikan alternatif lain. Ia tidak seperti kelompok aktivis radikal yang menghadapi orde baru secara konfrontatif. Tetapi juga tidak seperti tokoh kompromis, yang serba tunduk pada kemauan orde baru.

Dengan sikap seperti itu Gus Dur seolah menjadi oposisi loyal, sehingga menjadi tumpuan semua pihak, kalangan yang anti orde baru maupun menjadi sahabat para pemimpin orde baru. Hampir semua pendukung rezim orde baru utama memiliki kedekatan khusus dengan Gus Dur, baik Sudomo, Benny Moerdani, Moerdiono. Belum lagi tokoh lainnya. Dengan kepiawiaannya Gur Dur dihormati oleh kawan dan lawan. Bagi kalangan aktivis mahasiswa tahun 1980-an, Gus Dur merupakan sumber inspirasi penting di saat yang sama juga sangat dihormati oleh Soeharto sendiri.

Soeharto tahu bahwa rival yang satu ini tidak sembarangan, karena itu diperlakukan dengan sangat hati-hati. Beberapa kali Soeharto berusaha mengeliminir tokoh ini, tetapi beberapa kali ia terpaksa menerima kehadiran tokoh ini di pentas politik nasional, meski bukan seorang pimpinan partai politik, tetapi diakui sebagai pemimpin oposisi paling utama ketika kekuatan partai sepenuhnya telah ditundukkan oleh rezim itu. Pada saat itu NU organisasi sosial yang dipimpinnya, menjadi kekuatan politik riil yang paling terkemuka dibanding partai politik yang ada.

Kepemimpinan Gus Dur memang tidak hanya di ranah sosial politik, tetapi juga dalam dunia pemikiran dan kebudayaan. Justru dalam bidang ini perspektif pengaruh Gus Dur merebak sedemikian luas. Kemampuan dan penguasaannya terhadap bidang pemikiran dan kebudayaan itu memungkinkan ia masuk di lingkungan ilmuwan dan budayawan. Hal itu menambah luasnya pengaruh social dan politik Gus Dur, ketika tidak ada bidang penting kehidupan masyarakat yang tidak bisa dimasuki, sehingga setiap kelompok masyarakat menganggap Gus Dur sebagai komunitasnya.

Pada mulanya orang mengira Gus Dur hanya bisa membuat wacana, tetapi anggapan itu salah ketika Gus Dur benar-benar mampu menerjemahkan gagasannya ke dalam kehidupan nyata, ketika menjadi pemimpin tertinggi negeri ini, yaitu Presiden. Sebagai pengagum Bung Karno Gus Dur ingin mengembalikan kemandirian dan martabat bangsa ini. Berbagai langkah penting dilakukan antara lain membangun ekonomi nasional dengan bertumpu pada sumber daya sendiri, membuat poros baru ekonomi dan politik dunia untuk menghadapi monopoli Barat.

Dalam langkahnya itu Gus Dur membuat langkah agar bangsa ini kembali menjadi bangsa yang besar dengan melakukan langkah-langkah besar. Kebesaran gagasan dan keberanian melangkah itu, Gus Dur mendapatkan simpati dari segenap tokoh dunia, karena kepiawian Gus Dur menghadapi dominasi Amerika, persis ketika menghadapi dominasi Soeharto. Dengan politik luar negeri yang tidak berkonfrontasi dengan Barat, tetapi memiliki sikap kritis terhadap barat, Gus Dur tidak hanya disegani oleh lawan Amerika, tetapi juga sangat dihormati oleh Amerika sendiri, terutama langkah-langkahnya dalam menggerakkan demokrasi, keterbukaan anti diskriminasi dan sebagainya tema yang menjadi kepedulian Amerika dan Barat saat itu.

Bukan lagi mahasiswa dan tokoh politik Indonesia yang terinspirasi pemikiran dan sepak terjang Gus Dur, para tokoh politik Dunia, baik dari Cina, Jepang, Timur tengah, termasuk kalangan Amerika Latin seperti Fidel Castro dan Hugo Chaves sendiri sangat berharap Gus Dur bisa menjadi pemimpin Dunia baru untuk dunia yang lebih adil dan lebih sejahtera sebagai mana yang mereka perjuangkan. Dunia di bawah kepemimpinan Indonesia yang besar akan memiliki pengaruh yang sangat besar, sebagaimana dulu pernah dilakukan oleh Bung Karno saat menghadapi dua super power yang sedang bersaing itu.

Kebesaran pemikiran dan keluasan cakrawalanya Gus Dur mampu memberikan inspirasi bahkan keteladanan, tidak hanya bagi bangsa Indonesia tetapi juga bagi bangsa lain di seluruh dunia. Nah ini sebuah karya besar Gur Dur yang tidak saja harus dikenang, tetapi harus dilanjutkan, mengingat ini sebuah cita-cita besar yang belum selesai. Bagaimana membangun bangsa yang besar dan sekaligus membangun dunia yang adil dan damai. Gus Dur telah meninggalkan berbagai ilmu dan pengalaman pada kita. Setelah Gus Dur tiada maka tugas telah beralih ke pundak kita untuk membesarkan bangsa ini dan menjaga ketertiban kehidupan dunia saat ini. (Abdul Mun’im DZ)

Sunber: http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=21239

Fenomena Gus Dur

Ketika masih hidup Gus Dur membuat banyak heboh baik dalam pemikiran keagamaan, pemikiran kebudayaan hingga manuver-manuver politik akrobatiknya yang menimbulkan berbagai kontroversi. Demikian ketika Gus Dur meninggal kehebohan juga terjadi, ribuan pelayat sejak dari rakyat jelata hingga petinggi negara menghormatinya. Masyarakat berjajar memenuhi jalan baik di Jakarta, maupun sepanjang jalan antara Surabaya Jombang yang berdiri menghormati tokoh pujaannya.

Tidak hanya kalangan Muslim yang khidmat menyelenggarakan tahlilan selama tujuh malam, kalangan Kristen, Hindu Budha dan Konghucu juga menyelenggarakan doa yang sama, mereka merasa kehilangan tokoh besar sang pelindung yang menjadi panutan. Hal itu menjadi dramatis ketika seluruh media masa baik cetak maupun elektronik yang menyiarkan secara langsung, sehingga presesi pemakaman itu mereka ikuti secara seksama.



Lebih heboh lagi ketika tokoh yang baru meninggal itu secara aklamasi diserukan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia agar diberi gelar pahlawan nasional. Mengingat derasnya arus ini, kelihatan tidak ada kalangan yang terang-terangan berani melawan arus, semua mengiyakan. Tidak disangka pemberian gelar kepahlawanan Gus Dur ini juga dimaksudkan untuk mendongkrak kepahlawanan dua presiden sebelumnya yaitu presiden Soekarno Sang Proklamator dan presiden Soeharto, yang keduanya belum mendapatkan gelar pahlawan. Melalui momen pemberian gelar pada Gus Dur inilah kedua tokoh tersebut akan dipahlawankan.

Gus Dur memang tokoh besar, tetapi besarnya sambutan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia ternyata di luar dugaan. Selama ini peran Gus Dur sempat dinafikan, seolah tidak memiliki jasa pada bangsa ini, kalah dengan permainan politik para politisi belakangan ini. Padahal Gus Dur merintis perjuangannya sejak akhir 1970-an untuk mendidik dan membebaskan bangsa ini, baik dari keterbelakangan maupun dari represi politik Orde Baru dengan segala risiko.

Kepedulian pada rakyat dan bangsa ini seolah membuat dia tidak pernah lelah berjuang. Hari-hari yang panjang dihabiskan untuk menjalin silaturrahmi dan merentang jaringan dengan masyarakat di semua level baik nasional maupun internasional. Ini dijalankan dengan penuh risiko bertabrakan dengan kekerasan orde baru. Semua dijalankan dengan penuh kesungguhan, ketika tokoh yang lain sedang menikmati bulan madu dengan represif itu. Karena itu ketika gerakan reformasi mencapai puncaknya, akhirnya orang dating juga pada tokoh ini, karena memang sejak dulu muaranya ada di sana.

Tetapi setelah reformasi seolah peran Gus Dur tidak ditoleh lagi, malah orang menganggap kehadirannya sudah tidak dianggap membawa sumbangan pada bangsa ini. Suara itu mulai banyak dihembuskan oleh para pengkritiknya. Tetapi kata Al-Qur’an wamallahu bighofilin amma ta’malun (Tuhan tidak lupa terhadan apa yang kamu kerjakan), orang Jawa bilang Gusti ora sare (Tuhan tidak tidur), dengan berpegang pada prinsip itu tidak heran dikala meninggalnya Jasa dan perjuangan Gus Dur diingat masyarakat kawula mboten supe (rakyat tidak lupa). Luapan emosi masyarakat dalam menyambut kepergian Gus Dur itu menunjukkan rakyat memiliki memori yang tidak di-clear (dihapus) melalui berbagai opini yang disebarkan, karena memori masyarakat tidak dibentuk melalui pengetahuan kognitif, melainkan melalui pengetahuan afektif dan empiris, karena jasa besar Gus Dur tidak didengar melalui orang lain tetapi dirasakan sendiri oleh rakyat. Proses ini yang membuat masyarakat tidak lupa atas jasa dan perjuangan Gus Dur pada bangsa ini.

Gus Dur sendiri mengajarkan bahwa berjuang dilakukan tidak untuk memperoleh popularitas, tetapi demi pengabdian pada masyarakat itu sendiri, karena itu walaupun tidak pernah dihargai, bahkan dicaci seseorang tidak boleh berhenti berjuang, karena suatu ketika masyarakat akan melihat hasilnya, dan kemudian akan menerima dan mengakui apa yang sudah dilakukan. Sebagai seorang yang memiliki spektrum luas, perjuangan Gus Dur juga memiliki cakupan yang luas, tidak hanya di wilayah agama dan politik, tetapi di ranah sosial, seni budaya bahkan oleh raga.

Luasnya spektrum perjuangan itu Gus Dur tidak pernah terperangkap dalam jalan buntu, setiap kesulitan selalu ditemukan jalan keluarnya. Ketika pintu politik ditutup ia bisa bergerak melalui agama, ketika agama dibatasi ia bisa bergerak dalam dunia seni budaya, ketika seni budaya dihadang ia bisa berjuang melalui alam spiritual dan seterusnya, karena itu perjuangan Gus Dur tidak pernah berhenti, bahkan semakin meluas, sehingga meluas pula spektrum dukungannya. Tidak hanya dari kalangan ras, etnis dan budaya tetapi juga dari kalangan agama yang berbeda beda. Semuanya merasa bahwa Gus Dur adalah tokoh yang membawa berkah bahkan pelindung yang membawa keselamatan.

Sepeninggal Gus Dur tentang bangsa Indonesia dan NU kehilangan tokoh besarnya yang harus segera diganti. Selama ini NU tidak hanya menjadi penyeimbang kehidupan bangsa tetapi malah menjadi penyangga dalam kehidupan berbangsa, karena NU memiliki kepedulian terhadap keragaman yang dimiliki bangsa ini, dsan semuanya mendapatkan perlindungan hak dan kewajiban yang sama. Pengganti Gus Dur mesti bisa meneladani dan melanjutkan semua rintisan yang telah dibuat oleh Gus Dur, agar kehidupan berbangsa dan bernegara ini tetap lestari. (Abdul Mun’im DZ)

Sumber: http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=21473

Ketika Kiai Sepuh Nyantri


Mengembara untuk mencari ilmu merupakan tradisi pesantren yang disebut dengan santri kelana, yang menyusuri dari pesantren ke pesantren untuk mendalami pengetahuan. Ternyata tradisi itu tidak hanya berlaku di lingkungan santri. Para kiai sepuh juga melakukan hal demikian, seperti Kiai Cholil Bangkalan, Kiai Dahlan Jampes, termasuk kiai Chozin dari Sidoarjo Jawa Timur.

Kiai Chozin pemimpin pesantren Siwala Panji Sidoarjo, tempat bergurunya para ulama, termasuk kaia hasyim Asy’ari pernah nyantri di sana di bawah bimbingan Kiaia Chozin. Setelah itu Kiai Hasyim belajar ke Mekah selama beberapa tahun, belajar pada ulama terkemuka di Haramain. Selama di Mekah Kiai Hasyim menjalin hubungan dengan para ulama dan santri seluruh dunia dan ulama Nusantara khususnya. Karena itu sepulang dari Mekah Kiai Hasyim tetap menjadi pimpinan dan selalu menjadi rujukan para ulama Nusantara karena kealiman dan kharismanya.

Apalagi setelah mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama tahun 1926 popularitas Kiai ini semakin membesar, tidak hanya luasnya pengaruh, tetapi kedalaman keilmuannya. Mendengar kemasyhuran Kiai Hasyim itu tampaknya gurunya yaitu Kiai Chozin penasaran ingin memperoleh pengetahuan dari bekas santrinya itu, sehingga pada suatu bulan Romadlon tahun 1933. Kiai sepuh itu berangkat ke Pesantren Tebuireng untuk mengaji di sana.

Tentu saja kiai Hasyim Asy’ari merasa tidak enak, kiai sepuh dan guru yang sagnat dihormati itu mengikuti pengajiannya, sehingga memintanya sang kiai tidak ikut penajian karena beliau adalah gurunya yang lebih alim. Sementara pengajian hanya untuk para santri. Tetapi dengan tenang Kia Chozin menjawab, “Memang dulu saya guru sampeyan, tetapi sekarang sampeyan yang menjadi guru saya.” Mendengar jawaban itu kiai Hasyim tidak berkutik karena ini menyangkut sabda sang guru yang harus ditaati.

Kiai Chozin kemudian ditempatkan di kamar tersendiri, tidak bersama dengan santri lainnya. Tetapi hal itu menjadikan Kiai Chozin kurang senang dan minta ditempatkan dalam kamar bersama santri lainnya. Rupanaya kiai Hasyim tidak kehabisan akal untuk menghoirmati gurunya. "Begini kiai, sampeyan telah menjadi santri saya maka sampeyan harus taan pada sang guru."

Kemudian kiai Hasyim membuat beberapa peraturan khusus untuk santri sepuh ini, pertama, Kiai Chozin wajib menempati kamar yang telah disediakan, kedua, tidak diperkenankan mencuci pakain sendiri, ketiga, apabila memerlukan sesuatu harus meminta bantuan langsung kepada Kiai Hasyim, tidak perlu lewat santri. Sebagai santri dan sekaligus tamu, maka Kiai Chozin akhirnya mengikuti aturan yang dibuat oleh Kiai hasyim. Karena Kiai ini melihat ini sebagai bentuk penghormatan Kiai hasyim kepada SKiai.

Selama menjadi santri itu Kiai Chozin memperoleh bukti tentang keluasan dan kedalaman kiai bekas santrinya itu, maka ia memberikan dukungan sepenuhnya terhadap gerakan yang dilakukan, baik dalam keagamaan maupun gerakan politik melawan penjajahan. Karena itu selain para alumni Siwalan Panji diserukan masuk NU. Demikian juga ketika seruan jihad dikumandangkan pada 22 Oktober 1945, santri di sekitar Surabaya dan sidoarjo sangat aktif dalam perjuangan itu. (mdz).

Disadur dari Buku Biografi Muhammad Ilyas, 2009

Jumat, Januari 22

Gus Dur Manusia Setengah Dewa


Abdurrahman Wahid, Presiden keenam Indonesia (setelah Sukarno, Sjafrudin Prawiranegara, Assaat, Soeharto, dan Habibie) wafat 30 Desember 2009. Tentu ada berbagai cara dan perspektif dalam menilai ketokohannya. Termasuk bagaimana masyarakat serta para pengikutnya melihat dan memersepsikannya. Sewaktu masih sehat ia adalah pemikir/penulis cerdas yang berangkat dari dunia pesantren, memperoleh kematangan dengan memimpin sebuah organisasi masyarakat terbesar di Tanah Air, menghadapi penghadangan dari rezim yang berkuasa dan otoriter. Karismanya tumbuh dan ia menjadi pemimpin kaum nahdiyin yang dalam kemelut pergantian kepemimpinan nasional tahun 1999, dengan determinasi dan kemampuan membaca situasi politik, berhasil menjadi orang pertama di Republik Indonesia. Ia semakin dipuja dan diagungkan oleh pengikutnya karena justru dapat memerintah tanpa bergantung pada salah satu pancaindranya. Justru kemunduran kesehatannya tidak membuatnya terganggu beraktivitas dan menjalankan tugas kenegaraan. Setelah sakit, kehilangan penglihatan dan berada di kursi roda, ia malah naik pangkat menjadi setengah dewa.

Bagaimana proses ini terbentuk? Melalui sejarah lisan yang disampaikan secara bersambung dari orang-orang di sekitarnya, Muslim Abdurrachman menceritakan pengalamannya bersama Abdurrahman Wahid mengikuti Kongres Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial bertema Manusia dalam pembangunan, di Palembang pada 1984. Pada Jumat siang Gus Dur bersama dengan beberapa orang peserta termasuk Muslim mencari masjid tempat salat Jumat. Letaknya cukup jauh dari tempat seminar, karena itu mereka terlambat. Ketika mereka datang, ibadah itu sudah selesai. Karena itu, Gus Dur mengajak jalan-jalan saja di pasar di dekat itu. Ketika kembali ke tempat seminar, seorang bertanya kepada Muslim, "Sembahyangnya di mana?" Muslim menjawab, "Saya ikut Gus Dur saja." Orang itu tidak melanjutkan pertanyaannya, dalam pikiran penanya tentu Muslim menjadi makmum, sedangkan Gus Dur menjadi imam dan khatib salat itu. Ternyata mereka cuma jalan-jalan di pasar.

Fachry Ali mengisahkan ketika ia mengambil master di Monash University, Australia, Gus Dur datang bertamu dan menginap di apartemennya di Melbourne. Pada malam hari, istri Fachry bangun untuk membuat susu bagi bayinya. Saat itu televisi masih menyala, padahal semua orang sudah tidur termasuk Gus Dur yang sedang mengorok. Ia bergerak mematikan, namun tiba-tiba terdengar suara Gus Dur, jangan dimatikan, karena filmnya sedang seru. Luar biasa, sambil tidur masih bisa menonton televisi.

Ia dipersepsikan oleh pengikut dan pendukungnya sebagai wali atau manusia setengah dewa. Dalam posisi itu, jelas rasa kemanusiaannya tinggi sekali, lebih dari rata-rata anggota masyarakat pada umumnya. Gus Dur membuka paradigma baru dengan menerobos tembok-tembok pemikiran lama. Ia membuka ruang dialog di antara (umat) agama. Ia ingin setiap orang diperlakukan setara dalam hukum, tanpa membeda-bedakan warna kulit, etnik, agama/ideologinya. Gus Dur menghargai mereka sebagai sesama manusia dan sesama warga negara.

Ia membubarkan Bakorstranas, lembaga ekstra yudisial penerus Kopkamtib yang memiliki kewenangan luas untuk menindas. Ia juga menghapuskan litsus (penelitian khusus) yang selama ini digunakan untuk 'menakuti' pegawai negeri agar tidak bersikap kritis. Gus Dur membuka cakrawala masyarakat agar lebih toleran terhadap ajaran atau paham politik mana pun. Ini ditunjukkannya dengan usulan mencabut Tap MPRS No XXV/1966 yang menyangkut pembubaran PKI (Partai Komunis Indonesia) dan pelarangan penyebaran ajaran Marxisme, Komunisme, dan Leninisme. Tap MPRS itu ternyata selama Orde Baru telah menjadi sandaran dari berbagai peraturan perundangan yang diskriminatif. Penduduk usia di atas 60 tahun di DKI memperoleh KTP seumur hidup. Kebijakan itu diambil agar tidak merepotkan warga lanjut usia. Tetapi bagi mereka yang tersangkut peristiwa G-30-S, ketentuan itu belum berlaku.

Gus Dur ingin membangun Indonesia baru yang damai tanpa prasangka dan bebas dari kebencian. Untuk itu, masa lalu yang kejam, kelam, serta tidak toleran harus diputus. Partisipasi masyarakat mesti dibangun, yang lemah tidak ditinggalkan. Dengan kesetiakawanan yang luas dan menyeluruh itu kita baru bisa membangun Indonesia yang kuat. Untuk itu Gus Dur tidak keberatan untuk meminta maaf kepada korban 1965 yang diserang oleh Banser NU. Meskipun Gus Dur mengatakan bahwa ia juga memiliki kerabat yang terbunuh dalam peristiwa Madiun 1948. Namun, balas dendam itu tidak ada gunanya dilanjutkan. Kita tidak akan mampu mewujudkan rekonsiliasi tanpa menghilangkan stigma atau kecurigaan terhadap suatu kelompok.

Gus Dur juga menghilangkan diskriminasi terhadap etnik Tionghoa dengan Instruksi Presiden (Inpres) No 6/2000 yang dikeluarkan tanggal 17 Januari 2000 untuk mencabut Inpres 14/1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China. Pada masa Orde Baru, orang takut bersembahyang di kelenteng atau melakukan acara budaya Tionghoa lainnya. Namun sejak masa pemerintahan Gus Dur, tahun baru Imlek dijadikan libur fakultatif.

Saya teringat pada malam kesenian yang diadakan Perhimpunan Inti (Indonesia-Tionghoa) pada 17 Agustus 2004 di Graha Sarbini, Jakarta. Atraksi kesenian ditampilkan untuk memeriahkan ulang tahun kemerdekaan. Ketika acara dimulai, muncul Salahuddin Wahid yang waktu itu menjadi calon presiden (berpasangan dengan Wiranto), disusul Hasyim Muzadi yang juga merupakan calon presiden (berduet dengan Megawati). Pertunjukan berlangsung terus. Namun ketika Gus Dur masuk ruangan bersama istrinya, seluruh hadirin yang mayoritas etnik Tionghoa itu tanpa dikomando langsung berdiri dari tempat duduk untuk menyampaikan rasa hormat mereka. Sebelumnya, 10 Maret 2004, Abdurrahman Wahid diberi gelar 'Bapak Tionghoa' di kelenteng Tay Kak Sie Semarang.

Terlepas dari beberapa kekurangannya--karena pada komunitas dewa tidak ada pemerintahan, maka Gus Dur agak lemah dalam manajemen (pemerintahan) --banyak sekali jasanya bagi bangsa ini. Peraturan bagi etnik Tionghoa sudah mengalami kemajuan yang pesat. Yang belum tercapai barangkali adalah gagasannya tentang Indonesia-- "negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia--menjadi mediator perdamaian antara Israel dan Palestina. Sebagai tokoh Islam di tanah Jawa, menurut hemat saya Gus Dur adalah wali kesebelas setelah Syekh Siti Jenar.

Asvi Warman Adam
Ahli Peneliti Utama LIPI
Sumber Media Indonesia 5 Januari 2010
http://www.wahidinstitute.org/Opini/Detail/?id=206/hl=id/Gus_Dur_Manusia_Setengah_Dewa

99 Keistimewaan Gus Dur


Kategori : Buku
Pengarang: KH. A. Nur Alam Bakhtiar
Sambutan : KH. Abdurrahman Wahid
Pengantar : Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA.
Drs. H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si.
Penerbit : Kuktura
Harga : 27.000

Buku ini ditulis oleh KH A. Nur Alam Bakhtir, Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jakarta, seorang Pecinta Gus Dur, buku ini di buat untuk meluruskan kesalahpahaman yang banyak beredar di masyarakat,tentu terutama yang diedarkan para pembenci Gus Dur ( sebagian besar orang2 wahabi ).

Mantan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah sosok luar biasa sehingga banyak atribut yang dialamatkan kepadanya. Ia dikenal sebagai seorang intelektual, budayawan, pekerja sosial, pemimpin, ulama dan lain-lain, kata KH. A. Nur Alam Bakhtir seorang ulama yang menulis buku 99 Keistimewaan Gus Dur. Buku dengan tebal 170 halaman itu ditulis dengan bahasa ringan yang mengupas tentang berbagai misteri Gus Dur yang dihitungnya menjadi 99 keistimewaan.

Prof. Dr. KH. Said Agiel Siradj, MA yang memberikan Kata Pengantar dalam buku tersebut mengatakan popularitas Gus Dur bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan darah biru. Popularitas Gus Dur dibentuk melalui proses panjang, dimana ia pernah berorganisasi dan belajar di Mesir, Irak, serta beberapa negara Eropa. Disejumlah negara tersebut, Gus Dur tekun mempelajari berbagai macam pengetahuan, baik yang lahir dari rahim (tradisi) Islam maupun Barat. Perjalanan panjang pendidikan Gus Dur tersebut tentu memberikan kontribusi dalam mempopulerkan nama besarnya.

Buat yang Pecinta Gus Dur,para pembela Gus Dur,buku ini saya (KH A. Nur Alam Bakhtir) refrensiin untuk anda baca,karena saya yakin banyak diantara kita bingung bagaimana menjelaskan berita2 miring tentang gus dur yang dihembuskan para pembencinya,karena dibuku ini anda daptkan informasi yang sebenar-benarnya tentang gus dur.

Buat yang ragu ataupun membenci gus dur,tiada salahnya untuk dibaca,karena buku ini ga mengandung magic,yang mampu merubah anda menjadi pecinta gus dur(kalo percaya begituan berarti anda termasuk syirik), bisa jadi bahan refrensi anda juga.

Beberapa isi dari buku antara lain: mudah mengenal dan dikenal, banyak berkunjung dan dikunjungi, berani menghadapi tantangan, hapal banyak nomor telepon, mudah ditemu kapan, dimana dan oleh siapapun, mudah diwawancarai wartawan, beberapa pernyatannya tidak mudah diterjemahkan. Kritis terhadap siapa saja, banyak dikunjungi oleh calon-calon pemimpin, banyak sahabat, banyak juga rivalnya, banyak mengorbitkan tokoh, gigih membela kebenaran tanpa kompromi, tingkah lakunya unik dan khas, sense of humor-nya sangat tinggi, berjiwa pluralis, toleran terhadaop semua agama, sangat ditakuti koruptor, berani melambungkan gaji PNS, menjadi Presiden WCRP, visinya jauh ke depan, sangat piawai memilah-milah persoalan, sangat pemaaf terhadap orang yang mencacinya, sangat teguh memegang prinsip kebenaran, memuliakan ulama dan penebar Islam yang telah wafat, keberaniannya di atas rata-rata.

Selain itu, menurut Nur Alam Bakhtir, sangat tajam indera keenamnya, tidak suka berlebihan dalam hal protokoler, mentan pejabat yang tetap populer, tokoh yang dikagumi dan diikuti, banyak menerima penghargaan, Kyai Catur Yang Handal, konsiten dengan konsep persaudaraan, kezuhudannya teruji, inspirator yang mencerdaskan, sabar menghadapi fitnah, tokoh yang mudah diakses, selalu menjadi bintang dalam berbagai forum, mempunyai bargaining position yang tinggi, mata boleh tidak melihat, tapi hati terbelalak.

Gus Dur juga sebagai cendekiawan moralis, tidak terlena oleh pujian, tidak putus asa karena cacian, tulisan dan pidatonya sama-sama menarik, sering diimpikan orang, tokoh idialis yang tetap realistis dan seterusnya sampai 99 keistimewaan.

Rabu, Januari 6

Lagu Kesukaan Gus Dur 2 (Remang-remang)




Selain lagu Al-i’tiraf (Doa abu Nawas), Gus Dur juga senang pada Lagu Remang-Remang. lagu ini merupakan lagu dangdut pantura, atau lebih dikenal dengan sebutan Tarling Pantura. Lagu ini menceritakan tentang kisah perjuangan perempuan yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya yang keras. Kehidupan masyarakat di Pantura, khususnya Indramayu yang keras dengan keadaan sosialnya yang sedemikian rupa menjadi ‘tema’ dari lagu ini.

Berikut adalah lirik dari lagu Remang-Remang :

Remang-remang sinar lampu wayah sore
ganti surute srengenge
Nunggu kakang wis lawas langka kabare
Rasa pegel duh kakang sun ngentenane

Remang-remang sinar lampune madangi
Kadang keton lintang wis ora perduli
Kula seneng waktu deweke njanjeni
Wong ganteng aja gawe lara ati

Jare lunga bli suwe
Lawas olih sewengi
Kula percaya bae
Nyatane kakang bohongi

Angel jaman saiki
Luruh lanang sejati
Sing mung ana siji
Kang siji wis duwe rabi

Remang-remang sepanjang jalan pantura
Gadis manis pada midang pinggir dalan
Jare seneng bisa bantui wong tua
Kadang nangis urip mengkenen sampai kapan

Download lagu Remang-remang (Tarling Pantura)

Lagu Kesukaan Gus Dur [Al-i’tiraf (Doa abu Nawas) - Ilahi lastu lil Firdaus]

Bangsa Indonesia kembali berduka di penghujung tahun 2009 dengan gugurnya salah satu Guru Bangsa yang telah mengabdikan jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia tercinta. Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah KH. Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa dengan Gus Dur. Berpulangnya Gus Dur ke Rahmatullah meninggalkan duka yang mendalam bagi banyak orang, tidak hanya keluarga, teman dan sahabatnya, namun kaum nahdiyin dan bahkan saudara lintas agamapun juga turut berduka. Karena jasa beliau untuk kerukunan umat beragama di Indonesia dan Internasional tidak dapat diragukan lagi.

Namun sepeninggalannya Gus Dur, diketahui bahwa kehidupan Gus Dur sangat erat sekali dengan yang namanya seni dan budaya terbukti dengan ditayangkannya lagu Al-i’tiraf (Doa abu Nawas)yang dinyayikan Gus Dur di TV. Berikut adalah lirik lagu tersebut:


Ilahi lastu lilfirdausi ahla, walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi
Fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainaka ghafirudz- dzanbil ‘adzimi….

Duh Gusti… tidak layak aku masuk ke dalam sorga-Mu
tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka kami mohon taubat dan mohon ampun atas dosaku
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa….


Silahkan download disini: Al-i’tiraf

DOWNLOAD juga:

Munajat - Gus Dur


Sholawat Badr - Gus Dur

Gugur Bunga by Lianto Tjahjoputro untuk Gus Dur

Gugur Bunga (dengan lirik)

Sebuah Pengakuan by Lianto Tjahjoputro untuk Gus Dur


Puisi Ketua Matakin untuk Gus Dur

Tausiyah Gus Dur

Terima Kasih by Jamrud (Gus Dur Version)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More