Briefing Kelas Inspirasi Malang
"Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka."
Kami Orang Desa Yang Tak Punya nasionalisme
Kalau seorang pejabat disebut orang yang paling mengerti apa itu nasionalisme, maka – sekali lagi kami belum punya hal itu. Kalian tahu, arti kata oposisi dan koalisi saja kami tidak paham, yang kami paham cuma istilah saling menasehati dan saling tolong, itu saja.
Selasa, Oktober 17
4 Pilar Pendidikan UNESCO
Makna Keterampilan How To Think, How To Learn, dan How To Create dalam Pendidikan
Selasa, Oktober 14
Peran dan Fungsi Akademi Komunitas (AK)
Akademi komunitas (AK) sendiri merupakan bentuk pengembangan dari program yang telah ada sebelumnya yaitu community collage (CC) yang pada tahun 2000-2010 terdapat di 105 SMK, Universitas dan Poltek. CC kemudian mengalami transformasi program menjadi Pendidikan Vokasi Berkelanjutan (PVB) pada tahun 2010-2012 yang berada di 42 Perguruan Tinggi dengan 300 sub kampus (SMK dan Industri) berpola PJJ. Di tahun 2012, barulah nama AK dimunculkan dengan model penyelenggaraannya yang dilaksanakan di daerah (kabupaten/kota) dengan maksud agar biaya pendidikan tinggi dapat ditekan karena peserta didik tidak harus pergi terlalu jauh.
Posisi AK menjadi sangat strategis karena berdasarkan amanat UU No. 12 Tahun 2012, AK merupakan pendidikan vokasi yang diperuntukkan bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat untuk mengembangkan keterampilan dan penalaran dalam penerapan Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi. AK merupakan bagian proses peningkatan pertmubuhan ekonomi bangsa melalui peningkatan tenaga terampil yang mampu menggerakkan roda perekonomian wilayah. Adapun indikator kinerja AK diantaranya: jumlah tenaga terampil yang disediakan dan terserap di industri dan mandiri, jumlah penghasil produk barang dan jasa, dan jumlah kerjasama dengan para pengguna dan industri.
Pada tahun 2012 berdasarkan Kepmendikbud No. 161/P/2012 telah ditetapkan 20 AK dalam bentuk PDD (Prodi Di luar Domisili) dari 12 Perguruan Tinggi (PT) penyelenggara. Salah satu PT yang menjadi penyelenggara adalah Politeknik Negeri Malang yang menyelenggarakan PDD di Kabupaten Bojonegoro dan Kota Blitar. Program studi yang dibuka di Kabupaten Bojonegoro adalah 3 prodi, yaitu komputer akutansi, teknik informatika dan teknik otomotif, sedangkan di Kota Blitar juga terdapat 3 prodi yaitu teknologi informasi, multimedia dan administrasi perkantoran.
Sebagai sebuah program pendidikan yang baru, AK seharusnya memperhatikan tuntutan pasar (market driven) dimana segala bentuk pendidikan harus berorientasi pada keterbutuhan keterampilan di lapangan. Hal ini bersentuhan langsung dengan pengelolaan pembelajaran di AK. Proses pembelajaran menjadi konsen utama karena sesuai dengan jalurnya, AK harus mampu memberikan sajian pembelajaran dengan porsentase 60%-70% teori dan 30%-40% praktek.
Kamis, Oktober 2
Manajemen Mutu Laboratorium Pendidikan Kejuruan
Pada SMM, hal yang dilakukan untuk menerapkan standarisasi adalah analisa, proses kerja spesifik dan prosedur untuk penerapannya. Selanjutnya, laboratorium harus menentukan tanggung jawab dan hubungan pelaporan dari semua orang yang terlibat dalam layanan baru. Kemudian, perlu untuk mengidentifikasi pelanggan potensial dan menentukan kebutuhan dan harapan mereka untuk layanan baru. Selanjutnya, rekam data meliputi fasilitas yang memadai, orang, peralatan, dan bahan. Semua yang berhubungan dengan lagkah tersebut perlu dikembangkan, divalidas, dan didokumentasikan. Staf perlu dilatih dan kompetensi awal mereka dinilai. Laboratorium perlu untuk menentukan cara-cara yang hasil pasien dan laporan akan dikelola untuk layanan baru. Ada perlu menentukan alat laboratorium untuk menangkap pengaduan dan ketidaksesuaian untuk layanan baru. Laboratorium perlu untuk menentukan bagaimana akan mengukur kinerjanya untuk menentukan apakah tujuan, sasaran, dan harapan pelanggan sedang bertemu untuk layanan baru. Laboratorium perlu untuk menentukan cara-cara yang kualitas laporan akan disiapkan secara berkala untuk layanan baru. Terakhir, laboratorium perlu untuk menentukan bagaimana manajemen akan meninjau dan mengidentifikasi peluang untuk perbaikan proses dan memprioritaskan dan memulai kegiatan perbaikan. Jika kesemuanya sudah terpenuhi dan terlewati, maka pengujian layanan baru yang sudah terstandarisasi bisa dimulai.
Salah satu cara untuk menggambarkan ini urutan kejadian penting manajerial adalah dengan sedikit memodifikasi model SMM, dimana standar mutu terbagi menjadi tiga kelompok: (1) laboratorium, (2) bekerja, dan (3) pengukuran. Laboratorium terdiri dari komponen struktur organisasi yang jelas, fasilitas dan perlengkapan keselamatan, personil, peralatan, pembelian dan persediaan. Pada kelompok bekerja –eksekusi- terdapat komponen proses kontrol, pembuatan catatan dan pendokumentasian administrasi dan kegiatan serta manajemen informasi dalam pengolahan data masukan. Sedangkan penilaian keberhasilannya dilihat dari manajemen kejadian, audit internal dan eksternal, pelayanan pelanggan dan proses peningkatan mutu. Jantung SMM laboratorium adalah kebijakan, proses, prosedur dan dokumen sehingga segala kegiatan yang dilakukan harus terekam dengan baik.
Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknik dan Kejuruan (Vocational dan Technical Education)
Curriculum Development in Vocational and Technical Education
Kurikulum merupakan berbagai pengalaman siswa di lingkungan sekolah, instruksi berfokus pada penyampaian pengalaman-pengalaman. Lebih khusus, instruksi dapat dianggap sebagai interaksi yang direncanakan antara instruktur dan siswa yang (semoga) menghasilkan pembelajaran yang diinginkan. Sebuah deskripsi singkat dari pengembangan kurikulum dan pengembangan instruksional harus membantu dalam mengklarifikasi perbedaan-perbedaan pendapat. Pengembangan kurikulum berfokus terutama pada konten dan bidang yang terkait yang meliputi makro atau kegiatan berbasis luas yang berdampak pada program yang luas, kursus, dan pengalaman siswa. Bahkan, kurikulum harus mendefinisikan misi institusi dan tujuan. Kegiatan kurikulum biasanya dilakukan sebelum dan pada tingkat lebih tinggi dari pengembangan instruksional. Sebaliknya, pengembangan instruksional lebih merupakan kegiatan mikro yang dibangun pada pengembangan kurikulum melalui perencanaan dan persiapan pengalaman belajar tertentu dalam program.
A. KARAKTERISTIK KURIKULUM KEJURUAN DAN TEKNIK
Meskipun pendidikan kejuruan dan teknik termasuk dalam keseluruhan kerangka pendidikan, kurikulum kejuruan dan teknik memiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dari pendidikan lainnya. Pembeda kurikulum pendidikan kejuruan dengan pendidikan lainnya dilihat dari:
- Orientasi: Kurikulum kejuruan dan teknik berorientasi pada proses (pengalaman dan aktifitas dalam lingkungan sekolah) dan produk (hasil dari proses pengalaman dan aktifitas siswa).
- Justifikasi: Kurikulum kejuruan dan teknik dibuat dan dikembangkan berdasarkan identifikasi kebutuhan kerja dan sumber daya yang tersedia di daerah tertentu.
- Fokus: Tidak seperti kurikulum pendidikan lainnya, kurikulum pendidikan kejuruan diidentifikasikan menurut kebutuhan di daerah tertentu. Lebih ditekankan kepada kebutuhan pencarian tenaga kerja di daerah tersebut, atau lapangan pekerjaan yang sedang dibutuhkan. Dan diharapkan mendapatkan pekerjaan setelah lulus dan mengisi kekosongan lapangan pekerjaan.
- Standar keberhasilan di sekolah: Pelajar akan diberi tugas dan kegiatan oleh instruktur dalam pembelajarannya yang akan berguna untuk dunia kerja.
- Standar keberhasilan setelah sekolah: Selain dinilai berhasil dalam melanjutkan ke jenjang sekolah lebih tinggi, mantan siswa SMK harus menunjukkan keberhasilan mereka dalam dunia kerja. Karena lulusan SMK sudah mendapatkan pembelajaran lebih mendalam pada suatu kompetensi keahlian daripada lulusan dari sekolah umum.
- Responsif: Setiap perkembangan baru dalam berbagai bidang harus dimasukkan ke kurikulum sehingga lulusan SMK dapat bersaing dalam pekerjaan dan mereka akan mendapat nilai tambah karena sudah pernah magang.
- Logistik: Menyatukan fasilitas yang ada dalam satu inventaris yang di atur penataan dan perawatannya. Menyediakan laboratorium untuk penempatan inventaris dan pelatihan.
- Biaya: Biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan kejuruan lebih besar daripada pendidikan lain. Beban biaya tergantung dari pembelian, perawatan, pemeliharaan, penggantian peralatan, dll.
B. SISTEM TERPADU KURIKULUM PENDIDIKAN KEJURUAN
Fokus utama dari Sistem Terpadu bagi Kurikulum Pendidikan Kejuruan adalah pengelompokan isi kurikulum inti yaitu, teknis dan aplikasi, dan pengelompokan isi kurikulum khusus yaitu, teknis dan aplikasi. Kinerja Berbasis Desain Instruksional. Sistem meliputi tujuh komponen, yang masing-masing memberikan kontribusi terhadap perkembangan instruksi bermakna. Satu output komponen menjadi masukan untuk komponen berikutnya, dengan demikian manfaat kumulatif berasal yang mengambil bentuk peningkatan kemampuan peserta didik.
Model Kurikulum Tematik menekankan penciptaan kurikulum yang mempertemukan pengalaman belajar seputar tema mencakup dan domi¬nan. Dalam desain kurikulum ini, "semua aspek" dapat berfungsi sebagai strategi yang berguna untuk memastikan bahwa tema termasuk pengalaman belajar dalam berbagai industri dan bidang, kekhawatiran, masalah, dan pengetahuan dan keterampilan teknologi.
C. STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Keputusan dibagi menjadi 2 macam yaitu keputusan kebijakan dan keputusan operasional. Keputusan kebijakan terdiri dari penetapan saran, tujuan pendidikan, perumusan berbagai prosedur dan berbagai strategi pelaksanaan pendidikan. Sedangkan keputusan operasional berupa keputusan yang tertuang dalam administrasi supervisi, evaluasi, pengembangan kurikulum, penerapan kurikulum dan administrasi evaluasi kurikulum.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputu-san tingkat satuan pendidikan antara lain:
- Sekolah mengacu kepada kebijakan-kebijakan nasional, provinsi, dan kota/kabupaten.
- Merumuskan kebijakan-kebijakan tambahan yang berkaitan dengan ciri khas daerah dengan cacatan tidak bertentangan dengan kebijakan nasional.
- Dalam penetapan kebijakan secara yuridis, sekolah dapat memilih dan menetapkan sendiri pengembangan kurikulum, seperti kurikulum muatan local dan dapat pula bekerja sama dengan dunia usaha/industri (DU/DI).
D. PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN KEJURUAN MODERN DAN TEKNIK PROGRAM PENDIDIKAN
- Standarisasi Test: Salah satu pendekatan untuk menilai minat kerja dari sekelompok besar siswa adalah menyamakan standar tes yang digunakan. Hal ini sangat membantu jika beberapa tingkatan kelas yang berbeda yang akan diamati. Tes tersebut juga dapat digunakan untuk alat yang efektif dalam perencanaan kurikulum.
- Standart Test Bakat: Tes bakat didapatkan dari kemampuan siswa untuk belajar dari buku atau tugas-tugas yang diperlukan di sekolah. Beberapa tes bakat yang dapat diberikan adalah tes kematangan mental, tes kemampuan mental, dan tes kecerdasan.
- Standar Tes Prestasi: Tes prestasi mengukur hasil belajar siswa dalam suatu sekolah, sedangkan tes bakat lebih banyak digunakan untuk memprediksi kinerja siswa untuk kedepannya.
Kamis, Januari 20
Perangkat Keras Proses
Alat pemroses yaitu alat dimana instruksi-instruksi program diproses untuk mengolah data yang sudah dimasukkan lewat alat input dan hasilnya akan ditampilkan pada alat output. Secara umum alat proses terangkum dalam Central Processing Unit atau CPU.
a. Motherboard
Motherboard adalah sebuah alat berupa papan elektronik yang di dalamnya terdapat banyak sekali transistor, konduktor, resistor, dan alat-alat elektronik lainnya, tentu saja dengan ukuran yang kecil-kecil. Alat ini menjadi penghubung dan penerjemah alat-alat komputer yang ada, dari mulai alat input, proses, storage, sampai dengan output.
Motherboard merupakan tempat berlalu lalangnya data. Motherboard menghubungkan semua peralatan komputer dan membuatnya bekerja sama sehingga komputer berjalan dengan lancar.
Motherboard atau papan induk merupakan perangkat yang paling utama terdapat pada susunan komputer, ini dikarenakan sebagai tempat bergantungnya semua komponen dalam
komputer. Komponen-komponen yang ada didalamnya seperti microprocessor, chipset, memori, basic input-output system (bios), expansion slots (untuk hard disk, cdrom, video vard, dan lainnya), serta sirkuit-sirkuit yang terkoneksi di dalamnya.
b. Processor
Alat ini merupakan alat yang paling penting. Letaknya di dalam casing dan menempel di atas motherboard. Otak komputer ini akan memproses data yang dimasukkan sesuai dengan instruksi yang diminta, kemudian akan menampilkannya ke dalam alat output. Processor sering disebut juga dengan Central Processing Unit (CPU). Alat inilah yang akan menjalankan perintah. Keberadaan processor ini menentukan tingkat kecepatan sebuah komputer dalam mengolah data.
Processor dibuat dengan teknologi silikon. Isi dari processor adalah chip, transistor, dan komponen elektronik lainnya yang jumlahnya mencapai jutaan. Tugas processor adalah mengontrol sistem, menentukan saat pengiriman data terjadi, menjalankan operasi aritmatik, dan melakukan operasi logika.
Processor yang beredar di masyarakat dalam perkembangannya ada 3 jenis. Yaitu processor 16 bit, 32 bit dan yang paling baru 64 bit. Komputer personal yang beredar saat buku ini disusun ada yang 32 bit seperti Intel Pentium, dan 64 bit seperti Intel Xeon. Kecepatan proses komputer ditentukan oleh seberapa cepat processor dalam menjalankan instruksi-instruksi yang diterima.
c. Random Access Memory
Random Access Memory sering disebut juga dengan RAM. Alat ini terletak di atas motherboard. RAM merupakan salah satu jenis memori internal yang menentukan kemampuan sebuah komputer. Memori internal (Internal Memory) bisa disebut juga memori utama (main memory) dan memori primer (primary memory). Komponen ini berfungsi sebagai pengingat data atau program.
d. Read Only Memory
Read Only Memory sering disebut juga dengan ROM. Alat ini digunakan untuk medium penyimpanan data pada komputer. ROM memiliki sifat permanen, artinya program / data yang disimpan di dalam ROM ini tidak mudah hilang atau berubah walau aliran listrik dimatikan.
Menyimpan data pada ROM tidak dapat dilakukan dengan mudah, namun membaca data dari ROM dapat dilakukan dengan mudah. Biasanya program / data yang ada dalam ROM ini diisi oleh pabrik yang membuatnya. Oleh karena itu, ROM biasa digunakan untuk menyimpan firmware yaitu piranti lunak yang berhubungan erat dengan piranti keras.
e. Video Graphics Adaptor
Video Graphics Adaptor sering disebut juga dengan VGA. Yaitu bagian dari perangkat keras yang berfungsi mengolah tampilan atau output pada layar monitor. VGA card atau kartu vga terletak pada motherboard. Alat ini pertama kali diciptakan oleh IBM pada tahun 1987.
Ada dua jenis kartu vga yaitu vga onboard dan vga non onboard. Yang dimaksud dengan vga onboard adalah kartu vga yang diintegrasikan langsung pada komponen motherboard. Secara fisik hanya dapat dilihat pada port untuk monitornya saja. Sedangkan vga non onboard adalah kartu vga yang penempatannya pada slot tersendiri yakni slot AGP atau PCI Express. Vga non onboard dapat dengan mudah diganti-ganti dengan kartu vga yang lain.
f. Modem
Modulator demodulator sering disebut dengan modem. Yaitu bagian dari hardware yang memproses sinyal analog menjadi digital atau sebaliknya memproses data digital menjadi sinyal analog. Modem digunakan untuk melakukan koneksi internet. Dilihat dari penempatannya, ada dua jenis modem yaitu modem internal dan modem eksternal.
g. Sound Card
Sound card yaitu komponen pada komputer yang berfungsi sebagai pengolah suara. Data suara diproses oleh kartu suara ini kemudian outputnya dapat didengar melalui speaker. Secara umum sound card sudah ada pada motherboard. Tetapi untuk pengolah suara secara professional biasanya menggunakan sound card tidak onboard yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan.
Kualitas suara yang dihasilkan akan sangat bergantung pada kualitas soundcard sebagai alat yang memproses. Namun demikian, kualitas speaker pun turut berperan juga sebagai alat keluaran atau output. Bagian-bagian pada sound card yang perlu kalian kenal adalah line in, line out, mic, dan speaker.
.
h. Power Supply
Power supply yaitu komponen dalam cpu yang berfungsi mengalirkan arus listrik ke setiap perangkat cpu. Perangkat yang dihubungkan langsung oleh power supply contohnya adalah hard disk, floppy drive, cd/DVD ROM, dan motherboard itu sendiri.
Arus listrik PLN diproses oleh power supply kemudian tegangannya diperkecil baru dialirkan ke komponen-komponen cpu. Perlu hati-hati dalam menangani power supply. Sebaiknya matikan arus listrik jika kamu ingin membongkar cpu. Pada gambar power supply ini dapat dilihat kabel yang berwarna merah, hitam dan kuning. Kabel-kabel inilah yang akan dihubungkan dengan perangkat atau komponen-komponen dalam cpu.
i. Floppy Drive
Floppy drive adalah komponen pada cpu yang berfungsi sebagai media pembaca disket. Floppy drive ada dua macam sesuai ukuran disket yakni 3,5 inchi dan 5,25 inchi. Namun saat ini ukuran floppy yang paling umum adalah 3,5 inchi.
j. CDrom/DVDrom
CD ROM atau DVD ROM yaitu perangkat keras yang digunakan untuk membaca CD atau DVD. Ada beberapa jenis pada perangkat ini yaitu CD ROM, CD Writer, CD ROM Combo, dan DVD Writer. Hal ini disesuaikan dengan produk keping cd/DVD yang ada dipasaran.
Minggu, Januari 16
MEDIA “CUTTER” dan “GERGAJI MESIN” dalam PEMBELAJARAN
Kegiatan pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas komponen-komponen yang saling berkaitan dan bersinergi satu dengan yang lainnya. Komponen-komponen penyusun sistem pembelajaran antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran –yang di dalamnya termasuk penggunaan metode pembelajaran, alat dan sumber pembelajaran serta penilaian hasil belajar (evaluasi)- atau jika dikaji menurut Bobbi DePorter, maka dapat dikelompokkan menjadi 2 aspek dasar yaitu Konteks dan Isi. (Akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya).Seorang Guru bertanya kepada saya, “Mas lebih baik mana antara Cutter dengan Gergaji Mesin?”. Sayapun berpikir sejenak kemudian menjawab, “Ya sesuai dengan fungsinya pak, semuanya punya kelebihan dan juga kekurangan”. Sang guru tersebut pun langsung menganggukkan kepalanya, tertanda beliau setuju dengan saya.
Dari berbagai macam komponen penyusun sistem pembelajaran, terdapat minimal dua unsur yang amat penting dalam proses belajar mengajar, yaitu metode dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas, dan respon yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah pengajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Mengingat kedudukannya dalam konteks pembelajaran, media sebagai bagian integral pembelajaran, komponen in perlu mendapat perhatian serius dari para guru. Sehingga tak heran jika banyak sekali seminar-seminar dan workshop yang membahas tentang pemanfaatan berbagai media untuk pembelajaran. Dan tak tanggung-tanggung, panitia penyelenggara kegiatan pun tidak lagi hanya berasal dari kalangan instansi pendidikan, namun telah merambah ke instansi atau organisasi lain yang tentunya tidak bersinggungan langsung dengan pendidikan. Hal ini dapat menjadi catatan tersendiri dengan adanya trend positif mengenai tanggapan masyarakat tentang pentingnya revolusi pendidikan dan pemanfaatan media pembelajaran pada khususnya.
Berkenaan dengan perkembangan dan percepatan arus teknologi informasi yang sangat cepat, tentunya telah memberikan dampak yang tidak sedikit dalam kehidupan sehari-hari. Baik dampak positif maupun negatif, sesuai dengan penggunaan dan pemanfaatannya. Namun yang perlu digaris bawahi, bahwa dengan semakin merebaknya akses informasi di segala bidang, memberikan konstribusi positif terhadap lahirnya ilmu-ilmu atau teori-teori baru yang biasanya diikuti dengaan munculnya teknologi baru.
Dalam bidang pendidikan, hal tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi praktisi-praktisi pendidikan terutama guru sebagai orang yang bersentuhan langsung dengan peserta didik. Guru dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan proses pembelajaran agar partisipasi siswa dan kualitas hasil belajar siswa meningkat. Tentunya dengan memberdayakan secara optimal segala macam sumber daya belajar yang ada, termasuk teknologi pembelajaran dan media pembelajaran.
Menjadi suatu bahan diskusi yang menarik jika melihat keanekaragaman dan bervarietasnya media pembelajaran saat ini, mulai dari media yang bersifat konvensional sampai media yang berbasis mobile. Entah disadari atau tidak, banyak praktisi pendidikan yang menanggapi fenomena merebaknya akses informasi ini dengan gagap, sehingga menganggap bahwa setiap yang berbasiskan komputer akan memberikan konstribusi yang lebih besar dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Mereka berpikir bahwa jika pembelajaran tidak diarahkan pada pemanfaatan komputer, maka siswa dapat tertinggal arus globalisasi.
Dari sinilah diskusi ini dimulai, seorang guru menjelaskan bahwa untuk memotong kertas, gunakanlah cutter, jangan pakai gergaji mesin, potong sih potong, tapi sobek tak beraturan pastinya. Sedangkan untuk memotong kayu, gunakanlah gergaji mesin, jangan pakai cutter, bisa sih bisa, berhari-hari dan berbulan-bulan sih iya. Nah, jika hal ini kita copy paste kan dalam dunia pendidikan dan dihubungkan dengan masalah penggunaan dan pemanfaatan media dalam pembelajaran, maka pembahasannya juga tak akan jauh beda, 11-12 katanya anak muda jaman sekarang.
Guru harus cermat dalam memilih media yang cocok dalam sebuah proses pembelajaran. Karena pada dasarnya media berfungsi sebagai perangsang minat dan motivasi siswa terhadap pelajaran yang sedang diajarkan.
*maaf, karena ada masalah non teknis, maka tulisan ini bersambung.
mohon maklum adanya
Rabu, Maret 3
Materi Bisection (Metode Numerik)
download materi
Jumat, Februari 26
PROGRAM PENDIDIKAN AKADEMIK, PROFESI, DAN VOKASI
Berdasarkan rujukan tersebut, berikut gambaran ringkas tentang ketiga jenis progam pendidikan tersebut.
1. Pendidikan Akademik
Pendidikan akademik adalah sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tertentu, yang mencakup program pendidikan sarjana, magister, dan doktor. Lulusannya mendapatkan gelar akademik sarjana, magister, dan doktor.
Sebagai contoh, lulusan pendidikan akademik sarjana ekonomi bergelar S.E., sarjana kedokteran mendapat gelar S.Med., sarjana teknik mendapat gelar S.T., dan sarjana pendidikan bergelar S.Pd.; demikian juga gelar magisternya sesuai dengan bidang atau rumpun ilmu; sedangkan gelar pendidikan doktor sama, yakni Dr.
Lazimnya, pendidikan sarjana diarahkan untuk penerapan ilmu, pendidikan magister diarahkan untuk pengembangan ilmu, dan pendidikan doktor diarahkan untuk penemuan ilmu.
2. Pendidikan Profesi
Pendidikan profesi adalah sistem pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang menyiapkan peserta didik untuk menguasai keahlian khusus. Lulusan pendidikan profesi mendapatkan gelar profesi.
Sebagai contoh, setelah bergelar S.E, seseorang menempuh pendidikan profesi Akuntan, maka dia bergelar S.E. Ak; setelah bergelar S.Med., seseorang menempuh pendidikan profesi dokter, maka dia mendapat gelar dr. (dokter) dan seorang yang telah begelar profesi dokter (umum) melanjutkan ke program pendidikan spesialis (PPDS), dia mendapat gelar spesialis tententu, misalnya, dr. Sp.M (spesialis Mata), dr. Sp.A (spesialis Anak), dr. SpKJ (spesialis Kesehatan Jiwa), dsb.
3. Pendidikan Vokasi
Pendidikan vokasi adalah sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu, yang mencakup program pendidikan diploma I, diploma II, diploma III, dan diploma IV. Lulusan pendidikan vokasi mendapatkan gelar vokasi, misalnya A.Ma (Ahli Madya), A.Md (Ahli Madya).
PENDIDIKAN PROFESI GURU
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana, atau program diploma empat. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah.
Pendidikan Profesi Guru ditempuh melalui Sertifikasi Guru dalam Jabatan (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor18 Tahun 2007); dan Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2009).
1. Sertifikasi Guru dalam Jabatan
Sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dalam jabatan. Sertifikasi tersebut dapat diikuti oleh guru yang telah memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV). Sertifikasi tersebut diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.
Untuk memperoleh sertifkat pendidik, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi. Uji kompetensi dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio, yakni penilaian sekumpulan dokumen yang mendeskripsikan: (a) kualifikasi akademik, (b) pendidikan dan pelatihan; (c) pengalaman mengajar; (d) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; (e) penilaian dari atasan dan pengawas; (f) prestasi akademik; (g) karya pengembangan profesi; (h) keikutsertaan dalam forum ilmiah; (i) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; dan (j) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.
Guru yang lulus penilaian portofolio mendapatkan sertifikan pendidik, sedangkan yang tidak lulus penilaian portofolio dapat (a) melakukan kegiatan yang dapat melengkapi portofolio agar mencapai nilai lulus, atau (b) mengikuti pendidikan dan pelatihan profesi guru (PLPG) yang diakhiri dengan ujian.
Ujian PLPG mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Guru dalam jabatan yang lulus PLPG mendapat sertifikat pendidik.
Menteri Pendidikan Nasional menetapkan jumlah dan kuota peserta sertifikasi bagi guru dalam jabatan setiap tahun.
2. Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan
Pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan yang selanjutnya disebut dengan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S1 Kependidikan dan S1/D IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik profesional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Program PPG diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.
Seleksi penerimaan peserta didik program PPG dilakukan oleh program studi/jurusan di bawah koordinasi LPTK penyelenggara. Hasil seleksi dilaporkan oleh LPTK penyelenggara kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Kuota jumlah penerimaan peserta didik secara nasional ditetapkan Menteri Pendidikan Nasional.
Lulusan S1 Kependidikan dan S1/D IV Non Kependidikan yang tidak sesuai dengan program PPG yang akan diikuti, harus mengikuti program matrikulasi.
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU YANG DISELENGGARAKAN UM
1. Sertifikasi Guru dalam Jabatan
Sejak tahun 2007 s.d. tahun 2009 ini, UM telah menyelenggarakan sertifikasi guru dalam jabatan. Secara operasional, sertifikasi guru itu diitangani oleh Panitia Sertifikasi Guru Rayon 15 UM yang berkantor di Gedung Sasana Budaya UM. Kegiatan yang diselenggarakan adalah penilaian portofolio para guru dan PLPG bagi guru yang belum lulus penilaian portofolio.
2. Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan
Pada tahun 2009 ini, UM beserta LPTK lain di Indonesia sedang menyusun proposal penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru (Program PPG). Sejumlah program studi yang mengajukan proposal telah divisitasi dan proposalnya telah direview pada bulan September 2009. Sampai dengan tulisan ini dibuat (20 Oktober 2009), hasil review itu belum diumumkan.
APA YANG PERLU DILAKUKAN MAHASISWA UM YANG INGIN IKUT PPG?
Program PPG diperuntukkan bagi LULUSAN sarjana kependidikan dan nonkependidikan yang memiliki bakat, minat, dan potensi untuk menjadi guru. Penyelenggara Program PPG adalah Lembaga Tenaga Kependidikan (LPTK) yang memenuhi syarat. Jumlah dan kuota ditentukan oleh Menteri Pendidikan Nasional.
Atas dasar itu, para mahasiswa yang saat ini belum lulus, tentu belum bisa ikut Program PPG ini. Artinya, bila ingin ikut Program PPG, harus lulus dulu. Lulusan S1 kependidikan yang linear dengan program PPG yang akan diikuti, langsung mengikuti “kurikulum” yang ditentukan sebesar 36—40 sks; sedangkan lulusan S1 kependidikan yang tidak “linear” atau S1/DIV nonkependidikan harus mengikuti matrikulasi lebih dahulu.
Source: http://berkarya.um.ac.id/2009/10/program-pendidikan-profesi-guru-selayang-pandang/
Senin, Februari 22
Moodle sebagai Virtual Learning Environment
Moodle adalah sebuah nama untuk sebuah program aplikasi yang dapat merubah sebuah media pembelajaran kedalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk kedalam “ruang kelas” digital untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan menggunakan Moodle, kita dapat membuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan lain-lain. Moodle itu sendiri adalah singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment. Moodle merupakan sebuah aplikasi Course Management System (CMS) yang gratis dapat di-download, digunakan ataupun dimodifikasi oleh siapa saja dengan lisensi secara GNU (General Public License). Aplikasi Moodle dapat didownload di alamat http://www.moodle.org. yang dikembangkan oleh Martin Dougiamas.
Beberapa keunggulan dan yang kita dapatkan dari membangun e-learning dengan menggunakan Moodle:
- Sederhana, efisien, ringan dan kompatibel dengan banyak browser.
- Mudah cara instalasinya serta mendukung banyak bahasa, termasuk Indonesia.
- Tersedianya manajemen situs untuk pengaturan situs keseluruhan, mengubah theme, menambah module, dan sebagainya.
- Tersedianya manajemen pengguna.
- Manajemen kursus, penambahan jenis kursus, pengurangan, atau pengubahan kursus.
- Modul Chat, modul pemilihan (polling), modul forum, modul untuk jurnal, modul untuk kuis, modul untuk survai dan workshop, dan masih banyak lainnya.
- Free dan open source software. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dengan IGOS-nya, Moodle bersifat free dan open source. Oleh karena itu, Moodle sesuai digunakan di lingkungan pendidikan. Di samping itu, Moodle bisa dimodifikasi dan disesuaikan dengan kultur yang ada di Indonesia.
BEASISWA SANTRI BERPRESTASI 2010
PESERTA PROGRAM BEASISWA SANTRI BERPRESTASI (PBSB)
KEMENTERIAN AGAMA RI TAHUN 2010
Kebijakan pembangunan pendidikan mencakup tiga aspek yaitu: perluasan akses, peningkatan mutu, dan tata kelola. Perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan Islam mengisyaratkan keseriusan Kementerian Agama RI dalam meningkatkan angka partisipasi masyarakat di dunia pendidikan. Dalam rangka meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi santri berprestasi dan meningkatkan kualitas pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. bermaksud menjaring santri terbaik di kelas III pada Madrasah Aliyah (MA) atau yang sederajat di pondok pesantren untuk mengikuti program pendidikan tinggi melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB).
PERSYARATAN SELEKSI
a. Tercatat sebagai siswa/i kelas III Madrasah Aliyah (MA) atau yang sederajat di pondok pesantren.
b. Berstatus sebagai santri aktif yang bermukim dan belajar/nyantri di pondok pesantren sekurang-kurangnya selama 2 (dua) tahun.
c. Sehat jasmani dan rohani.
d. Pada saat mendaftar berumur tidak lebih dari 20 tahun, terhitung tanggal 13 Maret 2010.
e. Memiliki prestasi yang baik selama pendidikan 5 semester berturut-turut dengan nilai minimal 70 (skala 100) untuk tiap mata pelajaran:
Program IPA : Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Bahasa Inggris.
Program IPS : Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Program Bahasa : Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Antropologi, Sastra Indonesia dan Bahasa Asing lain.
Program Keagamaan : Bahasa Arab, Ilmu Hadist, Ilmu Tafsir, Fiqih, Bahasa Inggris.
f. Diajukan oleh Pimpinan Pondok Pesantren santri yang bersangkutan.
WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
Pendaftaran dimulai pada tanggal 5 Februari s/d 5 Maret 2010 di Kantor Wilayah Kementerian Agama masing-masing.
MATERI TEST/SELEKSI
1. Test Bakat Skolastik (TBS)
2. Test Kemampuan Akademik
3. Test Kemampuan Bahasa Inggris
4. Test Kepesantrenan
5. Test Bahasa Arab
WAKTU DAN TEMPAT SELEKSI
Seleksi dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2010 di 29 Kantor Wilayah Kementerian Agama RI.
PEMBIAYAAN
Kementerian Agama RI akan menanggung komponen pembiayaan sebagai berikut:
1. Biaya seleksi.
2. Biaya pendidikan pre-university (matrikulasi/orientasi/bridging program).
3. Biaya pendidikan (SPP dan Sumbangan Dana Pengembangan Akademik (SDPA).
4. Bantuan Biaya hidup (living cost).
PERGURUAN TINGGI MITRA
Peserta yang lulus seleksi akan studi pada perguruan tinggi mitra: Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Mataram, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan IAIN Walisongo Semarang.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Panitia Seleksi Peserta PBSB Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. dengan nomor telepon 021-3811810 atau melalui website http://www.pondokpesantren.net.
Jakarta, 3 Februari 2009
Direktur Jenderal Pedidikan Islam
ttd
Prof. Dr. H. Mohammad Ali, MA
Sabtu, Februari 20
Kuliah Gratis Sampai S3
Kabar gembira ini datang dari Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof Dr H Imam Suprayogo saat menghadiri Peringatan Maulid Nabi dan Haul ke-15 Pondok Pesantren Salaf Terpadu Ar-Risalah yang digelar di Aula Muktamar Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis, (18/2) malam.
“Mahasiswa yang hafal Al-Qur’an akan mendapatkan kuliah gratis hingga S3. Dan jika prestasinya bagus, akan dipromosikan menjadi dosen,” tutur pria kelahiran Trenggalek tersebut saat mengisi acara sambutan-sambutan.
Menurutnya, pendidikan yang baik itu jangan terlalu formal hingga pada akhirnya jadi formalitas semata. Karena itu, mahasiswa perlu didekatkan pada tiga hal; Al-Qur’an, masjid, dan para kiai atau ulama.
Imam terobsesi dengan empat mahasiswa UIN Malang dalam kurun empat kali wisuda. Wisuda pertama, ada mahasiswa jurusan fisika tapi hafal Al-Qur’an 30 juz. Wisuda kedua, mahasiswa yang nilainya semua di atas rata-rata, juga hafal 30 juz. Wisuda ketiga, mahasiswa jurusan matematika, hafal pula 30 juz. Keempat, mahasiswa jurusan ekonomi, juga hafal Al-Qur’an 30 juz. Bahkan, skripsinya memakai bahasa Arab.
Mereka yang hafal Al-Qur’an, terbukti lebih mudah untuk memahami dan mendalami materi pelajaran. Untuk menghafal rumus fisika, matematika, dan lain sebagainya, mereka tak akan mengalami hambatan karena sudah terbiasa dengan Al-Qur’an-nya,” ujar Imam dengan mantab.
Oleh karena itu, Imam bercita-cita mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang jajaran pengurusnya hafal Al-Qur’an atau hafidz-hafidzah.
“Jika para pengurus atau dosennya demikian, saya yakin lulusan UIN Malang akan dapat membawa perubahan besar bagi bangsa ini,” kata Prof. Imam dengan penuh optimisme. Namun ia menyadari, untuk menciptakan iklim seperti itu dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dalam observasinya ke lapangan, bakat-bakat seperti itu umumnya hanya muncul dari pendidikan pesantren.
Sementara itu taushiyah dalam acara Peringatan Maulid Nabi dan Haul ke-15 Pesantren Ar-Risalah disampaikan oleh Habib Tohir bin Abdullah Alkaff.
Pondok Pesantren Ar-Risalah sendiri merupakan salah satu pendidikan yang mampu melahirkan lulusan yang berkelas. Lembaga ini pernah mendapatkan sertifikat ISO pada tahun 2008.
Lulusan pesantren banyak diterima di perguruan tinggi seperti Unair, ITS, ITB, Unibraw, Universitas Islam Malaysia, Universitas Al-Ahgaf, Yaman, dan masih banyak lagi. Pada tahun ini, dua siswanya telah dikirimkan ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan di universitas sana. Siswa juga dibekali dengan tiga bahasa asing, bahasa Jepang, Inggris, dan Arab. (mkh)
Jumat, 19 Februari 2010
Kediri, NU Online
Selasa, Januari 26
Penerapan Pembelajaran Berbasis E-learning

Salah satu aspek positif kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat, adalah perubahan paradigma masyarakat dalam mencari dan memperoleh informasi, tidak hanya terbatas pada media surat kabar, televisi, radio, dan buku, tetapi juga dapat melalui internet. Internet merupakan salah satu media untuk memperoleh sumber informasi yang sangat luas jangkauannya dan “aktual”.
Dunia pendidikan merupakan salah satu bidang yang mendapatkan dampak dari kemajuan teknologi informasi tersebut. Oetomo dan Priyogutomo menyatakan pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik ke peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan meteri pendidikan serta peserta didik itu sendiri. Internet sebagai salah satu sumber belajar telah melahirkan konsep e-learning. E-learning sendiri merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan fasilitas internet sebagai salah satu sarana dan media dalam pendidikan pengajaran.
Namun dalam implementasinya, e-learning mengalami banyak kendala diantaranya kemampuan masyarakat pendidikan menggunakan internet sebagai media pembelajaran masih lemah padahal fasilitas internet di berbagai daerah sudah mencukupi. Salah satu cara mengatasi kendala tersebut adalah menggunakan media blog, dimana media ini cukup mudah dan dapat digunakan dengan pengetahuan internet yang sedikit dan banyak situs yang menyediakan fasilitas gratisan (Budi Sutedjo Dharma Oetomo, 2007). Dengan media blog setidaknya tersedia fasilitas menyimpan materi pembelajaran e-learning yang murah.
Permasalahan yang dihadapi sekarang, fasilitas blog ini tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan pembelajaran. Blog ini dapat digunakan oleh para pendidik untuk mempublikasikan bahan ajarnya melalui internet dan dapat diakses oleh semua orang di dunia, sehingga semua orang akan tahu kapasitas dan kapabilitas akademis seorang dosen atau guru dan bahkan penyempurnaan akan dapat dilakukan setelah menerima kritikan dan koreksian dari orang lain.
SMA Negeri 1 Jombang sudah memiliki fasilitas internet dan komputer yang merupakan faktor utama untuk menerapkan pembelajaran berbasis e-learning, akan tetapi pengetahuan pengajar tentang content blog sebagai salah satu media dalam pembelajaran berbasis e-learning dirasa masih kurang maksimal. Oleh karena itu sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Prodi Pendidikan Teknik Informatika Universitas Negeri Malang dan selaku alumni SMAN 1 Jombang beserta tim melakukan penyuluhan tentang media blog sebagai optimalisasi pembelajaran berbasis e-learning dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Negeri 1 Jombang.
Aplikasi Pembelajaran Geografi (Cellestia)

Cellestia adalah sebuah program yang dikemas secara portabel. Anda dapat melihat alam semesta dalam 3-D di mana saja. Kelebihan ini sama dengan Celestia 3 dimensi, mampu melihat bumi, melihat lebih dari 100 ribu bintang, perjalanan diluar galaksi dan banyak lagi. Selain itu, program ini tidak meninggalkan informasi pribadi apapun di dalam komputer, sehingga Anda dapat menggunakan program ini kemanapun Anda pergi.
Tidak seperti kebanyakan software planetarium, Celestia tidak membatasi anda di permukaan bumi. Anda dapat melakukan perjalanan di seluruh tata surya, ke lebih dari 100.000 bintang, atau bahkan di luar galaksi. Celestia hadir dengan katalog besar meliputi: bintang, galaksi, planet, bulan, asteroit, komet, dan angkasa.
Download: Aplikasi Pembelajaran Geografi (Cellestia)
Aplikasi Pembelajaran Agama Islam (Terjemah al Qur' an)

Terjemah Al-Qur’an merupakan software yang berisi terjemah Al-Qur’an 30 juz dalam ukuran program yang sangat kecil (sekitar 322 KB).
Software ini tidak memerlukan proses instalasi dan bisa langsung digunakan.
Software ini juga menyertakan fasilitas pencarian yang cepat, serta penandaan kata yang akan dicari.
Download: Aplikasi Terjemah Al-Qur’an
Aplikasi Pembelajaran Geografi (Google Earth 5)
Google Earth 5 adalah aplikasi desktop yang kompatibel dengan OS Windows, Mac, ataupun Linux dengan fungsi utama navigasi bumi dari segala sudut berbeda, termasuk fungsi zoom untuk pencarian lokasi yang anda kehendaki.Google Earth yang pencitraannya diambil melalui gambar satelit, dilengkapi dengan konfigurasi peta kewilayahan, permukaan tanah, bangunan 3 dimensi serta pencitraan lainnya. Anda kemudian bisa menyimpan pencitraan yang telah anda cari, untuk kemudian menandainya agar bisa lebih cepat ditemukan di lain waktu.
Fungsi tambahan yang sering digunakan untuk aplikasi ini adalah kita bisa mencari rute jalan terdekat dari satu lokasi ke lokasi lainnya, serta mengukur jarak antar lokasi yang sulit diperkirakan dengan cara manual.
Download: Google Earth 5 (Via Google Updater)
Aplikasi Pembelajaran Kimia

Chemix adalah software untuk belajar kimia. Aplikasi ini dirancang untuk menggambar diagram lab dengan menggunakan peralatan laboratorium yang umum, terutama dalam percobaan kimia dan fisika. Aplikasi ini berupa freeware animasi flash sederhana yang dapat anda downloadnya dengan gratis.
Aplikasi ini juga sesuai untuk presentasi singkat dan media pembelajaran bagi murid. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aplikasi ini anda bisa mengunjungi Situs Resmi Chemix atau juga mengakses Tutorial Aplikasi Chemix.
Download: Aplikasi Chemix for Chemistry
Software Pembuatan Tes Untuk Guru

Tes Guru adalah software yang mudah digunakan untuk pendidikan, pengujian, atau program pelatihan. Software ini memungkinkan seseorang untuk membuat kuis atau ujian sampel untuk menguji pengetahuan kita sendiri. Contoh ujian dapat diciptakan atau di-download dari situs ujian.
Download: Aplikasi Tes Guru
Aplikasi Resep Masakan

ChickenPing 1.24 merupakan sebuah aplikasi yang berfungsi untuk membuat resep masakan. Sebuah organizer untuk membuat, menilai dan berbagi resep favorit Anda dan skala resep untuk porsi banyak atau lebih sedikit.
Download: ChickenPing 1.24
Sabtu, Januari 23
Konsep Kurikulum
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktek pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Pandangan yang muncul sejak zaman Yunani kuna ini, dalam lingkungan tertentu masih dioakai hingga kini, sebagaimana pendapat Robert S. Zais (1976:7), “a recesourse of subject matters to be mastered”. Menurut pendapat ini, kurikulum identik dengan bidang studi.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa kurikulum merupakan pengalaman belajar, pendapat ini dikemukakan antara lain oleh Caswell dan Cambell (1975), “…to be composed of all the experiences children have under the guidance of theachers”. Ronald C Doll (1974:22), menggambarkan kurikulum telah berubah dari kontens belajar (isi) ke proses, dari skop yang sempit kepada yang lebih luas, dari materi ke pengalaman, baik di rumah, sekolah maupun lingkungan masyarakat, bersama guru atau tidak, ada hubungannya dengan pelajaran ataupun tidak, termasuk upaya guru dan fasilitas untuk mendorongnya. Meskipun, pemaknaan kurikulum demikian, mendapat kritik dari Mauritz Johnson (1967:130), menurutnya pengalaman hanya akan terjadi bila siswa berinteraksi dengan ligkungannya, interaksi seperti demikian bukan kurikulum tetapi pengajaran. Menurutnya, kurikulum hanya berkenaan dengan “… a structured series of intended learning outcomes”, hasil yang dicapai dari hasil belajar siswa. Oleh karena itu, perencaan dan pelaksanaan isi, kegiatan belajar mengajar, evaluasi termasuk pengajaran.
Mc Donald (1967:3) memandang kurikulum sebagai rencana pendidikan atau pengajaran, yang terdiri dari empat komponen, yaitu: mengajar (kegiatan professional guru terhadap murid), belajar (kegiatan responsi siswa terhadap guru), pembelajaran (interaksi antara guru murid pada proses belajar mengajar) dan kurikulum (pedoman proses belajar mengajar).
Bauchamp (1968) menekankan kurikulum sebagai rencana pendidikan atau pengajaran. Ia menegaskan bahwa kurikulum adalah dokumen tertulis dan sekaligus merupakan rencana pendidikan yang given di sekolah. Tetapi, kurikulum tidak hanya dinilai dari segi dokumen dan rencana pendidikan, karena ia harus memiliki fungsi operasional kegaiatan belajar mengajar, dan menjadi pedoman bagi pengajar maupun pelajar.
Hilda Taba (1962) berpendapat, kurikulum tidak hanya terletak pada pelaksanaanya, tetapi pada keluasan cakupannya, terutama pada isi, metode dan tujuannya, terutama tujuan jangka panjang, karena justeru kurikulum terletak pada tujuannya yang umum dan jangka panjang itu, sedangkan imlementasinya yang sempit termasuk pada pengajaran, yang keduanya harus kontinum.
Kurikulum, juga merupakan perwujudan penerapan teori baik yang terkait dengan bidang studi maupun yang terkait dengan konsep, penentuan, pengembangan desain, implementasi, dan evaluasiya. Oleh karna itu, ia merupakan rencana pengajaran dan sistem yang berisi tujuan yang ingin dicapai, bahan yang akan disajikan, kegiatan pengajaran, alat-alat pengajaran, dan jadwal waktu pengajaran. Sebagai suatu sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem organisasi sekolah yang menyangkut penentuan kebijakan kurikulum, susunan personalia dan prosedur pengembangannya, penerapan, evaluasi dan penyempurnaannya (Saodih, 2008:4-7).
Dalam konteks pendidikan Nasional, kurikulum adalah rencana tertulis tentang kemampuan yang harus dimiliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu dipelajari dan pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan tersebut, dan evaluasi yang perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian kemampuan peserta didik, serta seperangkat peraturan yang berkenaan dengan pengalaman belajar peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya pada satuan pendidikan tertentu.
Dalam Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan lahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Rumusan ini lebih spesifik mengandung pokok – pokok pikiran, sebagai berikut:
- Kurikulum merupakan suatu rencana/perencanaan;
- Kurikulum merupakan pengaturan, yang sistematis dan terstruktur;
- Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran bidang pengajaran tertentu;
- Kurikulum mengandung cara, metode dan strategi pengajaran;
- Kurikulum merupakan pedoman kegiatan belajar mengajar;
- Kurikulum, dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan;
- Kurikulum merupakan suatu alat pendidikan.
Rumusan tersebut menjadi lebih jelas dan lengkap, karena suatu kurikulum harus disusun dengan memperhatikan berbagai faktor penting. Dalam undang-undang telah dinyatakan, bahwa: “Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan.”
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum, ialah:
- Tujuan pendidikan nasional, dijabarkan menjadi tujuan-tujuan institusional, dirinci menjadi tujuan kurikuler, dirumuskan menjadi tujuan-tujuan instruksional (umum dan khusus), yang mendasari perencanaan pengajaran.
- Perkembangan peserta didik merupakan landasan psikologis yang mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar;
- Mengacu pada landasan sosiologis dibarengi oleh landasan kultur ekologis.
- Kebutuhan pembangunan nasional yang mencakup pengembangan SDM dan pembangunan semua sektor ekonomi.
- Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta budaya bangsa dengan multi dimensionalnya.
- Jenis dan jenjang pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya.
Rumusan kurikulum menunjukkan kecenderungan berubah, dari rumusan yang bertolak dari isi/materi course of studi menjadi pengertian yang lebih luas, yakni…as all the learning experiences under the aegis of the school (Hills 118). Perubahan menitikberatkan pada apa yang dikerjakan dan dipelajari di sekolah, dipengaruhi bukan semata-mata oleh mata ajaran yang diajarkan, melainkan bergantung pada tugas-tugas belajar yang disiapkan koherensi dan keseimbangan dalam keseluruhan program-sekolah, bagaimana siswa terlibat secara reflektif dalam kurikulum, nilai-nilai dan tujuan-tujuan para guru, yang berkaitan dengan cara mereka menilai belajar siswa dan menilai dirinya sendiri. Cara yang sederhana untuk mempertimbangkan kurikulum adalah melihat kurikulum dari 4 fase, yakni: isi (content), metode, tujuan (purpose) dan evaluasi.
Dalam perspektif ini, kurikulum sekolah keseluruhan (a whole school curriculum) bukan hanya sangat kompleks namun juga merupakan satu kesatuan yang ideal. Suatu sekolah juga memiliki a hidden curriculum’…the largely unintended effect of its social milieu, sedangkan the actual curriculum, yang ditafsirkan sebagai siswa mengalami secara aktual dan guru mengajarkan secara aktual, mungkin berbeda dengan apa yang direncanakan secara formal. Jurang antara curriculum-as-intention dan curriculum-in-use (atau in-transaction) mendasari kebutuhan mendasar dan kongkrit yang harus diperbuat dan dipelajari siswa di sekolah, yang dirancang dalam public curriculum. Masalahnya adalah bagaimana membuat suatu kurikulum yang efektif dan bermakna bagi publik luas. Ada 2 pendekatan yang dapat digunakan, yakni (1). Melihatnya sebagai suatu masalah riset terhadap pengajaran bukan sebagai perencanaan umum. Kurikulum dilihat sebagai suatu spesifikasi dari konten dan prinsip-prinsip untuk diinvestigasi dalam realita kelas; (2) Pendekatan kedua lebih menekankan pada kurikulum sebagai keseluruhan dan sebagai isi (intention), misalnya sebagai peta kebudayaan. Konsepsi integrative diterjemahkan menjadi analisis hambatan terhadap guru dan sekolah, dan mengaitkan teori kurikulum dengan strategi perubahan sosial jangka panjang.
Terdapat beberapa gagasan mengenai kurikulum, antara lain:
Pertama, Whole Curriculum. Istilah The Whole Curriculum, tidak bersinonim dengan curriculum dan cenderung digunakan untuk membedakan program sekolah yang menyeluruh seimbang dan koherensi dengan source study. Keputusan-keputusan mengenai the whole curriculum tergantung pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses sekolah jangka panjang diseleksi dari kebudayaan yang bermanfaat, dengan pola studi tertentu bagi semua siswa.
Konsep tersebut ada kaitannya dengan pernyataan, bahwa “Curriculum all the learning experience planned and guided by school”. Konsep ini mengandung dua cabang: berkenaan dengan lingkungan belajar total, pengembangan diri siswa yang ditransmisikan padanya; dan penempatan komponen subjects dalam konteks desain the whole curriculum. Konsep ini membantu mengenai cara the whole curriculum menyajikan ‘a selection from culture’, asumsi-asumsi tentang pengetahuan yang ditransmisikan dalam masyarakat. Dari perspektif ini dapat dipertanyakan dan diklarifikasi kontribusi pola-pola organisasi kurikulum, subject-based by tradition ke arah tujuan-tujuan persekolahan jangka panjang.
Kedua, Hidden Curriculum, gagasan ini merupakan suatu tantangan bagi perancang kurikulum. Hidden Curricu¬lum memuat kontradiksi terhadap kurikulum official (intended curriculum), karena merupakan kurikulum tak tertulis (Hargreaves, 1978). Kurikulum ini adalah hasil dari desakan yang memberikan efek tak diinginkan, untuk mempengaruhi orang lain agar menyetujui sesuatu yang diharapkan, melalui interaksi kelas upaya penyebarluasan pesan-pesan kultural mengenai tingkah laku sosial.
Ketiga, Komponen-komponen Kurikulum, kurikulum memiliki komponen-komponen yang berkaitan satu dengan yang lainnya, yakni : (1). Tujuan, (2), Materi, (3). Metode, (4). Organisasi, dan (5). Evaluasi. Komponen-komponen tersebut, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama menjadi dasar utama dalam upaya mengembangkan sistem pembelajaran.
Keempat, Peranan Kurikulum, kurikulum direncanakan secara sistematis, mengemban peranan penting bagi pendidikan, yakni: (1). Peranan konservatif, (2). Peranan kritis dan evaluatif, dan (3). Peranan kreatif. Ketiga peranan ini sama pentingnya dan antara ketiganya perlu dilaksanakan secara berkeseimbangan.
Kelima, Fungsi Kurikulum, sebagaimana dikemukakan Alexander Inglis (1978), menyatakan:
- Penyesuaian (the adjustive of adaptive function)
- Pengintegrasian (the integrating function)
- Peferensiasi (the differentiating function)
- Persiapan (the propaedeutic function)
- Pemilihan (the selective function)
- Diagnostik (the diagnostic function)
Keenam, Pendekatan Studi Kurikulum, mempertanyakan apa yang dipergunakan dalam pembahasan atau dalam penyusunan kurikulum tersebut. Penggunaan sesuatu pendekatan (approach) menentukan bentuk dan pola yang dipergunakan oleh kurikulum tersebut melalui empat pendekatan, yakni: mata pelajaran, interdispliner, integratif dan sistem.
Ketujuh, Proses Kurikulum, pada dasarnya merupakan suatu perangkat lengkap yang menjadi dasar bagi guru dalam membuat semua keputusannya di sekolah. Setiap guru memiliki kemampuan membentuk atau menyusun kurikulum berdasarkan suatu proses logis, dinilai terbaik pada saat disampaikan pada siswanya. Jika guru tidak berpedoman pada kurikulum, pengajarannya akan menimbulkan meragukan.




