Tampilkan postingan dengan label Kejuruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejuruan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 17

Makna Keterampilan How To Think, How To Learn, dan How To Create dalam Pendidikan

Pendidikan kejuruan hadir sebagai wahana dalam upaya memfasilitasi berkembangnya kemampuan siswa dalam melakukan sinergi secara komperhensif dan produktif antara keterampilan how to think, how to learn, dan how to create untuk dapat berperan sebagai pencipta lapangan kerja (job creator) yang professional, pencari kerja (job seeker) yang kompetitif atau sebagai individu atau kelompok yang memiliki daya enduransi yang tinggi dalam berkompetisi (high degree pursuer) (Mukhadis, 2013:7-8).

Makna Keterampilan how to think, how to learn, dan how to create
1)        How to think
How to think merupakan keterampilan berpikir dalam melihat sebuah permasalahan dari berbagai sudut pandang. Keterampilan ini merupakan prasyarat bagi terbentuknya keunggulan kemampuan dalam mengidentifikasi, menganalisis, memahami dan menetapkan skala prioritas alternatif pemecahan masalah yang dihadapi secara efektif dan efisien (Mukhadis, 2009:226). How to think dapat dikerucutkan menjadi 3 pendekatan kemampuan berpikir yaitu kemampuan berpikir kritis (analitik), sintetik (kreatif) dan praktikal.
Berpikir kritis memiliki representasi sebagai keterampilan analisis dan evaluasi ide (Naqiyah, 2005). Keterampilan ini lebih berorientasi pada kemampuan menganalisis dan berpikir kritis terhadap suatu fenomena (masalah). Kemampuan berpikir sintetik merupakan kemampuan membangkitkan ide baru dan menarik, lebih berperan dalam penemuan terhadap alternatif pemecahan masalah yang belum dikenal sebelumnya (berpikir kreatif). Sedangkan kemampuan berpikir praktikal merupakan kemampuan menerjemahkan teori ke dalam praktek, dan merubah ide-ide abstrak ke arah kecakapan praktikal. Kemampuan praktikal juga mempunyai arti sebagai kemampuan melaksanakan alternatif pemecahan masalah yang telah ditemukan, dinilai khalayak, diberi masukan, dan bagaimana kita menyikapi terhadap masukan.

2)        How to Learn
Pendidikan kejuruan berfungsi sebagai wahana dalam upaya memfasilitasi berkembangnya proses belajar dan berbuat (learning by doing) dengan mengacu pada ritme dialektika sesuai bidang kejuruan yang ditekuni. Keterampilan dalam belajar (how to learn) menjadi sangat penting sebagai langkah dalam mencari, memanfaatkan dan mengembangkan informasi yang unggul.
Keterampilan tersebut ini direpresentasikan dalam kemampuan melakukan aktivitas learning, unlearning, dan relearning (Harefa, 2010) yang berlangsung sepanjang waktu dimana berada dan bekerja. Karena itu, belajar (learning) akan mengajari seseorang untuk tidak pernah berhenti berpikir. Namun karena dialektika otak dan hati selalu terjadi, secara psikologis adakalanya manusia merasa puas dan merasa sudah menjadi seperti yang mereka harapkan. Pada posisi dan situasi itulah terjadi yang disebut sebagai unlearning.
Ketika otak merasa puas dan berhenti berpikir, manusia bisa saja terperosok ke dalam sebuah dunia lain sehingga dia bertindak tanpa memikirkan risiko dan akibat yang akan ditimbulkannya. Perilaku menyimpang merupakan gambaran bahwa manusia bisa mengalami fase unlearning. Secara ekstrem, gambaran perilaku menyimpang seperti teroris dan koruptor merupakan beberapa contoh bahwa manusia bisa terjebak ke dalam perilaku unlearning (Baedowi, 2012).
Namun jika hati seseorang dapat menuntun lagi kerja otak untuk mulai berpikir dan belajar kembali, fase semacam itu disebut relearning. Untuk kembali belajar (relearning), seseorang tidak hanya membutuhkan tuntunan hatinya, tetapi juga dukungan lingkungannya. Itulah sebabnya untuk kasus-kasus tertentu seperti para bekas teroris, diperlukan sebuah proses belajar kembali dengan cara memberi mereka dukungan untuk kembali kepada habitat dan masyarakat.
Dalam konteks belajar-mengajar, proses relearning juga sejalan dengan prinsip re-education, sebuah basis filosofis untuk bekerja dengan orang-orang yang mengalami gangguan, baik secara emosi maupun perilaku (a philosophical basis for working with person who has emotional and/or behavioral disorders). Dalam proses re-edukasi, mengembalikan mentalitas lama ke dalam pembentukan mentalitas baru yang sesuai dengan kondisi normal lingkungan masyarakatnya ialah imperatif  (Baedowi, 2012)..
Keterampilan belajar bukan keterampilan tunggal tetapi merupakan garis kontinum yang bermula dari titik awal kehidupan dan berakhir pada akhir hidup itu sendiri. Learning to learn (how to learn) tumbuh dari sinergi antara intelektual dan moral yang berekspresi dari hasil belajar otentik (actual outcomes). Anwar mengatakan bahwa belajar untuk tahu (learning to know) menjadi basis bagi belajar untuk dapat melakukan (learning to do); belajar untuk dapat melakukan merupakan basis bagi belajar untuk mandiri (learning to survive); belajar untuk mandiri merupakan basis bagi belajar untuk bekerja sama (learning to cooperate) (2006:5).
Tujuan akhir dari keterampilan belajar ialah dimilikinya kemampuan memecahkan masalah secara bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan akhir keterampilan belajar, maka lebih dahulu melalui dua tujuan yaitu: (1) mampu mengenali hakikat diri, potensi dan bakat-bakatnya dan (2) dapat berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasi segenap potensi, mengekspresikan dan menyatakan dirinya seutuhnya denga cara menjadi dirinya sendiri (Anwar, 2006:9).

3)        How to Create
Pendidikan kejuruan merupakan wahana dalam upaya memfasilitasi proses kreasi pencapaian sesuatu yang menghasilkan suatu barang, jasa, model atau prototipe yang bernilai tambah (added value) secara ekonomi, bukan sekedar hanya berperan sebagai konsumen atau sekedar sebagai user dari suatu produk yang lain dalam bidang yang relevan (Mukhadis, 2013:7). Untuk dapat memberikan nilai tambah tersebut, pendidikan harus mampu memfasilitasi sinergisitas keterampilan siswa (how to think dan how to learn) sebagai pendorong tumbuh-kembangnya kemampuan untuk berkreasi atau mencipta (how to create) baik secara individu, kelembagaan maupun industri bukan malah tertarik pada budaya mengkonsumsi.
Peradaban teknologi yang unggul suatu bangsa merupakan representasi dari kemampuan emulasi, dan bukannya sekedar kemampuan emitasi. Kemampuan emulasi merupakan prasyarat suatu individu, kelompok, masyarakat, bangsa atau negara untuk melakukan loncatan dalam pengembangan teknologi sebagai sarana pemecahan masalah dalam kehidupan. Wujud dari kemampuan ini adalah keunggulan dalam melakukan sinergi dari berbagai produk teknologi, berbagai informasi, berbagai jasa, dan berbagai sistem yang mutakhir, menjadi suatu sosok produk, sosok informasi, sosok sistem, dan dan sosok jasa yang lebih baru, memiliki nilai tambah dan memiliki keunggulan kompetitif.

Selasa, Oktober 14

Peran dan Fungsi Akademi Komunitas (AK)

Pengangguran merupakan salah satu masalah yang menjadi konsen pemerintah saat ini. Badan Perencanaan Pembagunan Nasional (Bappenas) menyatakan bahwa jumlah pengangguran muda di Indonesia adalah no. 1 terbesar di Asia Pasifik yang selanjutnya diikuti Sri Lanka di urutan ke-2 dan Filipina di urutan ke-3. Melihat fenomena ini, berdasarkan amanat UU No. 12 Tahun 2012, akademi komunitas mengambil peran yang sangat besar. Sebagai suatu jenis pendidikan vokasi setingkat diploma satu dan/atau diploma dua yang berbasis keunggulan lokal atau untuk memenuhi kebutuhan khusus, sumbangsih pendidikan kejuruan dalam mendorong tumbuhnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan memperluas akses pendidikan tinggi sangat diandalkan.

Akademi komunitas (AK) sendiri merupakan bentuk pengembangan dari program yang telah ada sebelumnya yaitu community collage (CC) yang pada tahun 2000-2010 terdapat di 105 SMK, Universitas dan Poltek. CC kemudian mengalami transformasi program menjadi Pendidikan Vokasi Berkelanjutan (PVB) pada tahun 2010-2012 yang berada di 42 Perguruan Tinggi dengan 300 sub kampus (SMK dan Industri) berpola PJJ. Di tahun 2012, barulah nama AK dimunculkan dengan model penyelenggaraannya yang dilaksanakan di daerah (kabupaten/kota) dengan maksud agar biaya pendidikan tinggi dapat ditekan karena peserta didik tidak harus pergi terlalu jauh.

Posisi AK menjadi sangat strategis karena berdasarkan amanat UU No. 12 Tahun 2012, AK merupakan pendidikan vokasi yang diperuntukkan bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat untuk mengembangkan keterampilan dan penalaran dalam penerapan Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi. AK merupakan bagian proses peningkatan pertmubuhan ekonomi bangsa melalui peningkatan tenaga terampil yang mampu menggerakkan roda perekonomian wilayah. Adapun indikator kinerja AK diantaranya: jumlah tenaga terampil yang disediakan dan terserap di industri dan mandiri, jumlah penghasil produk barang dan jasa, dan jumlah kerjasama dengan para pengguna dan industri.

Pada tahun 2012 berdasarkan Kepmendikbud No. 161/P/2012 telah ditetapkan 20 AK dalam bentuk PDD (Prodi Di luar Domisili) dari 12 Perguruan Tinggi (PT) penyelenggara. Salah satu PT yang menjadi penyelenggara adalah Politeknik Negeri Malang yang menyelenggarakan PDD di Kabupaten Bojonegoro dan Kota Blitar. Program studi yang dibuka di Kabupaten Bojonegoro adalah 3 prodi, yaitu komputer akutansi, teknik informatika dan teknik otomotif, sedangkan di Kota Blitar juga terdapat 3 prodi yaitu teknologi informasi, multimedia dan administrasi perkantoran.

Sebagai sebuah program pendidikan yang baru, AK seharusnya memperhatikan tuntutan pasar (market driven) dimana segala bentuk pendidikan harus berorientasi pada keterbutuhan keterampilan di lapangan. Hal ini bersentuhan langsung dengan pengelolaan pembelajaran di AK. Proses pembelajaran menjadi konsen utama karena sesuai dengan jalurnya, AK harus mampu memberikan sajian pembelajaran dengan porsentase 60%-70% teori dan 30%-40% praktek.

Kamis, Oktober 2

Manajemen Mutu Laboratorium Pendidikan Kejuruan

Kebanyakan laboratorium sudah melakukan kegiatan pengelolaan yang terdiri dari komponen-komponen dari sistem manajemen mutu. Namun tidak semua kegiatan manajemen yang diperlukan dipraktekkan di setiap laboratorium dan kegiatan tersebut belum mempunyai suatu standar sehingga penerapannya bisa berbeda-beda. Hal ini menimbulka suatu variasi dalam praktek manajemen yang menyebabkan penggunaan sumber daya tidak efektif. Oleh karena itulah diperlukan suatu standarisasi atau keseragaman. Standar Manual Mutu (SMM) merupakan suatu keseragaman, cara yang sistematis -setiap laboratorium- untuk memastikan bahwa persyaratan sedang terus berkesinambungan setiap kali dan setiap hari.

Pada SMM, hal yang dilakukan untuk menerapkan standarisasi adalah analisa, proses kerja spesifik dan prosedur untuk penerapannya. Selanjutnya, laboratorium harus menentukan tanggung jawab dan hubungan pelaporan dari semua orang yang terlibat dalam layanan baru. Kemudian, perlu untuk mengidentifikasi pelanggan potensial dan menentukan kebutuhan dan harapan mereka untuk layanan baru. Selanjutnya, rekam data meliputi fasilitas yang memadai, orang, peralatan, dan bahan. Semua yang berhubungan dengan lagkah tersebut perlu dikembangkan, divalidas, dan didokumentasikan. Staf perlu dilatih dan kompetensi awal mereka dinilai. Laboratorium perlu untuk menentukan cara-cara yang hasil pasien dan laporan akan dikelola untuk layanan baru. Ada perlu menentukan alat laboratorium untuk menangkap pengaduan dan ketidaksesuaian untuk layanan baru. Laboratorium perlu untuk menentukan bagaimana akan mengukur kinerjanya untuk menentukan apakah tujuan, sasaran, dan harapan pelanggan sedang bertemu untuk layanan baru. Laboratorium perlu untuk menentukan cara-cara yang kualitas laporan akan disiapkan secara berkala untuk layanan baru. Terakhir, laboratorium perlu untuk menentukan bagaimana manajemen akan meninjau dan mengidentifikasi peluang untuk perbaikan proses dan memprioritaskan dan memulai kegiatan perbaikan. Jika kesemuanya sudah terpenuhi dan terlewati, maka pengujian layanan baru yang sudah terstandarisasi bisa dimulai. 

Salah satu cara untuk menggambarkan ini urutan kejadian penting manajerial adalah dengan sedikit memodifikasi model SMM, dimana standar mutu terbagi menjadi tiga kelompok: (1) laboratorium, (2) bekerja, dan (3) pengukuran. Laboratorium terdiri dari komponen struktur organisasi yang jelas, fasilitas dan perlengkapan keselamatan, personil, peralatan, pembelian dan persediaan. Pada kelompok bekerja –eksekusi- terdapat komponen proses kontrol, pembuatan catatan dan pendokumentasian administrasi dan kegiatan serta manajemen informasi dalam pengolahan data masukan. Sedangkan penilaian keberhasilannya dilihat dari manajemen kejadian, audit internal dan eksternal, pelayanan pelanggan dan proses peningkatan mutu. Jantung SMM laboratorium adalah kebijakan, proses, prosedur dan dokumen sehingga segala kegiatan yang dilakukan harus terekam dengan baik.

Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknik dan Kejuruan (Vocational dan Technical Education)

Hasil Resume Buku

Curriculum Development in Vocational and Technical Education
Oleh Wahyu Nur H

Kurikulum dapat didefinisikan sebagai akumulasi dari kegiatan pembelajaran dan pengalaman di bawah naungan sekolah. Untuk pengembang kurikulum diberikan dua konsep pendukung tambahan. Pertama, pusat dari kurikulum adalah siswa. Konsep pendukung kedua berkaitan dengan luasnya pengalaman dan kegiatan yang berhubungan dengan kurikulum belajar. Pada definisi kurikulum yang lebih luas, harus diperhatikan bagaimana kegiatan belajar dan pengalaman harus berhubungan dengan studi yang telah dipilih.


Kurikulum merupakan berbagai pengalaman siswa di lingkungan sekolah, instruksi berfokus pada penyampaian pengalaman-pengalaman. Lebih khusus, instruksi dapat dianggap sebagai interaksi yang direncanakan antara instruktur dan siswa yang (semoga) menghasilkan pembelajaran yang diinginkan. Sebuah deskripsi singkat dari pengembangan kurikulum dan pengembangan instruksional harus membantu dalam mengklarifikasi perbedaan-perbedaan pendapat. Pengembangan kurikulum berfokus terutama pada konten dan bidang yang terkait yang meliputi makro atau kegiatan berbasis luas yang berdampak pada program yang luas, kursus, dan pengalaman siswa. Bahkan, kurikulum harus mendefinisikan misi institusi dan tujuan. Kegiatan kurikulum biasanya dilakukan sebelum dan pada tingkat lebih tinggi dari pengembangan instruksional. Sebaliknya, pengembangan instruksional lebih merupakan kegiatan mikro yang dibangun pada pengembangan kurikulum melalui perencanaan dan persiapan pengalaman belajar tertentu dalam program.

A.  KARAKTERISTIK KURIKULUM KEJURUAN DAN TEKNIK
Meskipun pendidikan kejuruan dan teknik termasuk dalam keseluruhan kerangka pendidikan, kurikulum kejuruan dan teknik memiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dari pendidikan lainnya. Pembeda kurikulum pendidikan kejuruan dengan pendidikan lainnya dilihat dari:

  1. Orientasi: Kurikulum kejuruan dan teknik berorientasi pada proses (pengalaman dan aktifitas dalam lingkungan sekolah) dan produk (hasil dari proses pengalaman dan aktifitas siswa).
  2. Justifikasi: Kurikulum kejuruan dan teknik dibuat dan dikembangkan berdasarkan identifikasi kebutuhan  kerja dan sumber daya yang tersedia di daerah tertentu.
  3. Fokus: Tidak  seperti kurikulum pendidikan lainnya, kurikulum pendidikan kejuruan diidentifikasikan menurut kebutuhan di daerah tertentu. Lebih ditekankan kepada kebutuhan pencarian tenaga kerja di daerah tersebut, atau lapangan pekerjaan yang sedang dibutuhkan. Dan diharapkan mendapatkan pekerjaan setelah lulus dan mengisi kekosongan lapangan pekerjaan.
  4. Standar keberhasilan di sekolah: Pelajar akan diberi tugas dan kegiatan oleh instruktur dalam pembelajarannya yang akan berguna untuk dunia kerja.
  5. Standar keberhasilan setelah sekolah: Selain dinilai berhasil dalam melanjutkan ke jenjang sekolah lebih tinggi, mantan siswa SMK harus menunjukkan keberhasilan mereka dalam dunia kerja. Karena lulusan SMK sudah mendapatkan pembelajaran lebih mendalam pada suatu kompetensi keahlian daripada lulusan dari sekolah umum.
  6. Responsif: Setiap perkembangan baru dalam berbagai bidang harus dimasukkan ke kurikulum sehingga lulusan SMK dapat bersaing dalam pekerjaan dan mereka akan mendapat nilai tambah karena sudah pernah magang.
  7. Logistik: Menyatukan  fasilitas yang ada dalam satu inventaris yang di atur penataan dan perawatannya. Menyediakan laboratorium untuk penempatan inventaris dan pelatihan.
  8. Biaya: Biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan kejuruan lebih besar daripada pendidikan lain. Beban biaya tergantung dari pembelian, perawatan, pemeliharaan, penggantian peralatan, dll.


B.   SISTEM TERPADU KURIKULUM PENDIDIKAN KEJURUAN 
Fokus utama dari Sistem Terpadu bagi Kurikulum Pendidikan Kejuruan adalah pengelompokan isi kurikulum inti yaitu, teknis dan aplikasi, dan pengelompokan isi kurikulum khusus yaitu, teknis dan aplikasi. Kinerja Berbasis Desain Instruksional. Sistem meliputi tujuh komponen, yang masing-masing memberikan kontribusi terhadap perkembangan instruksi bermakna. Satu output komponen menjadi masukan untuk komponen berikutnya, dengan demikian manfaat kumulatif berasal yang mengambil bentuk peningkatan kemampuan peserta didik.

Model Kurikulum Tematik menekankan penciptaan kurikulum yang mempertemukan pengalaman belajar seputar tema mencakup dan domi¬nan. Dalam desain kurikulum ini, "semua aspek" dapat berfungsi sebagai strategi yang berguna untuk memastikan bahwa tema termasuk pengalaman belajar dalam berbagai industri dan bidang, kekhawatiran, masalah, dan pengetahuan dan keterampilan teknologi.

C.   STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Keputusan dibagi menjadi 2 macam yaitu keputusan kebijakan dan keputusan operasional. Keputusan kebijakan terdiri dari penetapan saran, tujuan pendidikan, perumusan berbagai prosedur dan berbagai strategi pelaksanaan pendidikan. Sedangkan keputusan operasional berupa keputusan yang tertuang dalam administrasi supervisi, evaluasi, pengembangan kurikulum, penerapan kurikulum dan administrasi evaluasi kurikulum.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputu-san tingkat satuan pendidikan antara lain:

  1. Sekolah mengacu kepada kebijakan-kebijakan nasional, provinsi, dan kota/kabupaten.
  2. Merumuskan kebijakan-kebijakan tambahan yang berkaitan dengan ciri khas daerah dengan cacatan tidak bertentangan dengan kebijakan nasional.
  3. Dalam penetapan kebijakan secara yuridis, sekolah dapat memilih dan menetapkan sendiri pengembangan kurikulum, seperti kurikulum muatan local dan dapat pula bekerja sama dengan dunia usaha/industri (DU/DI).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan diantaranya: (1) keputusan tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi, tetapi juga harus mempertimbangkan pemikiran yang harus dimiliki oleh pihak yang terkait dengan proses pendidikan; (2) pemikiran dari siswa, pandangan dari guru, staf, lembaga pendidikan, tokoh masyrakat, dan yang paling penting adalah pemikiran yang dimiliki oleh pengambil keputusan; dan (3) jika pengambil keputusan tidak memberikan pemikiran dan pengaruh yang mereka miliki, maka keputusan yang diambil secara tidak sadar dibuat semata-mata atas perasaan pengambil keputusan dengan sedikit atau tanpa kepedulian terhadap orang lain yang akan terpengaruh oleh keputusan tersebut.

D.   PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN KEJURUAN MODERN DAN TEKNIK PROGRAM PENDIDIKAN

  1. Standarisasi Test: Salah satu pendekatan untuk menilai minat kerja dari sekelompok besar siswa adalah menyamakan standar tes yang digunakan. Hal ini sangat membantu jika beberapa tingkatan kelas yang berbeda yang akan diamati. Tes tersebut juga dapat digunakan untuk alat yang efektif dalam perencanaan kurikulum.
  2. Standart Test Bakat: Tes bakat didapatkan dari kemampuan siswa untuk belajar dari buku atau tugas-tugas yang diperlukan di sekolah. Beberapa tes bakat yang dapat diberikan adalah tes kematangan mental, tes kemampuan mental, dan tes kecerdasan. 
  3. Standar Tes Prestasi: Tes prestasi mengukur hasil belajar siswa dalam suatu sekolah, sedangkan tes bakat lebih banyak digunakan untuk memprediksi kinerja siswa untuk kedepannya.

Rabu, September 17

MASALAH, VARIABEL, HIPOTESIS DAN DATA PENELITIAN KUANTITATIF, KUALITATIF DAN PENGEMBANGAN

Oleh: Wahyu Nur H

A.           MASALAH
Penelitian jenis apapun titik tolaknya tidak lain bersumber pada masalah. Tanpa masalah penelitian itu tidak dapat dilaksanakan. Pada dasarnya penelitian kualitatif tidak dimulai dari sesuatu yang kosong, tetapi dilakukan berdasarkan persepsi seseorang terhadap adanya masalah.  Dalam penelitian kualitatif “masalah” yang dibawa oleh peneliti masih remang-remang, bahkan gelap, kompleks, dan dinamis. Oleh karena itu, “masalah” dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara, tentative, dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada dilapangan.
Terdapat perbedaan antara masalah dan rumusan masalah, masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi, sedangkan perumusan masalah adalah pertanyaan  penelitian yang disusun berdasarkan masalah yang harus dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.
Dalam pandangan peneliti kualitatif gejala dalam suatu obyek itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan). Dalam penelitian kuantitatif masalah yang akan dipecahkan melalui penelitian harus jelas, spesifik, dan dianggap tidak berubah. Sedangkan pada penelitian pengembangan, penelitian dapat dilakukan karena adanya potensi atau masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki suatu nilai tambah pada produk yang diteliti. Pemberdayaan akan berakibat pada peningkatan mutu dan akan meningkatkan pendapatan atau keuntungan dari produk yang diteliti. Masalah juga bisa dijadikan sebagai potensi, apabila kita dapat mendayagunakannya.

B.            VARIABEL
Dalam penelitian kualitatif, variabel yang digunakan tidak jauh berbeda dengan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif hubungan antar semua varibel tersebut akan diamati, karena penelitian kualitatif berasumsi bahwa gejala itu tidak dapat diklasifikasikan, tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (holistic). Dalam penelitian kuantitatif, variabel penelitian dapat diartikan sebagai atribut dalam penelitian yang berupa obyek, orang atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu dan telah ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti atau dipelajari dan disimpulkan. Dalam penelitian kuantitatif, variabel penelitian terdiri dari beberapa macam berdasarkan hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain. Dalam penelitian pengembangan, variabel penelitian adalah objek penelitian/apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel penelitian dan pengembangan harus dipertimbangkan dengan mengacu pada karakteristik kondisi dan karakteristik faktor hasil yang diharapkan. Faktor kondisi, konteks ini dapat berupa visi dari suatu program yang dikembangkan, misi dari suatu program yang dikembangkan, tujuan program yang dikembangkan, karakteristik pelaksana, kendala yang tidak dapat dielakkan, dan sarana pendukung dalam pelaksanaan suatu program.
1.             Macam-macam variabel dalam penelitian
a.             Variabel Independen
Dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Sebagai contoh: variabel bebas (independen) yang digunakan adalah pendekatan konstruktivistik (PBL dan QL) dan motivasi berprestasi (tinggi atau rendah).
b.             Variabel Dependen
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Sebagai contoh: variabel terikat (dependen) yang digunakan adalah kemampuan pemecahan masalah dan penguasaan konsep pada materi dasar pemrograman.
c.              Variabel Moderator
Variabel moderator adalah variabel yang dimanipulasi, dipilih atau diukur peneliti untuk mengetahui apakah peneliti memodifikasi hubungan yang ada antara variabel independen dengan dependen. Sebagai contoh, perbedaan variabel X (tingkat kecerdasan) dan variabel Y (hasil belajar), peneliti menduga bahwa variabel X (tingkat kecerdasan) dan variabel Y (hasil belajar) dapat dimodifikasi oleh variabel Z (pendekatan audio-tutorial), maka variabel Z (pendekatan audio-tutorial) adalah variabel moderator.
d.             Variabel Intervening (Antara)
Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi gejala yang diamati, tetapi tidak dapat diamati, dimanipulasi, maupun diukur. Sebagai contoh, kebiasaan membaca menunjukkan hubungan yang positif dengan umur, tetapi hanya melalui suatu variabel antara yaitu pendidikan. Ini berarti bahwa seorang lanjut usia yang tidak sekolah, tidak akan lebih banyak membaca dibandingkan pada masa mudanya.
e.              Variabel Kontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan atau dinetralkan pengaruhnya sehingga hubungan variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan untuk melakukan penelitian yang bersifat membandingkan. Sebagai contoh: perbedaan rasa, warna dan tekstur pada permen jelly jeruk mandarin dan jeruk lokal. Variabel kontrolnya adalah waktu dan suhu yang digunakan saat membuat permen jelly sama dan komposisi bahan (berat bahan) yang digunakan dalam pembuatan permen jelly juga sama.

C.           HIPOTESIS
Hipotesis adalah pernyataan tentatif yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya. Dalam suatu penelitian hipotesis memiliki fungsi, yaitu: menguji kebenaran suatu teori, memberi ide untuk mengembangkan suatu teori, memperluas pengetahuan kita mengenai gejala-gejala yang kita pelajari. Dalam penelitian pengembangan hipotesis digunakan apabila dilakukan uji efektivitas, efisiensi, kemenarikan, kepraktisan dari prototipe yang sudah teruji melalui kegiatan eksperimen pada latar dan sasaran yang lebih luas.
Dilihat dari posisi dimana hipotesis ditempatkan, dapat dibedakan menjadi hipotesis penelitian dan hipotesis statistika. Berikut uraian dari dua macam hipotesis tersebut:
1.             Hipotesis Penelitian
Hipotesis ini berfungsi memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah (research questions). Hipotesis ini umumnya sama banyaknya dengan jumlah rumusan masalah yang telah ditetapkan dalam rencana penelitian. Dilihat dari posisinya ditempatkan pada bab kedua, setelah landasan teori atau setelah kerangka berpikir tersusun. Hipotesis penelitian pada umumnya tidak diuji menggunakan teknik statistika, karena fungsinya yang utama adalah untuk memberikan jawaban sementara sebagai rambu-rambu tindakan selanjutnya.
2.             Hipotesis Statistika
Hipotesis ini strukturnya merupakan rangkaian dua atau lebih variabel yang menjadi interes dan hendak diuji oleh si peneliti. Hipotesis ini digunakan jika peneliti melakukan uji analisis dengan hanya menggunakan sebagian dari keseluruhan data yang ada, sedangkan proses teknik statistika yang menggambarkan pengambilan keseluruhan ke arah sebagian populasi disebut sebagai proses inferensi. Jika hasil analisis dari sampel tersebut lalu digunakan untuk menyimpulkan hasil analisis keseluruhan atau populasi, maka proses tersebut disebut sebagai proses generalisasi.

D.           DATA
Dalam penelitian kualitatif, data dapat diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data triangulasi dimana data yang diperoleh harus sesuai dengan tingkat keajegan dan kejenuhan suatu data, dan pengumpulan data dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Pada penelitian pengembangan upaya mengumpulkan data melalui kegiatan Training Needs Assesment dapat berupa kegiatan wawancara, pengamatan, pertemuan kelompok, dan survei menggunakan kuesioner. Pemilihan kegiatan untuk pengumpulan data bergantung pada konteks bidang program yang dikembangkan dan sifat dari data atau informasi yang diperlukan.

Jenis data yang digunakan pada penelitian kualitatif terdiri dari dua jenis, yaitu:
1.             Data primer, yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh suatu lembaga dan diterbitkan oleh lembaga itu pula. Contoh data primer yaitu: hasil wawancara dengan informan berupa: 1) data tentang persiapan yang dilakukan SMK Negeri 1 Bontang dalam mewujudkan sekolah bertaraf internasional, 2) data proses pelaksanaan program sekolah menengah kejuruan bertaraf internasional di kota Bontang.
2.             Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari pihak lain yang telah mengumpulkan terlebih dahulu dan menerbitkannya. Contoh data sekunder yaitu: data hasil penelitian terdahulu.

Data yang baik harus memenuhi dua persyaratan atau dua prinsip, yakni:
1.             Data harus memenuhi prinsip reliabilitas
Prinsip ini meliputi syarat-syarat sebagai berikut:
a.              Data harus obyektif, artinya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sesuai dengan apa adanya.
b.             Data harus representatif, artinya data sampel itu harus dapat mewakili seluruh populasinya.
c.              Data harus teliti, artinya mempunyai penyimpangan standar yang kecil. Perkiraan parameter populasi dikatakan baik bila penyimpangan standarnya kecil.
2.             Data harus memenuhi prinsip validitas
Prinsip validitas ini meliputi syarat-syarat sebagai berikut:
a.              Data harus tepat waktu (up to date), artinya tidak kadaluwarsa agar supaya faktor biasnya kecil.
b.       Data harus relevan, artinya ada hubungannya dengan permasalahan yang akan dipecahkan.

MACAM, FUNGSI, PENELUSURAN, PENGKAJIAN DAN PEREKAMAN KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN

Oleh: Wahyu Nur Hidayat

A.           PENGERTIAN KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka adalah pengkajian kembali literatur-literatur yang terkait (review of related literature). Sesuai dengan arti tersebut kajian pustaka berfungsi sebagai pengkajian kembali (review) pustaka (laporan penelitian dan sebagainya) tentang masalah yang berkaitan, tidak selalu tepat identik dengan bidang permasalahan yang dihadapi, tetapi termasuk pula yang seiring dan berkaitan.

B.            MACAM-MACAM KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN
Kajian pustaka dari hasil penelitian lain dimaksudkan untuk memperkuat pandangan peneliti didukung oleh hasil penelitian lain yang relevan, serta untuk menghindari adanya pengulangan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain atau menjaga originalitas penelitian. Kajian pustaka primer meliputi jurnal penelitian, laporan hasil penelitian, abstrak, narasumber.
Kajian pustaka dari teori dimaksudkan agar peneliti dapat mengidentifikasi masalah yang diteliti dalam konteks ilmu pengetahuan yang relevan. Kajian pustaka dari teori merupakan kajian pustaka dari sumber pustaka sekunder. Sumber pustaka sekunder  adalah publikasi di mana penulis mendeskripsikan hasil karya orang lain. Sumber sekunder adalah buku (text books), ensiklopedia pendidikan, kajian penelitian, atau buku tahunan.
Macam-macam kajian pustaka primer sebagai berikut:  (a) Buku adalah sumber pustaka ilmiah yang secara resmi telah dipublikasikan atau telah menjadi peganggan dalam mempelajari suatu bidang ilmu.  (b) Surat kabar/ majalah merupakan sumber pustaka yang cukup baik dan mudah diperoleh dimasyarakat, mengingat informasi dari surat kabar dan majalah merupakan informasi yang sifatnya popular tapi para peneliti dianjurkan untuk lebih dahulu mengevaluasi isi yang hendak diambil seperti what, who, how, when, why.  Kemudian (c) Internet merupakan sumber kajian pustaka yang dihasilkan akibat kemajuan teknologi yang telah membawa dampak yang sangat signifikan dibidang informasi, dalam melakukan kajian pustaka menggunakan internet prinsip pemutakhiran sangat  penting karena ilmu berkembang dengan cepat. Sebuah teori yang efektif pada suatu periode mungkin sudah ditinggalkan pada periode berikutnya.
Sedikitnya terdapat dua syarat utama yang harus dipenuhi oleh sumber bacaan, yaitu: (a) adanya keterkaitan antara isi bacaan dengan masalah yang dibahas, (b) Kemutakhiran sumber bacaan, artinya sumber bacaan yang sudah kadaluwarsa  isinya harus ditinggalkan. Sering dijumpai banyak laporan penelitian mencantumkan daftar pustaka yang sangat banyak, tetapi  tidak berkaitan dengan masalah yang dibahas.
Pada umumnya urutan langkah yang dilakukan dalam melakukan kajian teoritis melalui sumber bacaan adalah sebagai berikut: Mengkaji teori-teori ilmiah yang berhubungan dengan konsep-konsep yang dipermasalahkan dan akan dipakai dalam analisis (a) membahas hasil-hasil kajian ilmiah lain yang berhubungan dengan apa yang dipermasalahkan (b) merangkum hasil-hasil kajian teori, yang dapat berupa kesimpulan yang berisi jawaban sementara (hipotesis) terhadap rumusan masalah, atau rangkuman argumentasi teoritik yang akan digunakan hasil kajian, (c) mengkaji rumusan masalah penelitian, mengidentifikasi istilah kunci dan topik yang terkait dengan rumusan masalah, (d) teori-teori yang digunakan untuk mendukung penelitian bukan hanya yang tercantum dalam rumusan masalah, melainkan pula yang menggambarkan hubungan sebab akibat dengan variabel yang diteliti.

C.           LANGKAH-LANGKAH MELAKUKAN PEREKAMAN KAJIAN PUSTAKA
Langkah-langkah untuk melakukan perekaman kajian pustaka, sebagi berikut:  (a)  memulai dengan materi hasil penelitian yang secara sekuensi diperhatikan dari yang paling relevan, relevan dan cukup relevan. Cara lain dapat juga misalnya, dengan melihat tahun penelitian di awali dari yang paling mutakhir dan berangsur-angsur mundur ketahuan yang lebih lama, selanjutnya (b) Membaca abstrak dari setiap penelitian lebih dahulu untuk memberikan penilaian apakah permasalahan yang di bahas sesuai dengan yang akan dipecahkan dalam penelitian, (c) Mencatat bagian-bagian penting dan relevan dengan permasalahan penelitian untuk menjaga agar tidak terjebak dalam unsure plagiat, para peneliti hendaknya juga mencatat sumber-sumber informasi dan mecantumkannya dalam daftar pustaka, jika memang informasi berasal dari ide / hasil penelitian orang lain, (d) membuat  catatan kutipan atau salinan informasi sehingga peneliti dengan mudah dapat mencari kembali bila sewaktu-waktu diperlukan, sangat di anjurkan dalam hal ini bagi para peneliti agar membuat kutipan dalam sistem kartu berukuran 7,5 x 10 cm atau yang sudah di sediakan dalam toko-toko buku dan alat tulis umumnya. Kedua muka kartu secara bolak-balik dapat digunakan. Muka pertama untuk substansi kutipan, sedangkan muka sebaliknya sebagai catatan sumber kutipan, (e) Atur kartu-kartu tersebut menurut abjad atau katalog yang telah dibuat sesuai dengan interes peneliti, agar mudah dalam mencari bila sewaktu-waktu diperlukan, (f)  Tulis juga pada muka kartu sebaliknya, dari mana sumber tersebut di ambil secara lengkap dan teliti, (g) Agar mudah mencari dan mengatur kartu-kartu yang di buat, peneliti hendaknya membuat satu substansi kutipan untuk setiap kartu, (h) Yakinkan bahwa isi acuan tersebut di kutip secara langsung, di ringkas atau di uraikan dengan menggunakan bahasa sendiri. Hal yang demikian perlu dilakukan agar peneliti terhindar dari plagiator (penjiplak).

D.           KAJIAN PUSTAKA DARI TEORI YANG BERKAITAN DENGAN PERMASALAHAN YANG DITELITI (SEKUNDER)
Adapun struktur penulisan kutipan kajian pustaka baik dari kajian pustaka primer maupun sekunder adalah sebagi berikut:
1.               Cara Menulis Kutipan Langsung
a.               Kutipan kurang dari 40 kata
Kutipan yang berisi kurang dari 40 kata ditulis di antara tanda kutip (“....”) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama, dan diikuti nama penulis, tahun dan nomor halaman.
Nama penulis dapat ditulis secara terpadu dalam teks atau menjadi satu dengan tahun dan nomor halaman di dalam kurung.
nama penulis disebut dalam teks secara terpadu.
Contoh:
Soebronto (1990:123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”.
Nama penulis disebut bersama dengan tahun penerbitan dan nomor halaman.
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (Soebronto, 1990:123)
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘...’)
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat kecenderungan semakin banyak ‘campur tangan’ pimpinan perusahaan semakin rendah tingkaat partisispasu karyawan di daerah perkotaan” (Soewignyo, 1991:101).

b.               Kutipan 40 kata atau lebih
Kutipan yang berisi 40 atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahului, ditulis 1,2 cm dari garis tepi sebelah kiri dan kanan, dan diketik dengan spasi tunggal. Nomor halaman juga harus ditulis.
Contoh:
Smith (1990:276) menarik kesimpulan sebagai berikut.

The ‘placebo effect’, which had been verified in previous studies, disappeared when behaviors were studied in this manner. Furthermore, the behaviors were never exhibited again, even when real drugs were administered. Earlier studies were clearly premature in attributing the results to a plcaebo effect.

c.               Kutipan yang sebagian dihilangkan
Apabila dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang dibuang, maka kata-kata yang dibuang diganti dengan tiga titik.
Contoh:
“Semua pihak terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah ... diharapkan sudah melaksanakan kurikulum baru” (Manan, 1995:278).
   Apabila ada kalimat yang dibuang, maka kalimat yang dibuang diganti dengan empat titik.
Contoh:
“Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara mata, tangan, atau bagian tubuh lain .... Yang termasuk gerak manipulatif antara lain adalah menangkap bola, menendang bola, dan menggambar” (Asim, 1995:315).

2.               Cara Menulis Kutipan Tidak Langsung
            Kutipan yang disebut secara tak langsung atau dikemukakan dengan bahasa penulis sendiri tanpa tanda kutip dan terpadu dalam teks. Nama penulis bahan kutipan dapat disebut terpadu dalam teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbitnya. Jika memungkinkan nomor halaman disebutkan. Perhatikan contoh berikut.
            Nama penulis disebut terpadu dalam teks.
Contoh:
Salimin (1990:13) tidak menduga bahwa mahasiswa tahun ketiga lebih baik daripada mahasiswa tahun keempat.
            Nama penulis disebut dalam kurung bersama tahun penerbitannya.
Contoh:

Mahasiswa tahun ketiga ternyata lebih baik dari pada mahasiswa tahun keempat (Salimin, 1990:13).

Penelitian Sebagai Upaya Sistematik Dalam Menemukan Dan Atau Mengembangkan Pengetahuan Yang Benar

Oleh: Wahyu Nur Hidayat, 2011

Aktivitas penelitian di berbagai bidang ipteks secara substansi ditandai oleh empat hal, yaitu adanya upaya bersifat sistematik, adanya sesuatu hasil temuan, adanya kebermanfaatan dan adanya tindak lanjut penyebarluasan temuan (Mukhadis, 2013:70).
Upaya sistematik dalam konteks ini ditandai dengan adanya kejelasan langkah-langkah yang ditempuh secara eksplisit, jelas dan lugas mulai dari penentuan masalah sampai penarikan kesimpulan dan atau generalisasi (perampatan) dan dapat direplikasi oleh peneliti lain temuan (Mukhadis, 2013:70). Penelitian sebagai upaya sistematik  memiliki arti bahwa untuk dapat memperoleh pengetahuan yang benar, penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode ilmiah oleh peneliti yang memiliki integritas ilmiah. Penelitian dilaksanakan berdasarkan teori-teori, prinsip-prinsip, serta asumsi-asumsi dasar ilmu pengetahuan dengan menggunakan penalaran deduktif serta prosedur dan teknik sistematik.
Sebagai contoh, Creswell (2012:8-11) menyebutkan setidaknya terdapat 6 sistematika penelitian yaitu: (1) mengidentifikasi masalah penelitian, (2) mencari literatur yang sesuai dan mendukung, (3) menspesifikkan tujuan penelitian, (4) mengumpulkan data, (5) menganalisa dan mengintepretasikan data, dan (6) membuat laporan dan evaluasi penelitian.

 
  


 Gambar 1.1 Sistematika penelitian menurut (Sumber: Creswell, 2012:8)

Aspek temuan dari suatu penelitian dalam bidang Ipteks secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu sebagai hasil ‘menemukan’ dan ‘mengembangkan’ (Mukhadis, 2013:70). Hasil penelitian dikelompokkan ke dalam kategori menemukan apabila dari masalah, metode dan hasil penelitian tersebut memenuhi indikator aspek kebaruan dan belum pernah diteliti oleh peneliti lain sebelumnya. Sedangkan hasil penelitian dikatakan mengembangkan apabila temuan tersebut berupa penyem­purnaan atau modifikasi dari berbagai hasil penelitian sebelumnya yang berorientasi menghasilkan produk, yang memiliki nilai tambah yang dignifikan terhadap produk yang telah ada sebelumnya.
Kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar sebagai penyempurnaan pengetahuan sebelumnya telah dilaksanakan oleh para peneliti dan ilmuan dalam bidang ilmunya masing-masing. Pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori yang telah dihasilkan dari berbagai penelitian itu merupakan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang. Disamping itu hasil penelitian juga telah memungkinkan manusia dapat lebih baik memecahkan masalah-masalah praktis yang dihadapi dalam hidupnya.
Berikut akan dijabarkan secara kompleks tentang bentuk-bentuk konkret dari penelitian –pengertian beserta contohnya- antara lain:

a.    Eksperimen
Penelitian eksperimental merupakan bentuk penelitian percobaan yang berusaha untuk mengisolasi dan melakukan kontrol setiap kondisi-kondisi yang relevan dengan situasi yang diteliti kemudian melakukan pengamatan terhadap efek atau pengaruh ketika kondisi-kondisi tersebut dimanipulasi. Dengan kata lain, perubahan atau manipulasi dilakukan terhadap variabel bebas dan pengaruhnya diamati pada variabel terikat. Menurut Emzir (2008:96-103) desain penelitian ekperimen dibagi menjadi empat bentuk yakni, pre-experimental design, true experimental design, quasy experimental design dan factorial design.
Contoh:
Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran TANDUR Berbantuan Web Interaktif Terhadap Hasil Belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Malang. (Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Malang Tahun Ajaran 2010/2011). (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

b.    Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah suatu metode  penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya. Penggambaran kondisi bisa individual atau menggunakan angka-angka. (Sukmadinata, 2006:5)
Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan suatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya, penelitian demikian disebut penelitan perkembangan (Developmental Studies). Dalam penelitian perkembangan ini ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan waktu.
Contoh:
Manajemen Pengembagan Kinerja Guru SMK se-Kabupaten Kuningan:  Studi Tentang Kepemimpinan Entrepeuneur Dan Sistem kompensasi Kreativitas dan Kinerja Inovatif. (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

c.    Korelasional
Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya hubungan dan tingkat variabel yang penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian. (Sukardi, 2003:166)
Penelitian korelasi merupakan bentuk penelitian untuk memeriksa hubungan diantara dua konsep. Secara umum ada dua jenis pernyataan yang menyatakan hubungan, yaitu: (1) gabungan antara dua konsep, ada semacam pengaruh dari suatu konsep terhadap konsep yang lain; (2) hubungan kausal, ada hubungan sebab akibat. Pada hubungan kausal, penyebab diferensikan sebagai varibel bebas dan akibat direferensikan sebagai variabel terikat. Pada penelitian korelasi tidak ada kontrol atau manipulasi terhadap variabel.
Contoh:
Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kompetensi Interpersonal Pada Remaja (Studi korelasi pada remaja tunanetra yang mengalami ketunanetraan tidak sejak dari lahir di PSBN Wyata Guna Bandung). (Sumber: repository.upi.edu).

d.    Komparatif
Penelitian kausal komparatif atau penelitian ex post facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi variabel tersebut telah terjadi. Pendekatan dasar klausa komparatif melibatkan kegiatan peneliti yang diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya kemudian dia berusaha mencari kemungkinan variabel penyebabnya.
Penelitian komparatif membandingkan situasi masa lalu dan saat ini atau situasi-situasi paralel yang berbeda, khusunya apabila peneliti tidak memiliki kontrol terhadap situasi yang diteliti. Penelitian ini bisa memiliki perspektif makro (misal: internasional,nasional) dan mikro (misal: komunitas, individu).
Contoh:
Studi Komparatif Penerapan Model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Model Problem Based Learning (PBL) dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik dan Elektronika Di SMKN 12 Bandung. (Sumber: repository.upi.edu).

e.    Evaluasi
Penelitian evaluasi merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk memriksa proses perjalanan suatu program  sekaligus menguraikan fakta-fakta yang bersifat kompleks dan terlibat di dalam program. Misalnya adalah keefektifan, efisiensi  dan kemenarikan suatu program (Mukhadis, 2013:61).
Contoh:
Evaluasi Proses Pembelajaran TIK SMA Negeri di Kota Malang Berdasarkan Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses. (Deskriptif tentang kondisi proses pembelajaran mata pelajaran TIK SMA di Kota Malang Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah populasi 10 SMA Negeri dan sampel penelitian sebanyak 5 SMA Negeri). (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

f.     Simulasi
Penelitian simulasi merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk mencari gambaran melalui sebuah sistem berskala kecil atau sederhana (model) dimana di dalam model tersebut akan dilakukan manipulasi atau kontrol untuk melihat pengaruhnya. Penelitian ini mirip dengan penelitian eksperimental, perbedaannya adalah di dalam penelitian ini membutuhkan lingkungan yang benar-benar serupa dengan keadaan atau sistem yang asli.
Contoh:
Penggunaan Simulasi Monte Carlo Untuk Menentukan Nilai Outcome Pada Pengambilan Keputusan (Studi Kasus Pengambilan Keputusan pada Toko NAFC Collection). (Sumber: repository.upi.edu)

g.    Survey
Survey research designs are procedures in quantitative research in which investigators administer a survey to a sample or to the entire population of people to describe the attitudes, opinions, behaviors, or characteristics of the population. (Creswell, 2012: 376)
Penelitian survey digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut bisa berkenaan dengan orang, instansi, lembaga, organisasi dan unit-unit kemasyarakatan dan lain-lain, tetapi sumber utamanya adalah orang. Desain survey tergantung pada penggunaan jenis kuisoner. Survey memerlukan populasi yang besar jika peneliti menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata, semakin besar sample survey semakin memberikan hasil akurat. Penelitian survei memiliki tiga tujuan utama yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengidentifikasi secara terukur keadaan sekarang untuk membandinkan, menentukan hubungan kejadian yang spesifik.
Contoh:
Stress and Burnout in Rural and Urban Secondary School Teachers. Journal of Educational Research. 1999. 92, pg. 287–293. (dalam Creswell, 2012:378)
              
h.    Studi Kasus
Sebuah studi kasus adalah eksplorasi mendalam dari sistem terikat (misalnya, kegiatan, acara, proses, atau individu) berdasarkan pengumpulan data yang luas. Studi kasus melibatkan investigasi kasus, yang dapat didefinisikan sebagai suatu entitas atau objek studi yang dibatasi, atau terpisah untuk penelitian dalam hal waktu, tempat, atau batas-batas fisik. Penting untuk memahami bahwa kasus dapat berupa individu, program, kegiatan, sekolah, ruang kelas, atau kelompok. Setelah kasus didefinisikan dengan jelas, peneliti menyelidiki mereka secara mendalam, biasanya menggunakan beberapa metode pengumpulan data, seperti wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi.
Studi kasus kolektif; (a) melibatkan beberapa kasus, (b) dapat terjadi selama bertahun situs, dan (c) menggunakan banyak individu. Kerangka konseptual untuk studi kasus adalah bahwa dengan mengumpulkan informasi mendalam tentang kasus, peneliti akan mencapai pemahaman mendalam tentang kasus ini, apakah kasus itu adalah seorang individu, kelompok, kelas, atau sekolah.
Contoh:
Butera, G. 2005. Collaboration in the context of Appalachia: The case of Cassie. The Journal of Special Education, 39(2): 106–116.
Butera (2005) menggunakan studi kasus dan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumen untuk menggambarkan kolaborasi tim dengan anak 4 tahun di West Virginia. (Stoner, 2010: 21)

i.      Teori Dasar (Grounded Theory)
Grounded Theory merupakan pendekatan yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan atau menemukan teori yang didasarkan pada studi fenomena. Dengan menggunakan grounded theory, peneliti sengaja (a) memilih peserta yang mengalami fenomena yang sedang dipelajari, (b) menganalisis data (yaitu, wawancara, dokumen, dan catatan), dan (c) mendekati fenomena yang diteliti tanpa prasangka pengertian. Kerangka konseptual ini memungkinkan suara peserta muncul , mensyaratkan bahwa peneliti mengidentifikasi tema utama atau konsep dari data peserta , dan memberikan jalan untuk mengembangkan teori dari perspektif peserta .
Most grounded theory researchers will begin with research questions but they do not start with a hypothesis, nor do they begin their investigation with a thorough review of the literature relating to their topic. They build up theory from their data and they do not wait until all data are collected before they begin the analysis stage. (Bell, 2005: 19)
Contoh:
Bays, D. A., & Crockett, J. B. 2007. Investigating Instructional Leadership For Special Education. Exceptionality, 15(3): 143–161.
Pendekatan grounded theory digunakan oleh Bays dan Crockett (2007) untuk menyelidiki kepemimpinan instruksional untuk pendidikan khusus di sekolah dasar. (Stoner, 2010: 22)

j.     Etnografi
Ethnographic researchers attempt to develop an understanding of how a culture works and many methods and techniques are used in this such us: participant observation, interview, mapping and charting, interaction analysis, study of historical records and current public documents, the use of demographic data. (Bell, 2005:16)
Etnografi adalah analisis mendalam dari kelompok sosial. Data biasanya dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumen. Jenis penelitian ini berfokus pada membangun catatan perilaku dan kepercayaan dari kelompok dari waktu ke waktu. Etnografi mengharuskan peneliti berpartisipasi, baik sebagai pengamat atau peserta aktif, waktu interaksi yang cukup lama dengan kelompok yang diteliti. Kerangka konseptual etnografi adalah bahwa keterlibatan langsung ke dalam budaya kelompok akan memungkinkan peneliti untuk melihat dunia dari perspektif kelompok, dan melihat yang akan memberikan pemahaman tentang perilaku dan keyakinan kelompok.
Contoh:
Harry, Klingner, & Hart. 2005. African American families under fire: Ethno­gra­phic views of family strengths. Remedial and Special Education, 26(2): 101–112.
Harry, Klingner, dan Hart (2005) menerbitkan sebuah studi etnografi siswa Amerika keturunan Afrika dalam pendidikan khusus di sebuah distrik sekolah beragam budaya perkotaan. (Stoner, 2010: 22)

k.    Kultural
Penelitian kultural (budaya) merupakan penelitian yang dilakukan atas objek berupa unsur atau gejala budaya dengan menggunakan perangkat metodologis yang tercakup di dalam ilmu pengetahuan budaya. Unsur atau gejala budaya adalah unsur atau gejala yang terdapat di dalam suatu masyarakat yang berkaitan dengan perangkat nilai-nilai, pemikiran, dan hasil budi daya dalam bentuk interaksi antara masyarakat dengan lingkungannya atau segi hasil pemikiran atau kreasi anggotanya yang terungkap dalam wujud tulisan atau benda-benda.
Contoh:
Identifikasi Ajen Budaya Sunda Dina Wawacan Jaka Bayawak.
(Sumber: repository.upi.edu).

l.      Historis
Penelitian historikal merupakan bentuk penelitian yang memiliki tujuan untuk menggambarkan fakta dan menarik kesimpulan atas kejadian masa lalu. Data primer dari penelitian ini adalah data yang bersifat historis, misalnya para arkeolog menggunakan sumber data berupa dokumentasi tentang masa lalu. Penelitian historikal dapat digunakan untuk menemukan solusi sementara berdasarkan kejadian masa lalu dan menggambarkan tren masa kini atau masa depan.
Kothari (2004) mengategorikan jenis penelitian histori ke dalam dua pendekatan, yaitu pendekatan perspektif –mempelajari kegiatan/agenda masa lampau sampai sekarang- dan pendekatan retroperpektif –mempelajari kegiatan/agenda saat ini kemudian dihubungkan dengan hal serupa di masa lalu-.
Contoh:
Seni Tradisi Gembyung di Kampung Ganceuy Kabupaten Subang 1975-1999 (Suatu Kajian Historis Terhadap Sosial Budaya Masyarakat). (Sumber: repository.upi.edu).

m.  Etnologi
Penelitian etnologi merupakan penelitian yang fokus kepada perilaku manusia. Peneliti lebih condong menggunakan interpretasi langsung dari perilaku subjek yang diteliti daripada melakukan interpretasi dari segi  teoritik. Peneliti harus berusaha untuk tidak nampak sebagai peneliti, karena bila tidak demikian interpretasi atas data yang didapat dari responden akan terpengaruh.
Contoh:
Eufemisme Dalam Bahasa Simalungun (Suatu Kajian Sosiolinguistik) (Sumber: repository.usu.ac.id).

n.     Penelitian Praktis (Penelitian Tindakan/Action Reasearch)
Action research designs often utilize both quantitative and qualitative data, but they focus more on procedures useful in addressing practical problems in schools and the classrooms. Action research designs are systematic procedures used by teachers (or other individuals in an educational setting) to gather quantitative and qualitative data to address improvements in their educational setting, their teaching, and the learning of their students (Creswell, 2012:577).
Penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian yang berisi berbagai macam prosedur untuk menguraikan kasus-kasus yang bersifat mikro atau khusus. Simpulan dari penelitian tindakan langsung diberlakukan hanya untuk kasus yang diteliti dan tidak bisa digeneralisasikan. Penelitian tindakan lebih condok ke metode kualitatif yang sangat bergantung pada data penagamatan yang bersifat behavioralistik.
Contoh:
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Tentang Pemecahan Masalah Yang Melibatkan Uang Melalui Metode Simulasi (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas III B SDN Cicadas 03 Gunung Putri Bogor). (Sumber: repository.upi.edu).

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More