Briefing Kelas Inspirasi Malang
"Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka."
Kami Orang Desa Yang Tak Punya nasionalisme
Kalau seorang pejabat disebut orang yang paling mengerti apa itu nasionalisme, maka – sekali lagi kami belum punya hal itu. Kalian tahu, arti kata oposisi dan koalisi saja kami tidak paham, yang kami paham cuma istilah saling menasehati dan saling tolong, itu saja.
Tampilkan postingan dengan label Kejuruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejuruan. Tampilkan semua postingan
Selasa, Oktober 17
Makna Keterampilan How To Think, How To Learn, dan How To Create dalam Pendidikan
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 19.18
Pendidikan kejuruan hadir sebagai wahana dalam upaya memfasilitasi berkembangnya kemampuan siswa dalam melakukan sinergi secara komperhensif dan produktif antara keterampilan how to think, how to learn, dan how to create untuk dapat berperan sebagai pencipta lapangan kerja (job creator) yang professional, pencari kerja (job seeker) yang kompetitif atau sebagai individu atau kelompok yang memiliki daya enduransi yang tinggi dalam berkompetisi (high degree pursuer) (Mukhadis, 2013:7-8).
Makna Keterampilan how to think, how to learn, dan how to create
1) How to think
How to think merupakan keterampilan berpikir dalam melihat sebuah permasalahan dari berbagai sudut pandang. Keterampilan ini merupakan prasyarat bagi terbentuknya keunggulan kemampuan dalam mengidentifikasi, menganalisis, memahami dan menetapkan skala prioritas alternatif pemecahan masalah yang dihadapi secara efektif dan efisien (Mukhadis, 2009:226). How to think dapat dikerucutkan menjadi 3 pendekatan kemampuan berpikir yaitu kemampuan berpikir kritis (analitik), sintetik (kreatif) dan praktikal.
Berpikir kritis memiliki representasi sebagai keterampilan analisis dan evaluasi ide (Naqiyah, 2005). Keterampilan ini lebih berorientasi pada kemampuan menganalisis dan berpikir kritis terhadap suatu fenomena (masalah). Kemampuan berpikir sintetik merupakan kemampuan membangkitkan ide baru dan menarik, lebih berperan dalam penemuan terhadap alternatif pemecahan masalah yang belum dikenal sebelumnya (berpikir kreatif). Sedangkan kemampuan berpikir praktikal merupakan kemampuan menerjemahkan teori ke dalam praktek, dan merubah ide-ide abstrak ke arah kecakapan praktikal. Kemampuan praktikal juga mempunyai arti sebagai kemampuan melaksanakan alternatif pemecahan masalah yang telah ditemukan, dinilai khalayak, diberi masukan, dan bagaimana kita menyikapi terhadap masukan.
2) How to Learn
Pendidikan kejuruan berfungsi sebagai wahana dalam upaya memfasilitasi berkembangnya proses belajar dan berbuat (learning by doing) dengan mengacu pada ritme dialektika sesuai bidang kejuruan yang ditekuni. Keterampilan dalam belajar (how to learn) menjadi sangat penting sebagai langkah dalam mencari, memanfaatkan dan mengembangkan informasi yang unggul.
Keterampilan tersebut ini direpresentasikan dalam kemampuan melakukan aktivitas learning, unlearning, dan relearning (Harefa, 2010) yang berlangsung sepanjang waktu dimana berada dan bekerja. Karena itu, belajar (learning) akan mengajari seseorang untuk tidak pernah berhenti berpikir. Namun karena dialektika otak dan hati selalu terjadi, secara psikologis adakalanya manusia merasa puas dan merasa sudah menjadi seperti yang mereka harapkan. Pada posisi dan situasi itulah terjadi yang disebut sebagai unlearning.
Ketika otak merasa puas dan berhenti berpikir, manusia bisa saja terperosok ke dalam sebuah dunia lain sehingga dia bertindak tanpa memikirkan risiko dan akibat yang akan ditimbulkannya. Perilaku menyimpang merupakan gambaran bahwa manusia bisa mengalami fase unlearning. Secara ekstrem, gambaran perilaku menyimpang seperti teroris dan koruptor merupakan beberapa contoh bahwa manusia bisa terjebak ke dalam perilaku unlearning (Baedowi, 2012).
Namun jika hati seseorang dapat menuntun lagi kerja otak untuk mulai berpikir dan belajar kembali, fase semacam itu disebut relearning. Untuk kembali belajar (relearning), seseorang tidak hanya membutuhkan tuntunan hatinya, tetapi juga dukungan lingkungannya. Itulah sebabnya untuk kasus-kasus tertentu seperti para bekas teroris, diperlukan sebuah proses belajar kembali dengan cara memberi mereka dukungan untuk kembali kepada habitat dan masyarakat.
Dalam konteks belajar-mengajar, proses relearning juga sejalan dengan prinsip re-education, sebuah basis filosofis untuk bekerja dengan orang-orang yang mengalami gangguan, baik secara emosi maupun perilaku (a philosophical basis for working with person who has emotional and/or behavioral disorders). Dalam proses re-edukasi, mengembalikan mentalitas lama ke dalam pembentukan mentalitas baru yang sesuai dengan kondisi normal lingkungan masyarakatnya ialah imperatif (Baedowi, 2012)..
Keterampilan belajar bukan keterampilan tunggal tetapi merupakan garis kontinum yang bermula dari titik awal kehidupan dan berakhir pada akhir hidup itu sendiri. Learning to learn (how to learn) tumbuh dari sinergi antara intelektual dan moral yang berekspresi dari hasil belajar otentik (actual outcomes). Anwar mengatakan bahwa belajar untuk tahu (learning to know) menjadi basis bagi belajar untuk dapat melakukan (learning to do); belajar untuk dapat melakukan merupakan basis bagi belajar untuk mandiri (learning to survive); belajar untuk mandiri merupakan basis bagi belajar untuk bekerja sama (learning to cooperate) (2006:5).
Tujuan akhir dari keterampilan belajar ialah dimilikinya kemampuan memecahkan masalah secara bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan akhir keterampilan belajar, maka lebih dahulu melalui dua tujuan yaitu: (1) mampu mengenali hakikat diri, potensi dan bakat-bakatnya dan (2) dapat berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasi segenap potensi, mengekspresikan dan menyatakan dirinya seutuhnya denga cara menjadi dirinya sendiri (Anwar, 2006:9).
3) How to Create
Pendidikan kejuruan merupakan wahana dalam upaya memfasilitasi proses kreasi pencapaian sesuatu yang menghasilkan suatu barang, jasa, model atau prototipe yang bernilai tambah (added value) secara ekonomi, bukan sekedar hanya berperan sebagai konsumen atau sekedar sebagai user dari suatu produk yang lain dalam bidang yang relevan (Mukhadis, 2013:7). Untuk dapat memberikan nilai tambah tersebut, pendidikan harus mampu memfasilitasi sinergisitas keterampilan siswa (how to think dan how to learn) sebagai pendorong tumbuh-kembangnya kemampuan untuk berkreasi atau mencipta (how to create) baik secara individu, kelembagaan maupun industri bukan malah tertarik pada budaya mengkonsumsi.
Peradaban teknologi yang unggul suatu bangsa merupakan representasi dari kemampuan emulasi, dan bukannya sekedar kemampuan emitasi. Kemampuan emulasi merupakan prasyarat suatu individu, kelompok, masyarakat, bangsa atau negara untuk melakukan loncatan dalam pengembangan teknologi sebagai sarana pemecahan masalah dalam kehidupan. Wujud dari kemampuan ini adalah keunggulan dalam melakukan sinergi dari berbagai produk teknologi, berbagai informasi, berbagai jasa, dan berbagai sistem yang mutakhir, menjadi suatu sosok produk, sosok informasi, sosok sistem, dan dan sosok jasa yang lebih baru, memiliki nilai tambah dan memiliki keunggulan kompetitif.
Selasa, Oktober 14
Peran dan Fungsi Akademi Komunitas (AK)
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 08.09
Pengangguran merupakan salah satu masalah yang menjadi konsen pemerintah saat ini. Badan Perencanaan Pembagunan Nasional (Bappenas) menyatakan bahwa jumlah pengangguran muda di Indonesia adalah no. 1 terbesar di Asia Pasifik yang selanjutnya diikuti Sri Lanka di urutan ke-2 dan Filipina di urutan ke-3. Melihat fenomena ini, berdasarkan amanat UU No. 12 Tahun 2012, akademi komunitas mengambil peran yang sangat besar. Sebagai suatu jenis pendidikan vokasi setingkat diploma satu dan/atau diploma dua yang berbasis keunggulan lokal atau untuk memenuhi kebutuhan khusus, sumbangsih pendidikan kejuruan dalam mendorong tumbuhnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan memperluas akses pendidikan tinggi sangat diandalkan.
Akademi komunitas (AK) sendiri merupakan bentuk pengembangan dari program yang telah ada sebelumnya yaitu community collage (CC) yang pada tahun 2000-2010 terdapat di 105 SMK, Universitas dan Poltek. CC kemudian mengalami transformasi program menjadi Pendidikan Vokasi Berkelanjutan (PVB) pada tahun 2010-2012 yang berada di 42 Perguruan Tinggi dengan 300 sub kampus (SMK dan Industri) berpola PJJ. Di tahun 2012, barulah nama AK dimunculkan dengan model penyelenggaraannya yang dilaksanakan di daerah (kabupaten/kota) dengan maksud agar biaya pendidikan tinggi dapat ditekan karena peserta didik tidak harus pergi terlalu jauh.
Posisi AK menjadi sangat strategis karena berdasarkan amanat UU No. 12 Tahun 2012, AK merupakan pendidikan vokasi yang diperuntukkan bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat untuk mengembangkan keterampilan dan penalaran dalam penerapan Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi. AK merupakan bagian proses peningkatan pertmubuhan ekonomi bangsa melalui peningkatan tenaga terampil yang mampu menggerakkan roda perekonomian wilayah. Adapun indikator kinerja AK diantaranya: jumlah tenaga terampil yang disediakan dan terserap di industri dan mandiri, jumlah penghasil produk barang dan jasa, dan jumlah kerjasama dengan para pengguna dan industri.
Pada tahun 2012 berdasarkan Kepmendikbud No. 161/P/2012 telah ditetapkan 20 AK dalam bentuk PDD (Prodi Di luar Domisili) dari 12 Perguruan Tinggi (PT) penyelenggara. Salah satu PT yang menjadi penyelenggara adalah Politeknik Negeri Malang yang menyelenggarakan PDD di Kabupaten Bojonegoro dan Kota Blitar. Program studi yang dibuka di Kabupaten Bojonegoro adalah 3 prodi, yaitu komputer akutansi, teknik informatika dan teknik otomotif, sedangkan di Kota Blitar juga terdapat 3 prodi yaitu teknologi informasi, multimedia dan administrasi perkantoran.
Sebagai sebuah program pendidikan yang baru, AK seharusnya memperhatikan tuntutan pasar (market driven) dimana segala bentuk pendidikan harus berorientasi pada keterbutuhan keterampilan di lapangan. Hal ini bersentuhan langsung dengan pengelolaan pembelajaran di AK. Proses pembelajaran menjadi konsen utama karena sesuai dengan jalurnya, AK harus mampu memberikan sajian pembelajaran dengan porsentase 60%-70% teori dan 30%-40% praktek.
Akademi komunitas (AK) sendiri merupakan bentuk pengembangan dari program yang telah ada sebelumnya yaitu community collage (CC) yang pada tahun 2000-2010 terdapat di 105 SMK, Universitas dan Poltek. CC kemudian mengalami transformasi program menjadi Pendidikan Vokasi Berkelanjutan (PVB) pada tahun 2010-2012 yang berada di 42 Perguruan Tinggi dengan 300 sub kampus (SMK dan Industri) berpola PJJ. Di tahun 2012, barulah nama AK dimunculkan dengan model penyelenggaraannya yang dilaksanakan di daerah (kabupaten/kota) dengan maksud agar biaya pendidikan tinggi dapat ditekan karena peserta didik tidak harus pergi terlalu jauh.
Posisi AK menjadi sangat strategis karena berdasarkan amanat UU No. 12 Tahun 2012, AK merupakan pendidikan vokasi yang diperuntukkan bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat untuk mengembangkan keterampilan dan penalaran dalam penerapan Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi. AK merupakan bagian proses peningkatan pertmubuhan ekonomi bangsa melalui peningkatan tenaga terampil yang mampu menggerakkan roda perekonomian wilayah. Adapun indikator kinerja AK diantaranya: jumlah tenaga terampil yang disediakan dan terserap di industri dan mandiri, jumlah penghasil produk barang dan jasa, dan jumlah kerjasama dengan para pengguna dan industri.
Pada tahun 2012 berdasarkan Kepmendikbud No. 161/P/2012 telah ditetapkan 20 AK dalam bentuk PDD (Prodi Di luar Domisili) dari 12 Perguruan Tinggi (PT) penyelenggara. Salah satu PT yang menjadi penyelenggara adalah Politeknik Negeri Malang yang menyelenggarakan PDD di Kabupaten Bojonegoro dan Kota Blitar. Program studi yang dibuka di Kabupaten Bojonegoro adalah 3 prodi, yaitu komputer akutansi, teknik informatika dan teknik otomotif, sedangkan di Kota Blitar juga terdapat 3 prodi yaitu teknologi informasi, multimedia dan administrasi perkantoran.
Sebagai sebuah program pendidikan yang baru, AK seharusnya memperhatikan tuntutan pasar (market driven) dimana segala bentuk pendidikan harus berorientasi pada keterbutuhan keterampilan di lapangan. Hal ini bersentuhan langsung dengan pengelolaan pembelajaran di AK. Proses pembelajaran menjadi konsen utama karena sesuai dengan jalurnya, AK harus mampu memberikan sajian pembelajaran dengan porsentase 60%-70% teori dan 30%-40% praktek.
Kamis, Oktober 2
Manajemen Mutu Laboratorium Pendidikan Kejuruan
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 16.00
Kebanyakan laboratorium sudah melakukan kegiatan pengelolaan yang terdiri dari komponen-komponen dari sistem manajemen mutu. Namun tidak semua kegiatan manajemen yang diperlukan dipraktekkan di setiap laboratorium dan kegiatan tersebut belum mempunyai suatu standar sehingga penerapannya bisa berbeda-beda. Hal ini menimbulka suatu variasi dalam praktek manajemen yang menyebabkan penggunaan sumber daya tidak efektif. Oleh karena itulah diperlukan suatu standarisasi atau keseragaman. Standar Manual Mutu (SMM) merupakan suatu keseragaman, cara yang sistematis -setiap laboratorium- untuk memastikan bahwa persyaratan sedang terus berkesinambungan setiap kali dan setiap hari.
Pada SMM, hal yang dilakukan untuk menerapkan standarisasi adalah analisa, proses kerja spesifik dan prosedur untuk penerapannya. Selanjutnya, laboratorium harus menentukan tanggung jawab dan hubungan pelaporan dari semua orang yang terlibat dalam layanan baru. Kemudian, perlu untuk mengidentifikasi pelanggan potensial dan menentukan kebutuhan dan harapan mereka untuk layanan baru. Selanjutnya, rekam data meliputi fasilitas yang memadai, orang, peralatan, dan bahan. Semua yang berhubungan dengan lagkah tersebut perlu dikembangkan, divalidas, dan didokumentasikan. Staf perlu dilatih dan kompetensi awal mereka dinilai. Laboratorium perlu untuk menentukan cara-cara yang hasil pasien dan laporan akan dikelola untuk layanan baru. Ada perlu menentukan alat laboratorium untuk menangkap pengaduan dan ketidaksesuaian untuk layanan baru. Laboratorium perlu untuk menentukan bagaimana akan mengukur kinerjanya untuk menentukan apakah tujuan, sasaran, dan harapan pelanggan sedang bertemu untuk layanan baru. Laboratorium perlu untuk menentukan cara-cara yang kualitas laporan akan disiapkan secara berkala untuk layanan baru. Terakhir, laboratorium perlu untuk menentukan bagaimana manajemen akan meninjau dan mengidentifikasi peluang untuk perbaikan proses dan memprioritaskan dan memulai kegiatan perbaikan. Jika kesemuanya sudah terpenuhi dan terlewati, maka pengujian layanan baru yang sudah terstandarisasi bisa dimulai.
Salah satu cara untuk menggambarkan ini urutan kejadian penting manajerial adalah dengan sedikit memodifikasi model SMM, dimana standar mutu terbagi menjadi tiga kelompok: (1) laboratorium, (2) bekerja, dan (3) pengukuran. Laboratorium terdiri dari komponen struktur organisasi yang jelas, fasilitas dan perlengkapan keselamatan, personil, peralatan, pembelian dan persediaan. Pada kelompok bekerja –eksekusi- terdapat komponen proses kontrol, pembuatan catatan dan pendokumentasian administrasi dan kegiatan serta manajemen informasi dalam pengolahan data masukan. Sedangkan penilaian keberhasilannya dilihat dari manajemen kejadian, audit internal dan eksternal, pelayanan pelanggan dan proses peningkatan mutu. Jantung SMM laboratorium adalah kebijakan, proses, prosedur dan dokumen sehingga segala kegiatan yang dilakukan harus terekam dengan baik.
Pada SMM, hal yang dilakukan untuk menerapkan standarisasi adalah analisa, proses kerja spesifik dan prosedur untuk penerapannya. Selanjutnya, laboratorium harus menentukan tanggung jawab dan hubungan pelaporan dari semua orang yang terlibat dalam layanan baru. Kemudian, perlu untuk mengidentifikasi pelanggan potensial dan menentukan kebutuhan dan harapan mereka untuk layanan baru. Selanjutnya, rekam data meliputi fasilitas yang memadai, orang, peralatan, dan bahan. Semua yang berhubungan dengan lagkah tersebut perlu dikembangkan, divalidas, dan didokumentasikan. Staf perlu dilatih dan kompetensi awal mereka dinilai. Laboratorium perlu untuk menentukan cara-cara yang hasil pasien dan laporan akan dikelola untuk layanan baru. Ada perlu menentukan alat laboratorium untuk menangkap pengaduan dan ketidaksesuaian untuk layanan baru. Laboratorium perlu untuk menentukan bagaimana akan mengukur kinerjanya untuk menentukan apakah tujuan, sasaran, dan harapan pelanggan sedang bertemu untuk layanan baru. Laboratorium perlu untuk menentukan cara-cara yang kualitas laporan akan disiapkan secara berkala untuk layanan baru. Terakhir, laboratorium perlu untuk menentukan bagaimana manajemen akan meninjau dan mengidentifikasi peluang untuk perbaikan proses dan memprioritaskan dan memulai kegiatan perbaikan. Jika kesemuanya sudah terpenuhi dan terlewati, maka pengujian layanan baru yang sudah terstandarisasi bisa dimulai.
Salah satu cara untuk menggambarkan ini urutan kejadian penting manajerial adalah dengan sedikit memodifikasi model SMM, dimana standar mutu terbagi menjadi tiga kelompok: (1) laboratorium, (2) bekerja, dan (3) pengukuran. Laboratorium terdiri dari komponen struktur organisasi yang jelas, fasilitas dan perlengkapan keselamatan, personil, peralatan, pembelian dan persediaan. Pada kelompok bekerja –eksekusi- terdapat komponen proses kontrol, pembuatan catatan dan pendokumentasian administrasi dan kegiatan serta manajemen informasi dalam pengolahan data masukan. Sedangkan penilaian keberhasilannya dilihat dari manajemen kejadian, audit internal dan eksternal, pelayanan pelanggan dan proses peningkatan mutu. Jantung SMM laboratorium adalah kebijakan, proses, prosedur dan dokumen sehingga segala kegiatan yang dilakukan harus terekam dengan baik.
Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknik dan Kejuruan (Vocational dan Technical Education)
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 15.48
Hasil Resume Buku
Curriculum Development in Vocational and Technical Education
Kurikulum dapat didefinisikan sebagai akumulasi dari kegiatan pembelajaran dan pengalaman di bawah naungan sekolah. Untuk pengembang kurikulum diberikan dua konsep pendukung tambahan. Pertama, pusat dari kurikulum adalah siswa. Konsep pendukung kedua berkaitan dengan luasnya pengalaman dan kegiatan yang berhubungan dengan kurikulum belajar. Pada definisi kurikulum yang lebih luas, harus diperhatikan bagaimana kegiatan belajar dan pengalaman harus berhubungan dengan studi yang telah dipilih.
Kurikulum merupakan berbagai pengalaman siswa di lingkungan sekolah, instruksi berfokus pada penyampaian pengalaman-pengalaman. Lebih khusus, instruksi dapat dianggap sebagai interaksi yang direncanakan antara instruktur dan siswa yang (semoga) menghasilkan pembelajaran yang diinginkan. Sebuah deskripsi singkat dari pengembangan kurikulum dan pengembangan instruksional harus membantu dalam mengklarifikasi perbedaan-perbedaan pendapat. Pengembangan kurikulum berfokus terutama pada konten dan bidang yang terkait yang meliputi makro atau kegiatan berbasis luas yang berdampak pada program yang luas, kursus, dan pengalaman siswa. Bahkan, kurikulum harus mendefinisikan misi institusi dan tujuan. Kegiatan kurikulum biasanya dilakukan sebelum dan pada tingkat lebih tinggi dari pengembangan instruksional. Sebaliknya, pengembangan instruksional lebih merupakan kegiatan mikro yang dibangun pada pengembangan kurikulum melalui perencanaan dan persiapan pengalaman belajar tertentu dalam program.
A. KARAKTERISTIK KURIKULUM KEJURUAN DAN TEKNIK
Meskipun pendidikan kejuruan dan teknik termasuk dalam keseluruhan kerangka pendidikan, kurikulum kejuruan dan teknik memiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dari pendidikan lainnya. Pembeda kurikulum pendidikan kejuruan dengan pendidikan lainnya dilihat dari:
B. SISTEM TERPADU KURIKULUM PENDIDIKAN KEJURUAN
Fokus utama dari Sistem Terpadu bagi Kurikulum Pendidikan Kejuruan adalah pengelompokan isi kurikulum inti yaitu, teknis dan aplikasi, dan pengelompokan isi kurikulum khusus yaitu, teknis dan aplikasi. Kinerja Berbasis Desain Instruksional. Sistem meliputi tujuh komponen, yang masing-masing memberikan kontribusi terhadap perkembangan instruksi bermakna. Satu output komponen menjadi masukan untuk komponen berikutnya, dengan demikian manfaat kumulatif berasal yang mengambil bentuk peningkatan kemampuan peserta didik.
Model Kurikulum Tematik menekankan penciptaan kurikulum yang mempertemukan pengalaman belajar seputar tema mencakup dan domi¬nan. Dalam desain kurikulum ini, "semua aspek" dapat berfungsi sebagai strategi yang berguna untuk memastikan bahwa tema termasuk pengalaman belajar dalam berbagai industri dan bidang, kekhawatiran, masalah, dan pengetahuan dan keterampilan teknologi.
C. STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Keputusan dibagi menjadi 2 macam yaitu keputusan kebijakan dan keputusan operasional. Keputusan kebijakan terdiri dari penetapan saran, tujuan pendidikan, perumusan berbagai prosedur dan berbagai strategi pelaksanaan pendidikan. Sedangkan keputusan operasional berupa keputusan yang tertuang dalam administrasi supervisi, evaluasi, pengembangan kurikulum, penerapan kurikulum dan administrasi evaluasi kurikulum.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputu-san tingkat satuan pendidikan antara lain:
D. PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN KEJURUAN MODERN DAN TEKNIK PROGRAM PENDIDIKAN
Curriculum Development in Vocational and Technical Education
Oleh Wahyu Nur H
Kurikulum merupakan berbagai pengalaman siswa di lingkungan sekolah, instruksi berfokus pada penyampaian pengalaman-pengalaman. Lebih khusus, instruksi dapat dianggap sebagai interaksi yang direncanakan antara instruktur dan siswa yang (semoga) menghasilkan pembelajaran yang diinginkan. Sebuah deskripsi singkat dari pengembangan kurikulum dan pengembangan instruksional harus membantu dalam mengklarifikasi perbedaan-perbedaan pendapat. Pengembangan kurikulum berfokus terutama pada konten dan bidang yang terkait yang meliputi makro atau kegiatan berbasis luas yang berdampak pada program yang luas, kursus, dan pengalaman siswa. Bahkan, kurikulum harus mendefinisikan misi institusi dan tujuan. Kegiatan kurikulum biasanya dilakukan sebelum dan pada tingkat lebih tinggi dari pengembangan instruksional. Sebaliknya, pengembangan instruksional lebih merupakan kegiatan mikro yang dibangun pada pengembangan kurikulum melalui perencanaan dan persiapan pengalaman belajar tertentu dalam program.
A. KARAKTERISTIK KURIKULUM KEJURUAN DAN TEKNIK
Meskipun pendidikan kejuruan dan teknik termasuk dalam keseluruhan kerangka pendidikan, kurikulum kejuruan dan teknik memiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dari pendidikan lainnya. Pembeda kurikulum pendidikan kejuruan dengan pendidikan lainnya dilihat dari:
- Orientasi: Kurikulum kejuruan dan teknik berorientasi pada proses (pengalaman dan aktifitas dalam lingkungan sekolah) dan produk (hasil dari proses pengalaman dan aktifitas siswa).
- Justifikasi: Kurikulum kejuruan dan teknik dibuat dan dikembangkan berdasarkan identifikasi kebutuhan kerja dan sumber daya yang tersedia di daerah tertentu.
- Fokus: Tidak seperti kurikulum pendidikan lainnya, kurikulum pendidikan kejuruan diidentifikasikan menurut kebutuhan di daerah tertentu. Lebih ditekankan kepada kebutuhan pencarian tenaga kerja di daerah tersebut, atau lapangan pekerjaan yang sedang dibutuhkan. Dan diharapkan mendapatkan pekerjaan setelah lulus dan mengisi kekosongan lapangan pekerjaan.
- Standar keberhasilan di sekolah: Pelajar akan diberi tugas dan kegiatan oleh instruktur dalam pembelajarannya yang akan berguna untuk dunia kerja.
- Standar keberhasilan setelah sekolah: Selain dinilai berhasil dalam melanjutkan ke jenjang sekolah lebih tinggi, mantan siswa SMK harus menunjukkan keberhasilan mereka dalam dunia kerja. Karena lulusan SMK sudah mendapatkan pembelajaran lebih mendalam pada suatu kompetensi keahlian daripada lulusan dari sekolah umum.
- Responsif: Setiap perkembangan baru dalam berbagai bidang harus dimasukkan ke kurikulum sehingga lulusan SMK dapat bersaing dalam pekerjaan dan mereka akan mendapat nilai tambah karena sudah pernah magang.
- Logistik: Menyatukan fasilitas yang ada dalam satu inventaris yang di atur penataan dan perawatannya. Menyediakan laboratorium untuk penempatan inventaris dan pelatihan.
- Biaya: Biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan kejuruan lebih besar daripada pendidikan lain. Beban biaya tergantung dari pembelian, perawatan, pemeliharaan, penggantian peralatan, dll.
B. SISTEM TERPADU KURIKULUM PENDIDIKAN KEJURUAN
Fokus utama dari Sistem Terpadu bagi Kurikulum Pendidikan Kejuruan adalah pengelompokan isi kurikulum inti yaitu, teknis dan aplikasi, dan pengelompokan isi kurikulum khusus yaitu, teknis dan aplikasi. Kinerja Berbasis Desain Instruksional. Sistem meliputi tujuh komponen, yang masing-masing memberikan kontribusi terhadap perkembangan instruksi bermakna. Satu output komponen menjadi masukan untuk komponen berikutnya, dengan demikian manfaat kumulatif berasal yang mengambil bentuk peningkatan kemampuan peserta didik.
Model Kurikulum Tematik menekankan penciptaan kurikulum yang mempertemukan pengalaman belajar seputar tema mencakup dan domi¬nan. Dalam desain kurikulum ini, "semua aspek" dapat berfungsi sebagai strategi yang berguna untuk memastikan bahwa tema termasuk pengalaman belajar dalam berbagai industri dan bidang, kekhawatiran, masalah, dan pengetahuan dan keterampilan teknologi.
C. STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Keputusan dibagi menjadi 2 macam yaitu keputusan kebijakan dan keputusan operasional. Keputusan kebijakan terdiri dari penetapan saran, tujuan pendidikan, perumusan berbagai prosedur dan berbagai strategi pelaksanaan pendidikan. Sedangkan keputusan operasional berupa keputusan yang tertuang dalam administrasi supervisi, evaluasi, pengembangan kurikulum, penerapan kurikulum dan administrasi evaluasi kurikulum.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputu-san tingkat satuan pendidikan antara lain:
- Sekolah mengacu kepada kebijakan-kebijakan nasional, provinsi, dan kota/kabupaten.
- Merumuskan kebijakan-kebijakan tambahan yang berkaitan dengan ciri khas daerah dengan cacatan tidak bertentangan dengan kebijakan nasional.
- Dalam penetapan kebijakan secara yuridis, sekolah dapat memilih dan menetapkan sendiri pengembangan kurikulum, seperti kurikulum muatan local dan dapat pula bekerja sama dengan dunia usaha/industri (DU/DI).
D. PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN KEJURUAN MODERN DAN TEKNIK PROGRAM PENDIDIKAN
- Standarisasi Test: Salah satu pendekatan untuk menilai minat kerja dari sekelompok besar siswa adalah menyamakan standar tes yang digunakan. Hal ini sangat membantu jika beberapa tingkatan kelas yang berbeda yang akan diamati. Tes tersebut juga dapat digunakan untuk alat yang efektif dalam perencanaan kurikulum.
- Standart Test Bakat: Tes bakat didapatkan dari kemampuan siswa untuk belajar dari buku atau tugas-tugas yang diperlukan di sekolah. Beberapa tes bakat yang dapat diberikan adalah tes kematangan mental, tes kemampuan mental, dan tes kecerdasan.
- Standar Tes Prestasi: Tes prestasi mengukur hasil belajar siswa dalam suatu sekolah, sedangkan tes bakat lebih banyak digunakan untuk memprediksi kinerja siswa untuk kedepannya.
Rabu, September 17
MASALAH, VARIABEL, HIPOTESIS DAN DATA PENELITIAN KUANTITATIF, KUALITATIF DAN PENGEMBANGAN
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 12.57
Oleh: Wahyu Nur H
A. MASALAH
A. MASALAH
Penelitian jenis apapun titik tolaknya
tidak lain bersumber pada masalah. Tanpa masalah penelitian itu tidak dapat
dilaksanakan. Pada dasarnya penelitian kualitatif tidak dimulai dari sesuatu
yang kosong, tetapi dilakukan berdasarkan persepsi seseorang terhadap adanya
masalah. Dalam penelitian kualitatif
“masalah” yang dibawa oleh peneliti masih remang-remang, bahkan gelap,
kompleks, dan dinamis. Oleh karena itu, “masalah” dalam penelitian kualitatif
masih bersifat sementara, tentative, dan akan berkembang atau berganti setelah
peneliti berada dilapangan.
Terdapat perbedaan antara masalah dan
rumusan masalah, masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang
terjadi, sedangkan perumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang disusun berdasarkan masalah
yang harus dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.
Dalam pandangan peneliti kualitatif
gejala dalam suatu obyek itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat
dipisah-pisahkan). Dalam penelitian kuantitatif masalah yang akan dipecahkan
melalui penelitian harus jelas, spesifik, dan dianggap tidak berubah. Sedangkan
pada penelitian pengembangan, penelitian dapat dilakukan karena adanya potensi
atau masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan
memiliki suatu nilai tambah pada produk yang diteliti. Pemberdayaan akan
berakibat pada peningkatan mutu dan akan meningkatkan pendapatan atau
keuntungan dari produk yang diteliti. Masalah juga bisa dijadikan sebagai
potensi, apabila kita dapat mendayagunakannya.
B.
VARIABEL
Dalam penelitian kualitatif, variabel
yang digunakan tidak jauh berbeda dengan penelitian kuantitatif. Dalam
penelitian kualitatif hubungan antar semua varibel tersebut akan diamati,
karena penelitian kualitatif berasumsi bahwa gejala itu tidak dapat
diklasifikasikan, tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (holistic). Dalam penelitian kuantitatif,
variabel penelitian dapat diartikan sebagai atribut dalam penelitian yang
berupa obyek, orang atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu dan telah
ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti atau dipelajari dan disimpulkan. Dalam
penelitian kuantitatif, variabel penelitian terdiri dari beberapa macam berdasarkan
hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain. Dalam penelitian
pengembangan, variabel penelitian adalah objek penelitian/apa yang menjadi
titik perhatian suatu penelitian. Variabel penelitian dan pengembangan harus
dipertimbangkan dengan mengacu pada karakteristik kondisi dan karakteristik
faktor hasil yang diharapkan. Faktor kondisi, konteks ini dapat berupa visi
dari suatu program yang dikembangkan, misi dari suatu program yang
dikembangkan, tujuan program yang dikembangkan, karakteristik pelaksana,
kendala yang tidak dapat dielakkan, dan sarana pendukung dalam pelaksanaan
suatu program.
1.
Macam-macam
variabel dalam penelitian
a.
Variabel Independen
Dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel bebas.
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Sebagai contoh:
variabel bebas (independen) yang digunakan adalah pendekatan konstruktivistik
(PBL dan QL) dan motivasi berprestasi (tinggi atau rendah).
b.
Variabel Dependen
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau
menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Sebagai contoh: variabel terikat
(dependen) yang digunakan adalah kemampuan pemecahan masalah dan penguasaan
konsep pada materi dasar pemrograman.
c.
Variabel Moderator
Variabel moderator adalah variabel yang dimanipulasi,
dipilih atau diukur peneliti untuk mengetahui apakah peneliti memodifikasi
hubungan yang ada antara variabel independen dengan dependen. Sebagai contoh,
perbedaan variabel X (tingkat kecerdasan) dan variabel Y (hasil belajar),
peneliti menduga bahwa variabel X (tingkat kecerdasan) dan variabel Y (hasil
belajar) dapat dimodifikasi oleh variabel Z (pendekatan audio-tutorial), maka
variabel Z (pendekatan audio-tutorial) adalah variabel moderator.
d.
Variabel Intervening (Antara)
Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis
mempengaruhi gejala yang diamati, tetapi tidak dapat diamati, dimanipulasi,
maupun diukur. Sebagai contoh, kebiasaan membaca menunjukkan hubungan yang positif
dengan umur, tetapi hanya melalui suatu variabel antara yaitu pendidikan. Ini
berarti bahwa seorang lanjut usia yang tidak sekolah, tidak akan lebih banyak
membaca dibandingkan pada masa mudanya.
e.
Variabel Kontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau
dibuat konstan atau dinetralkan pengaruhnya sehingga hubungan variabel
independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak
diteliti. Variabel kontrol sering digunakan untuk melakukan penelitian yang
bersifat membandingkan. Sebagai contoh: perbedaan rasa, warna dan tekstur pada
permen jelly jeruk mandarin dan jeruk lokal. Variabel kontrolnya adalah waktu
dan suhu yang digunakan saat membuat permen jelly sama dan komposisi bahan
(berat bahan) yang digunakan dalam pembuatan permen jelly juga sama.
C.
HIPOTESIS
Hipotesis adalah pernyataan tentatif yang merupakan
dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk
memahaminya. Dalam suatu penelitian hipotesis memiliki fungsi, yaitu: menguji
kebenaran suatu teori, memberi ide untuk mengembangkan suatu teori, memperluas
pengetahuan kita mengenai gejala-gejala yang kita pelajari. Dalam penelitian
pengembangan hipotesis digunakan apabila dilakukan uji efektivitas, efisiensi,
kemenarikan, kepraktisan dari prototipe yang sudah teruji melalui kegiatan
eksperimen pada latar dan sasaran yang lebih luas.
Dilihat dari posisi dimana hipotesis ditempatkan, dapat
dibedakan menjadi hipotesis penelitian dan hipotesis statistika. Berikut uraian
dari dua macam hipotesis tersebut:
1.
Hipotesis
Penelitian
Hipotesis ini berfungsi memberikan jawaban sementara
terhadap rumusan masalah (research
questions). Hipotesis ini umumnya sama banyaknya dengan jumlah rumusan
masalah yang telah ditetapkan dalam rencana penelitian. Dilihat dari posisinya
ditempatkan pada bab kedua, setelah landasan teori atau setelah kerangka
berpikir tersusun. Hipotesis penelitian pada umumnya tidak diuji menggunakan
teknik statistika, karena fungsinya yang utama adalah untuk memberikan jawaban
sementara sebagai rambu-rambu tindakan selanjutnya.
2.
Hipotesis
Statistika
Hipotesis ini strukturnya merupakan rangkaian dua atau
lebih variabel yang menjadi interes dan hendak diuji oleh si peneliti.
Hipotesis ini digunakan jika peneliti melakukan uji analisis dengan hanya
menggunakan sebagian dari keseluruhan data yang ada, sedangkan proses teknik
statistika yang menggambarkan pengambilan keseluruhan ke arah sebagian populasi
disebut sebagai proses inferensi. Jika hasil analisis dari sampel tersebut lalu
digunakan untuk menyimpulkan hasil analisis keseluruhan atau populasi, maka
proses tersebut disebut sebagai proses generalisasi.
D.
DATA
Dalam
penelitian kualitatif, data dapat diperoleh dari berbagai sumber dengan
menggunakan teknik pengumpulan data triangulasi dimana data yang diperoleh
harus sesuai dengan tingkat keajegan dan kejenuhan suatu data, dan pengumpulan
data dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Pada penelitian
pengembangan upaya mengumpulkan data melalui kegiatan Training Needs Assesment
dapat berupa kegiatan wawancara, pengamatan, pertemuan kelompok, dan survei
menggunakan kuesioner. Pemilihan kegiatan untuk pengumpulan data bergantung
pada konteks bidang program yang dikembangkan dan sifat dari data atau
informasi yang diperlukan.
Jenis data yang
digunakan pada penelitian kualitatif terdiri dari dua jenis, yaitu:
1.
Data primer, yaitu data
yang dikumpulkan sendiri oleh suatu lembaga dan diterbitkan oleh lembaga itu
pula. Contoh data primer yaitu: hasil wawancara dengan informan berupa: 1) data
tentang persiapan yang dilakukan SMK Negeri 1 Bontang dalam mewujudkan sekolah
bertaraf internasional, 2) data proses pelaksanaan program sekolah menengah
kejuruan bertaraf internasional di kota Bontang.
2.
Data sekunder, yaitu
data yang diperoleh dari pihak lain yang telah mengumpulkan terlebih dahulu dan
menerbitkannya. Contoh data sekunder yaitu: data hasil penelitian terdahulu.
Data
yang baik harus memenuhi dua persyaratan atau dua prinsip, yakni:
1.
Data harus memenuhi
prinsip reliabilitas
Prinsip
ini meliputi syarat-syarat sebagai berikut:
a.
Data harus obyektif,
artinya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sesuai dengan apa adanya.
b.
Data harus
representatif, artinya data sampel itu harus dapat mewakili seluruh
populasinya.
c.
Data harus teliti,
artinya mempunyai penyimpangan standar yang kecil. Perkiraan parameter populasi
dikatakan baik bila penyimpangan standarnya kecil.
2.
Data harus memenuhi
prinsip validitas
Prinsip
validitas ini meliputi syarat-syarat sebagai berikut:
a.
Data harus tepat waktu
(up to date), artinya tidak
kadaluwarsa agar supaya faktor biasnya kecil.
b. Data harus relevan,
artinya ada hubungannya dengan permasalahan yang akan dipecahkan.
MACAM, FUNGSI, PENELUSURAN, PENGKAJIAN DAN PEREKAMAN KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 12.47
Oleh: Wahyu Nur Hidayat
A.
PENGERTIAN KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka
adalah pengkajian kembali literatur-literatur yang terkait (review of
related literature). Sesuai dengan arti tersebut kajian pustaka berfungsi
sebagai pengkajian kembali (review) pustaka (laporan penelitian dan
sebagainya) tentang masalah yang berkaitan, tidak selalu tepat identik dengan
bidang permasalahan yang dihadapi, tetapi termasuk pula yang seiring dan
berkaitan.
B.
MACAM-MACAM
KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN
Kajian pustaka
dari hasil penelitian lain dimaksudkan untuk memperkuat pandangan peneliti
didukung oleh hasil penelitian lain yang relevan, serta untuk menghindari
adanya pengulangan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain atau
menjaga originalitas penelitian. Kajian pustaka primer meliputi jurnal
penelitian, laporan hasil penelitian, abstrak, narasumber.
Kajian pustaka
dari teori dimaksudkan agar peneliti dapat mengidentifikasi masalah yang
diteliti dalam konteks ilmu pengetahuan yang relevan. Kajian pustaka dari teori
merupakan kajian pustaka dari sumber pustaka sekunder. Sumber pustaka
sekunder adalah publikasi di mana
penulis mendeskripsikan hasil karya orang lain. Sumber sekunder adalah buku
(text books), ensiklopedia pendidikan, kajian penelitian, atau buku tahunan.
Macam-macam kajian pustaka primer sebagai berikut: (a) Buku adalah sumber pustaka ilmiah yang
secara resmi telah dipublikasikan atau telah menjadi peganggan dalam
mempelajari suatu bidang ilmu. (b) Surat
kabar/ majalah merupakan sumber pustaka yang cukup baik dan mudah diperoleh
dimasyarakat, mengingat informasi dari surat kabar dan majalah merupakan
informasi yang sifatnya popular tapi para peneliti dianjurkan untuk lebih
dahulu mengevaluasi isi yang hendak diambil seperti what, who, how, when, why. Kemudian (c) Internet merupakan sumber kajian pustaka yang dihasilkan akibat
kemajuan teknologi yang telah membawa dampak yang sangat signifikan dibidang
informasi, dalam melakukan kajian pustaka menggunakan internet prinsip
pemutakhiran sangat penting karena ilmu
berkembang dengan cepat. Sebuah teori yang efektif pada suatu periode mungkin
sudah ditinggalkan pada periode berikutnya.
Sedikitnya terdapat dua syarat utama yang harus dipenuhi oleh
sumber bacaan, yaitu: (a) adanya keterkaitan antara isi bacaan dengan masalah
yang dibahas, (b) Kemutakhiran sumber bacaan, artinya sumber bacaan yang sudah
kadaluwarsa isinya harus ditinggalkan.
Sering dijumpai banyak laporan penelitian mencantumkan daftar pustaka yang
sangat banyak, tetapi tidak berkaitan
dengan masalah yang dibahas.
Pada umumnya urutan langkah yang dilakukan dalam melakukan kajian
teoritis melalui sumber bacaan adalah sebagai berikut: Mengkaji teori-teori
ilmiah yang berhubungan dengan konsep-konsep yang dipermasalahkan dan akan
dipakai dalam analisis (a) membahas hasil-hasil kajian ilmiah lain yang
berhubungan dengan apa yang dipermasalahkan (b) merangkum hasil-hasil kajian
teori, yang dapat berupa kesimpulan yang berisi jawaban sementara (hipotesis)
terhadap rumusan masalah, atau rangkuman argumentasi teoritik yang akan
digunakan hasil kajian, (c) mengkaji rumusan masalah penelitian,
mengidentifikasi istilah kunci dan topik yang terkait dengan rumusan masalah,
(d) teori-teori yang digunakan untuk mendukung penelitian bukan hanya yang
tercantum dalam rumusan masalah, melainkan pula yang menggambarkan hubungan
sebab akibat dengan variabel yang diteliti.
C.
LANGKAH-LANGKAH
MELAKUKAN PEREKAMAN KAJIAN PUSTAKA
Langkah-langkah
untuk melakukan perekaman kajian pustaka, sebagi berikut: (a)
memulai dengan materi hasil penelitian yang secara sekuensi diperhatikan
dari yang paling relevan, relevan dan cukup relevan. Cara lain dapat juga
misalnya, dengan melihat tahun penelitian di awali dari yang paling mutakhir
dan berangsur-angsur mundur ketahuan yang lebih lama, selanjutnya (b) Membaca
abstrak dari setiap penelitian lebih dahulu untuk memberikan penilaian apakah
permasalahan yang di bahas sesuai dengan yang akan dipecahkan dalam penelitian,
(c) Mencatat bagian-bagian penting dan relevan dengan permasalahan penelitian untuk
menjaga agar tidak terjebak dalam unsure plagiat, para peneliti hendaknya juga
mencatat sumber-sumber informasi dan mecantumkannya dalam daftar pustaka, jika
memang informasi berasal dari ide / hasil penelitian orang lain, (d)
membuat catatan kutipan atau salinan
informasi sehingga peneliti dengan mudah dapat mencari kembali bila
sewaktu-waktu diperlukan, sangat di anjurkan dalam hal ini bagi para peneliti
agar membuat kutipan dalam sistem kartu berukuran 7,5 x 10 cm atau yang sudah
di sediakan dalam toko-toko buku dan alat tulis umumnya. Kedua muka kartu
secara bolak-balik dapat digunakan. Muka pertama untuk substansi kutipan,
sedangkan muka sebaliknya sebagai catatan sumber kutipan, (e) Atur kartu-kartu
tersebut menurut abjad atau katalog yang telah dibuat sesuai dengan interes
peneliti, agar mudah dalam mencari bila sewaktu-waktu diperlukan, (f) Tulis juga pada muka kartu sebaliknya, dari
mana sumber tersebut di ambil secara lengkap dan teliti, (g) Agar mudah mencari
dan mengatur kartu-kartu yang di buat, peneliti hendaknya membuat satu
substansi kutipan untuk setiap kartu, (h) Yakinkan bahwa isi acuan tersebut di
kutip secara langsung, di ringkas atau di uraikan dengan menggunakan bahasa
sendiri. Hal yang demikian perlu dilakukan agar peneliti terhindar dari
plagiator (penjiplak).
D.
KAJIAN PUSTAKA DARI TEORI YANG BERKAITAN DENGAN PERMASALAHAN YANG
DITELITI (SEKUNDER)
Adapun struktur
penulisan kutipan kajian pustaka baik dari kajian pustaka primer maupun
sekunder adalah sebagi berikut:
1.
Cara
Menulis Kutipan Langsung
a.
Kutipan
kurang dari 40 kata
Kutipan yang berisi kurang dari 40 kata ditulis di antara tanda kutip (“....”) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama, dan diikuti nama penulis, tahun dan nomor halaman.
Nama penulis dapat ditulis secara terpadu dalam teks atau menjadi satu dengan tahun dan nomor halaman di dalam kurung.
nama penulis disebut dalam teks secara terpadu.
Contoh:
Soebronto (1990:123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”.
Nama penulis disebut bersama dengan tahun penerbitan dan nomor halaman.
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (Soebronto, 1990:123)
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘...’)
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat kecenderungan semakin banyak ‘campur tangan’ pimpinan perusahaan semakin rendah tingkaat partisispasu karyawan di daerah perkotaan” (Soewignyo, 1991:101).
b.
Kutipan
40 kata atau lebih
Kutipan yang
berisi 40 atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang
mendahului, ditulis 1,2 cm dari garis tepi sebelah kiri dan kanan, dan diketik
dengan spasi tunggal. Nomor halaman juga harus ditulis.
Contoh:
Smith
(1990:276) menarik kesimpulan sebagai berikut.
The ‘placebo effect’, which had been verified in previous studies,
disappeared when behaviors were studied in this manner. Furthermore, the
behaviors were never exhibited again, even when real drugs were administered.
Earlier studies were clearly premature in attributing the results to a plcaebo
effect.
c.
Kutipan
yang sebagian dihilangkan
Apabila
dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang dibuang, maka
kata-kata yang dibuang diganti dengan tiga titik.
Contoh:
“Semua pihak
terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah ... diharapkan sudah
melaksanakan kurikulum baru” (Manan, 1995:278).
Apabila ada kalimat yang dibuang, maka
kalimat yang dibuang diganti dengan empat titik.
Contoh:
“Gerak
manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara mata, tangan,
atau bagian tubuh lain .... Yang termasuk gerak manipulatif antara lain adalah
menangkap bola, menendang bola, dan menggambar” (Asim, 1995:315).
2.
Cara
Menulis Kutipan Tidak Langsung
Kutipan yang disebut secara tak
langsung atau dikemukakan dengan bahasa penulis sendiri tanpa tanda kutip dan
terpadu dalam teks. Nama penulis bahan kutipan dapat disebut terpadu dalam
teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbitnya. Jika memungkinkan
nomor halaman disebutkan. Perhatikan contoh berikut.
Nama penulis disebut terpadu dalam
teks.
Contoh:
Salimin
(1990:13) tidak menduga bahwa mahasiswa tahun ketiga lebih baik daripada
mahasiswa tahun keempat.
Nama penulis disebut dalam kurung
bersama tahun penerbitannya.
Contoh:
Mahasiswa tahun
ketiga ternyata lebih baik dari pada mahasiswa tahun keempat (Salimin,
1990:13).
Penelitian Sebagai Upaya Sistematik Dalam Menemukan Dan Atau Mengembangkan Pengetahuan Yang Benar
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 06.58
Oleh: Wahyu Nur Hidayat, 2011
Aktivitas penelitian di berbagai bidang ipteks secara
substansi ditandai oleh empat hal, yaitu adanya upaya bersifat sistematik,
adanya sesuatu hasil temuan, adanya kebermanfaatan dan adanya tindak lanjut
penyebarluasan temuan (Mukhadis, 2013:70).
Upaya sistematik dalam konteks ini ditandai dengan adanya kejelasan
langkah-langkah yang ditempuh secara eksplisit, jelas dan lugas mulai dari
penentuan masalah sampai penarikan kesimpulan dan atau generalisasi
(perampatan) dan dapat direplikasi oleh peneliti lain temuan (Mukhadis,
2013:70). Penelitian sebagai upaya
sistematik memiliki arti bahwa untuk
dapat memperoleh pengetahuan yang benar, penelitian dilaksanakan dengan
menggunakan metode ilmiah oleh peneliti yang memiliki integritas ilmiah. Penelitian dilaksanakan berdasarkan teori-teori,
prinsip-prinsip, serta asumsi-asumsi dasar ilmu pengetahuan dengan menggunakan
penalaran deduktif serta prosedur dan teknik sistematik.
Sebagai
contoh, Creswell (2012:8-11)
menyebutkan setidaknya terdapat 6 sistematika penelitian yaitu: (1)
mengidentifikasi masalah penelitian, (2) mencari literatur yang sesuai dan
mendukung, (3) menspesifikkan tujuan penelitian, (4) mengumpulkan data, (5)
menganalisa dan mengintepretasikan data, dan (6) membuat laporan dan evaluasi
penelitian.
Gambar
1.1 Sistematika
penelitian menurut (Sumber: Creswell, 2012:8)
Aspek temuan dari suatu penelitian dalam bidang Ipteks
secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu sebagai hasil
‘menemukan’
dan ‘mengembangkan’
(Mukhadis, 2013:70). Hasil penelitian dikelompokkan ke dalam kategori menemukan
apabila dari masalah, metode dan hasil penelitian tersebut memenuhi indikator
aspek kebaruan dan belum pernah diteliti oleh peneliti lain sebelumnya.
Sedangkan hasil penelitian dikatakan mengembangkan apabila temuan
tersebut berupa penyempurnaan atau modifikasi dari berbagai hasil penelitian
sebelumnya yang berorientasi menghasilkan produk, yang memiliki nilai tambah
yang dignifikan terhadap produk yang telah ada sebelumnya.
Kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar
sebagai penyempurnaan pengetahuan sebelumnya telah dilaksanakan oleh para
peneliti dan ilmuan dalam bidang ilmunya masing-masing. Pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep,
generalisasi-generalisasi, dan teori-teori yang telah dihasilkan dari berbagai
penelitian itu merupakan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi dalam berbagai bidang. Disamping itu hasil penelitian juga telah
memungkinkan manusia dapat lebih baik memecahkan masalah-masalah
praktis yang dihadapi dalam hidupnya.
Berikut akan dijabarkan secara kompleks tentang bentuk-bentuk
konkret dari penelitian –pengertian
beserta contohnya- antara lain:
a. Eksperimen
Penelitian eksperimental merupakan bentuk penelitian
percobaan yang berusaha untuk mengisolasi dan melakukan kontrol setiap
kondisi-kondisi yang relevan dengan situasi yang diteliti kemudian melakukan
pengamatan terhadap efek atau pengaruh ketika kondisi-kondisi tersebut
dimanipulasi. Dengan kata lain, perubahan atau manipulasi dilakukan terhadap
variabel bebas dan pengaruhnya diamati pada variabel terikat. Menurut Emzir (2008:96-103)
desain penelitian ekperimen dibagi menjadi empat bentuk yakni, pre-experimental design, true experimental design, quasy experimental design dan factorial design.
Contoh:
Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran TANDUR
Berbantuan Web Interaktif Terhadap Hasil Belajar Teknologi Informasi dan
Komunikasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Malang. (Kuasi Eksperimen
terhadap Siswa Kelas VII SMP Negeri 3
Malang
Tahun Ajaran 2010/2011). (Sumber:
perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak
diterbitkan).
b. Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah suatu metode
penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang
ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau. Penelitian ini tidak
mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi
menggambarkan suatu kondisi apa adanya. Penggambaran kondisi bisa individual
atau menggunakan angka-angka. (Sukmadinata, 2006:5)
Penelitian deskriptif, bisa
mendeskripsikan suatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan
dalam tahapan-tahapan perkembangannya, penelitian demikian disebut penelitan
perkembangan (Developmental Studies).
Dalam penelitian perkembangan ini ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan
waktu.
Contoh:
Manajemen
Pengembagan Kinerja Guru SMK se-Kabupaten Kuningan: Studi Tentang Kepemimpinan Entrepeuneur Dan
Sistem kompensasi Kreativitas dan Kinerja Inovatif. (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri
Malang, skripsi tidak diterbitkan).
c. Korelasional
Penelitian korelasi adalah suatu
penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah
ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya
hubungan dan tingkat variabel yang penting, karena dengan mengetahui tingkat
hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan
penelitian. (Sukardi, 2003:166)
Penelitian korelasi merupakan bentuk penelitian
untuk memeriksa hubungan diantara dua konsep. Secara umum ada dua jenis
pernyataan yang menyatakan hubungan, yaitu: (1) gabungan antara dua konsep, ada
semacam pengaruh dari suatu konsep terhadap konsep yang lain; (2) hubungan
kausal, ada hubungan sebab akibat. Pada hubungan kausal, penyebab diferensikan
sebagai varibel bebas dan akibat direferensikan sebagai variabel terikat. Pada
penelitian korelasi tidak ada kontrol atau manipulasi terhadap variabel.
Contoh:
Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kompetensi Interpersonal Pada
Remaja (Studi korelasi
pada remaja tunanetra yang mengalami ketunanetraan tidak sejak dari lahir di
PSBN Wyata Guna Bandung). (Sumber: repository.upi.edu).
d. Komparatif
Penelitian kausal komparatif atau penelitian ex post facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis dimana
ilmuan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi
variabel tersebut telah terjadi. Pendekatan dasar klausa komparatif melibatkan
kegiatan peneliti yang diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu
terhadap variabel lainnya kemudian dia berusaha mencari kemungkinan variabel
penyebabnya.
Penelitian komparatif membandingkan situasi masa
lalu dan saat ini atau situasi-situasi paralel yang berbeda, khusunya apabila
peneliti tidak memiliki kontrol terhadap situasi yang diteliti. Penelitian ini
bisa memiliki perspektif makro (misal: internasional,nasional) dan mikro
(misal: komunitas, individu).
Contoh:
Studi Komparatif
Penerapan Model Contextual Teaching and
Learning (CTL)
dengan Model Problem Based Learning (PBL) dalam
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada
Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik dan Elektronika Di SMKN 12 Bandung. (Sumber: repository.upi.edu).
e. Evaluasi
Penelitian evaluasi merupakan bentuk penelitian yang
bertujuan untuk memriksa proses perjalanan suatu program sekaligus menguraikan fakta-fakta yang
bersifat kompleks dan terlibat di dalam program. Misalnya adalah keefektifan, efisiensi dan kemenarikan
suatu program (Mukhadis, 2013:61).
Contoh:
Evaluasi Proses
Pembelajaran TIK SMA Negeri di Kota Malang Berdasarkan Pada Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar
Proses. (Deskriptif tentang kondisi proses pembelajaran mata pelajaran TIK SMA
di Kota Malang Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah populasi 10 SMA Negeri dan
sampel penelitian sebanyak 5 SMA Negeri). (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak
diterbitkan).
f. Simulasi
Penelitian simulasi merupakan bentuk penelitian yang
bertujuan untuk mencari gambaran melalui sebuah sistem berskala kecil atau
sederhana (model) dimana di dalam model tersebut akan dilakukan manipulasi atau
kontrol untuk melihat pengaruhnya. Penelitian ini mirip dengan penelitian
eksperimental, perbedaannya adalah di dalam penelitian ini membutuhkan
lingkungan yang benar-benar serupa dengan keadaan atau sistem yang asli.
Contoh:
Penggunaan Simulasi Monte Carlo Untuk Menentukan Nilai Outcome Pada Pengambilan Keputusan (Studi Kasus Pengambilan Keputusan pada Toko NAFC Collection). (Sumber: repository.upi.edu)
Penggunaan Simulasi Monte Carlo Untuk Menentukan Nilai Outcome Pada Pengambilan Keputusan (Studi Kasus Pengambilan Keputusan pada Toko NAFC Collection). (Sumber: repository.upi.edu)
g. Survey
Survey research designs are procedures in quantitative research in which
investigators administer a survey to a sample or to the entire population of
people to describe the attitudes, opinions, behaviors, or characteristics of
the population. (Creswell, 2012: 376)
Penelitian survey digunakan untuk
mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan
sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut bisa berkenaan dengan orang,
instansi, lembaga, organisasi dan unit-unit kemasyarakatan dan lain-lain,
tetapi sumber utamanya adalah orang. Desain survey tergantung pada penggunaan
jenis kuisoner. Survey memerlukan populasi yang besar jika peneliti
menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata, semakin besar sample survey
semakin memberikan hasil akurat. Penelitian survei memiliki tiga tujuan utama
yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengidentifikasi secara terukur keadaan
sekarang untuk membandinkan, menentukan hubungan kejadian yang spesifik.
Contoh:
Stress and Burnout
in Rural and Urban Secondary School Teachers. Journal of Educational Research. 1999. 92, pg. 287–293. (dalam
Creswell, 2012:378)
h. Studi
Kasus
Sebuah studi kasus adalah
eksplorasi mendalam dari sistem terikat (misalnya,
kegiatan, acara, proses,
atau individu) berdasarkan pengumpulan data yang luas. Studi kasus
melibatkan investigasi kasus, yang dapat didefinisikan sebagai suatu entitas
atau objek studi yang dibatasi, atau terpisah untuk penelitian dalam hal waktu,
tempat, atau batas-batas fisik. Penting untuk memahami bahwa kasus dapat berupa
individu, program, kegiatan, sekolah, ruang kelas, atau kelompok. Setelah kasus
didefinisikan dengan jelas, peneliti menyelidiki mereka secara mendalam,
biasanya menggunakan beberapa metode pengumpulan data, seperti wawancara,
observasi lapangan, dan dokumentasi.
Studi kasus
kolektif; (a) melibatkan beberapa kasus, (b) dapat terjadi selama bertahun situs,
dan (c) menggunakan banyak individu. Kerangka konseptual untuk studi kasus
adalah bahwa dengan mengumpulkan informasi mendalam tentang kasus, peneliti
akan mencapai pemahaman mendalam tentang kasus ini, apakah kasus itu adalah
seorang individu, kelompok, kelas, atau sekolah.
Contoh:
Butera, G. 2005.
Collaboration in the context of Appalachia: The case of Cassie. The Journal of Special Education, 39(2):
106–116.
Butera (2005)
menggunakan studi kasus dan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi,
dan dokumen untuk menggambarkan kolaborasi tim dengan anak 4 tahun di West
Virginia. (Stoner, 2010: 21)
i. Teori
Dasar (Grounded Theory)
Grounded Theory merupakan pendekatan yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan atau
menemukan teori yang didasarkan pada studi fenomena. Dengan menggunakan grounded theory, peneliti sengaja (a)
memilih peserta yang mengalami fenomena yang sedang dipelajari, (b)
menganalisis data (yaitu, wawancara, dokumen, dan catatan), dan (c) mendekati
fenomena yang diteliti tanpa prasangka pengertian. Kerangka konseptual ini
memungkinkan suara peserta muncul , mensyaratkan bahwa peneliti
mengidentifikasi tema utama atau konsep dari data peserta , dan memberikan
jalan untuk mengembangkan teori dari perspektif peserta .
Most grounded theory researchers will begin with research
questions but they do not start with a hypothesis, nor do they begin their
investigation with a thorough review of the literature relating to their topic.
They build up theory from their data and they do not wait until all data are
collected before they begin the analysis stage. (Bell, 2005: 19)
Contoh:
Bays, D. A., &
Crockett, J. B. 2007. Investigating Instructional Leadership For Special
Education. Exceptionality, 15(3):
143–161.
Pendekatan grounded
theory digunakan oleh Bays dan Crockett (2007) untuk menyelidiki kepemimpinan
instruksional untuk pendidikan khusus di sekolah dasar. (Stoner, 2010: 22)
j. Etnografi
Ethnographic researchers attempt to develop an understanding
of how a culture works and many methods and techniques are used in this such
us: participant observation, interview, mapping and charting, interaction
analysis, study of historical records and current public documents, the use of
demographic data. (Bell,
2005:16)
Etnografi adalah
analisis mendalam dari kelompok sosial. Data biasanya dikumpulkan melalui
observasi, wawancara, dan dokumen. Jenis penelitian ini berfokus pada membangun
catatan perilaku dan kepercayaan dari kelompok dari waktu ke waktu. Etnografi
mengharuskan peneliti berpartisipasi, baik sebagai pengamat atau peserta aktif,
waktu interaksi yang cukup lama dengan kelompok yang diteliti. Kerangka
konseptual etnografi adalah bahwa keterlibatan langsung ke dalam budaya
kelompok akan memungkinkan peneliti untuk melihat dunia dari perspektif
kelompok, dan melihat yang akan memberikan pemahaman tentang perilaku dan
keyakinan kelompok.
Contoh:
Harry, Klingner,
& Hart. 2005. African American families under fire: Ethnographic views of
family strengths. Remedial and Special
Education, 26(2): 101–112.
Harry, Klingner,
dan Hart (2005) menerbitkan sebuah studi etnografi siswa Amerika keturunan
Afrika dalam pendidikan khusus di sebuah distrik sekolah beragam budaya
perkotaan. (Stoner, 2010: 22)
k. Kultural
Penelitian kultural (budaya) merupakan penelitian
yang dilakukan atas objek berupa unsur atau gejala budaya dengan menggunakan
perangkat metodologis yang tercakup di dalam ilmu pengetahuan budaya. Unsur
atau gejala budaya adalah unsur atau gejala yang terdapat di dalam suatu
masyarakat yang berkaitan dengan perangkat nilai-nilai, pemikiran, dan hasil
budi daya dalam bentuk interaksi antara masyarakat dengan lingkungannya atau
segi hasil pemikiran atau kreasi anggotanya yang terungkap dalam wujud tulisan
atau benda-benda.
Contoh:
Identifikasi Ajen Budaya Sunda Dina Wawacan Jaka
Bayawak.
(Sumber:
repository.upi.edu).
l. Historis
Penelitian historikal merupakan bentuk penelitian
yang memiliki tujuan untuk menggambarkan fakta dan menarik kesimpulan atas kejadian
masa lalu. Data primer dari penelitian ini adalah data yang bersifat historis,
misalnya para arkeolog menggunakan sumber data berupa dokumentasi tentang masa
lalu. Penelitian historikal dapat digunakan untuk menemukan solusi sementara
berdasarkan kejadian masa lalu dan menggambarkan tren masa kini atau masa
depan.
Kothari (2004)
mengategorikan jenis penelitian histori ke dalam dua pendekatan, yaitu
pendekatan perspektif –mempelajari kegiatan/agenda masa lampau sampai sekarang-
dan pendekatan retroperpektif –mempelajari kegiatan/agenda saat ini kemudian
dihubungkan dengan hal serupa di masa lalu-.
Contoh:
Seni Tradisi Gembyung di Kampung Ganceuy Kabupaten Subang 1975-1999
(Suatu Kajian Historis Terhadap Sosial Budaya Masyarakat). (Sumber: repository.upi.edu).
m. Etnologi
Penelitian etnologi merupakan penelitian yang fokus
kepada perilaku manusia. Peneliti lebih condong menggunakan interpretasi
langsung dari perilaku subjek yang diteliti daripada melakukan interpretasi
dari segi teoritik. Peneliti harus
berusaha untuk tidak nampak sebagai peneliti, karena bila tidak demikian
interpretasi atas data yang didapat dari responden akan terpengaruh.
Contoh:
Eufemisme Dalam Bahasa Simalungun (Suatu Kajian
Sosiolinguistik) (Sumber:
repository.usu.ac.id).
n. Penelitian
Praktis (Penelitian Tindakan/Action
Reasearch)
Action research designs often utilize
both quantitative and qualitative data, but they focus more on procedures
useful in addressing practical problems in schools and the classrooms. Action research
designs are systematic procedures used by teachers (or other individuals in an
educational setting) to gather quantitative and qualitative data to address
improvements in their educational setting, their teaching, and the learning of
their students (Creswell, 2012:577).
Penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian yang
berisi berbagai macam prosedur untuk menguraikan kasus-kasus yang bersifat
mikro atau khusus. Simpulan dari penelitian tindakan langsung diberlakukan
hanya untuk kasus yang diteliti dan tidak bisa digeneralisasikan. Penelitian
tindakan lebih condok ke metode kualitatif yang sangat bergantung pada data
penagamatan yang bersifat behavioralistik.
Contoh:
Upaya Meningkatkan
Hasil Belajar Matematika Siswa Tentang Pemecahan Masalah Yang Melibatkan Uang
Melalui Metode Simulasi (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas III B SDN
Cicadas 03 Gunung Putri Bogor). (Sumber:
repository.upi.edu).





