Sabtu, Februari 19

Rindu tak Terobati

aku merindukanmu
disaat dirimu semakin menghilang dari hidupku
rasa ini hambar dan hidup ku pun serasa sepi
sendiri dalam lelah menanti

aku menunggumu
menunggu bayangmu lewat menyapa
aku diam dalam setiap hembus nafas
akankah kau kembali dalam pelukan kisah lalu??

6-9-2010

Ku Rindu Kau Mama...

ku ambil secarik kertas
dan ku goreskan pena kerinduan
untukmu mama...

dalam kesendirian,
sejak terakhir kau jenguk aku dalam mimpi-mimpi mu,
kesepian diam2 hadir menggerayangi,
dan semua yang berasa ramai,
seolah sirna tergusur waktu

mama...
biarkanlah aku menangis,
dalam keriduan akan belaianmu,
dalam kerinduan akan suaramu,
dalam kerinduan akan nasehat2mu,
juga senyum dan tawamu...

mama...
sehabis petang ini hilang,
kirimkanlah seekor kunang,
yang menemaniku dalam gelapnya malam,
agar rasa sepi ini hilang,
dan ku rasakan hadirmu mendekap,
menuntunku dalam lelap asaku.

mama...
sudah lama ku nantikan belaianmu,
yang hanya bisa ku rasa lewat bayu,
kirim kabar satu-satu,
aku makin rindu...

hari penantian pun datang,
dan semua yang larut dalam keramaian,
diam-diam mengirimkan doanya,
berharap rindu ini terhapus,
walau sedentang waktu...

ku layangkan pandangku
pada seorang wanita paruh baya
dengan langkah kaki yang tak biasa
menyusuri kelas satu-satu
seakan mencari tahu
keberadaan liliput kecil
yang sedari lama pergi menuntun ilmu.

berhentilah dia di hadapku,
wajah ini...
suara ini...
dan perangai ini...
tak asing lagi bagiku
sosok mama seakan hadir dalam penantian
-dialah bulik-
seorang bibi yang slalu mengurus dan merawat ku disini.

Tuhan...
kiranya kau dengar doa hambaMu ini,
walaupun mama tak bisa hadir menemaniku,
tlah Kau kirim bidadari seanggun dia,
sedikit galau ku pun hilang, Tuhan...

Tuhan...
jika Kau ijinkan aku tuk berdoa lagi,
ku inginkan dia benar2 hadir dalam nyataku,
dialah mama,
yang tak pernah tergantikan
dan slalu mendekam dalam sanubariku

dan terkirim satu rindu untukmu,
mama...
dari anakmu tercinta.

Prigi

ombak mengiring tawa di pantai prigi

ingin rasa ku hempaskan tubuhku di tengah samudra
yang membawa tenangnya dalam lusuh pikirku
hari-hari yang lalu terkubur dalam ricik air yang menabrak karang
mengoyak kepenatan dalam keriangan

aku pun berlari meninggalkan lorong yang pekat itu
yang berapa lama menjeratku dalam ketiadaan
raga berdiri namun jiwa letih tak berdaya
sungguh hari-hari dalam kehampaan

dan sekarang...
akupun bebas!
bebas berenang, bebas menyelam
sebebas ikan pindang yang lolos dari jaring nelayan
dan teriakan ini...
ku persembahkan bagi diriku, mereka dan semua yang mendengarku,
kebebasan benar-benar dalam nyatanya


Sabtu, 12 Juni 2010

Mawarku

pertama ku bertemu denganmu
rasa ini sungguh tak menentu
kau tersipu malu karna ku
saat ku layangkan pandangku kepadamu

aku terbuai dengan kata-katamu
lembut, merdu dan bersahaja
dan semua isi ruangan itu
terkagum melihat matamu yang merona

duhai kau mawar yang tlah lama hilang
aku sungguh terjatuh dalam merahmu
aku sungguh terpaku akan harummu
aku sungguh terbuai akan lembutmu

aku yakin...
banyak hati yang juga melayangkan pandang padamu
aku juga yakin...
bukan diriku saja yang sedang terbuai olehmu
dan yang paling q yakin...
hati ini tlah terpikat olehmu

Ooohhh...
duhai sang mawar ku
mengapa kau tumbuhkan rasa ini lagi??
aku sudah melupakan kenangan itu

ooohhh...
apakah ini suatu mimpi
yang hanya sekejab lalu pergi?
tidak...tidaklah tidak
jangan...pegilah jangan
aku sunggguh haus akan tatapanmu

aku disini..
dan masih tetap disini untuk berdiri...
menemani mekar merahmu...
kau mawarku...


03.35 WIB
Malang, 20 Februari 2010

Ku Tanya

ku tanya embun di pagi ini
"masihkah kau rindukan mentari?"
dengan senyum, dia menjawab
"ku kan slalu disini menantikan cahyanya"

ku tanya angin di sore hari
"masihkah kau rindukan awan?"
tanpa berlama dia berkata
"kan ku bawa keliling dunia dan akulah miliknya"

dan ketika ku tanya pada hatiku di sepanjang malam
"masihkah kau rindukan biduanmu?"
dengan lirih dan terbata, aku bekilah
"dia sudah ada yang punya"

tak berlama,
bisu pun bersilah pergi
dan akupun hanya terdiam tak berdaya
tergolek lemah diantara dedaunan
yang jatuh menghujam dengan sindir tawanya
-siluman mimpi lemah di nyatanya-
bisingpun menguburku di kekelaman...


Malang, 6 Juli 2010
Inilah nyata, dan siapa saja yang meragukan hatinya, suatu saat penyesalan kan melanda. Teruntuk pak demang dan mbok sum, yang tlah menertawakan seorang temanku, kau adalah aspirin di sisa-sisa kepercayaan ini...
Terimakasih teman sampaikan. Dengan lirih dan sedikit diberani-beranikan dia berjanji, tak akan hanya berjaya di mimpi, semua akan terbukti...ku takkan berlari lagi.

Ku Paksakan

...

ku paksakan membuka cakrawala dan bangun dari tidurku, pagi itu
tak pernah ku buyarkan mimpiku sepagi ini dan sejarahpun mengurai crita

dengan terseok langkah kaki berujar pada jalannya,
mataku yang masih setengah terpejam, ku guyur dengan mata air telaga
dingin, dingin sekali pagi itu dan tulang2 serta jantung ini tertusuk berulang-ulang
sejenak ku terdiam di keramaian kokok ayam dan tetesan embun yang menyambut mentari di langit timur
inilah pagiku yang gila membangunkanku, lantang dia berujar,
"bangun gan, ladangmu tlah menunggu"
...


13 Juli 2010

Kau Anggap Kami Apa?

........
sekarang ku tantang kau
-seorang bangsat dalam jajaran berdasi-

dalam pidatomu di lapangan pinggir desaku yang malang ini
kau ucapkan dengan lantang padaku dan pada kami yang mendengarkan bualan periodikmu
"Kalian adalah masa depan masa depan bangsa!
Kalian adalah para penerus pahlawan-pahlawan bangsa
dan di punggung kalian, nasib bangsa ini dipertaruhkan!"

hha...
aku, aan, arip, aris, guk san, guk di dan yang lain
semuanya tertawa bersama tepukan formal yang kami hadiahkan untuk gaya dan tenagamu

..........

"Jika kami memang masa depanmu! Bersiapkah engkau jadi masa lalu?"

..........
Kau katakan dengan lantang, kami ini masa depan kalian,
Namun ketika kami bergeming tentang kesiapan kaian menjadi masa lalu, maka jawaban tak pasti yang kami dapat.

Engkau memang benar2 tidaklah siap menjadikan kami tulang punggung bangsamu ...yang besar ini...
sekali lagi, aku dan teman2ku tertawa abis...
sampai2 perut kami yang pada buncit karna mahalnya hidup, membuat kami berpikir tuk pergi meninggalkan bualan2mu dan membuangnya jauh2 ke angkasa...

biar semua tau bahwa semua itu PALSU!

Malang, 29 Juli 2010

Gadis Berkerudung Biru

gadis berkerudung biru
can...tik sekali siang itu
menarik sukma untuk mencumbu
di peraduan buaian bayu

ku terjatuh pada tatapannya
tajam menusuk relung hatiku
ingin rasa ku singkap waktu
membuka angan, menerpa pandang

kau jadikan aku raja di singgasanamu
ku angkat ratu kau temani aku
bercakap kita terdiam tanpa kata
dalam nafas sebaris nama
"oh... adinda.."

jika ini yang pertama...
kau sangat menggoda
jikalaupun ini menjadi yang terakhir bagi kita...
kau takkan pernah ku lupa

"Din,
jikalapun kita jauh,
pandanglah embun dan mentari di pagi hari,
tanpa malu mereka merindu,
begitu pula aku..."


Malang, 4 Juli 2010

Ucup dan Final AFF 2010 I (26 Desember 2010)

13.00 WIB

Riuh gemuruh angin membawa pesan
"INDONESIA MERAIH MIMPI", ulasan salah satu media televisi
Ucup, Seorang anak paruh baya
yang sedari tadi setia menyimak berita
bingung dan bertanya padaku,
"maksud e opo?" -maksudnya apa-
akupun tak heran dengan tanyanya...

Di saat uforia AFF 2010 menggema di seluruh penjuru Indonesia
tak lain dan tak bukan karna TIMNAS kita belum pernah terkalahkan sejak babak penyisihan
serta pesta gol-gol diluar dugaan
antusiasme meningkat dan harapan itu muncul kembali

sedang untuk satu anak ini,
akupun turut berduka,
dia adalah 1 dari sekian ribu masyarakat Indonesia
yang trauma akan prestasi persepakbolaan negeri ini.
15 tahun sejak piala Tiger -dan sekarang AFF- digelar,
Bangsa kita hanya mampu menjadi spesialis Runner Up selama 3 kali,
dan ini cukup membuat kita haus kemenangan
di perparah lagi,
5 tahun belakangan,
permainan kita sangatlah buruk
bahkan sandangan spesialis (2) tak pernah terdengar lagi pekiknya.
dan semuanya itu cukup membuat anak yang duduk termangu ini
kehilangan harapan pada Timnas GARUDA

Sejak awal bola bergulir,
dan GARUDA tampil gemilang dengan melibas HARIMAU MALAYA 5-1
dilanjut 6-0 dengan LAOS dan 2-1 dengan THAILAND
tetap membuatnya teguh pendirian
takkan melihat GARUDA bertanding lagi...
trauma akut pun serasa tlah mengalir ke seluruh nadinya

hingga sampai siang ini,
disaat kami terpaku di depan layar bersama,
alisnya pun terangkat
dan menyirat keheranan
"Hah..!! Opo bener mas?", tanyanya sambil tangan kanannya menepuk pundakku dengan keras
"Iyo leee...", sahutku dengan sedikit meringis kesakitan
"Jambu, Asem, Anggur..." dan beberapa nama buah-buahan hingga hewan dia sebut satu persatu,
dan berakhir dengan bacaan syukur, "Alhamdulillah duh gusti..."
akupun tak luput dari tendangan dan pukulannya
anak ini tlah hidup kembali dari traumanya
dan orang di dekatnya saat itu -aku-
menjadi samsak pelampiasan kebahagian
remuk semua rasa

tapi tak apa,
syukurlah dia tlah kembali
dan doa serta harapan pun dipanjatkan
setidaknya belum terlambat
untuk mendukung GARUDA beraksi sore ini.

 

17.40 WIB
Suara adzan magrib pun berkumandang
dari sebuah surau kecil pinggir kali

Cepat-cepat Ucup melangkahkan kakinya
berdandan ala santri,
peci hitam, sarung dan baju koko pun membalut tubuhnya
berlomba untuk shof terdepan
dan berharap doa hari ini akan lebih manjur

salam pun terdengar
dan dzikir serta doa-doa telah dipanjatkan bersama
perlahan lahan,
Ucup pun menggeser posisi duduk ke pojok kanan depan
dalam kerendahan diri,
dia pun menengadahkan tangannya ke atas
seraya berdoa...

"Tuhan...
cukup lama ku terpuruk lesu
dalam kubangan yang ku bangun
berserta ribuan harap yang terkubur
pada kejayaan dan kemenangan sang GARUDA

3 kali Kau tunda kemenangan ini,
bahkan untuk 5 tahun belakangan
Kau cabut kepak2 sayap yang menggelora
seaakan Kau wajibkan kami berpuasa
dan ayat-ayat yang ku lantunkan tiap malam
mencumbu dan berbisik
"belum waktunya, sobat..."

Dan pada satu waktu
akupun berhenti dalam harap
biarlah GARUDA terbang sendiri
cukuplah,
tak usah ajak aku,
aku malu...

Namun setelah lama menunggu,
Kau hadirkan momen itu lagi, Tuhan...
jiwa yang tlah lama tertidur
seakan bangkit.
bersama riuh sorai dari Sabang - Merauke

GARUDA DI DADAKU
GARUDA KEBANGGAANKU
KU YAKIN...
HARI INI, PASTI MENANG!

TUHAN...
Kami sudah rindu kemenangan,
Dalam kerendahan diri ini
ku mohon padaMu...
Lancarkanlah jalan sang GARUDA menggapai mimpinya
Berilah kami pelepas dahaga setelah lama berpuasa
inilah harap kami dalam kuasaMu...

Kau pemilik kami,
dan Kau tau yang terbaik bagi kami,
Trima kasih Tuhan
amien, amien ya rabbal alamin..."

dan ucup pun tak kuasa menahan air matanya
yang sedari dari menetes bersama bulir-bulir harapnya


-bersambung-

Aku, Kamu dan Kainmu

Bagus memang namamu
Indah benar gayamu
Namun tak jua luluhkan hatiku
Karna semua itu semu

Aku benci dirimu
Bukan karna lakumu, pikirmu, dan bahkan wajahmu
Namun topeng yang kau bawa...
Kain yang kau kenakan...
Klambu yang kau kibarkan...
Semua tau itu

Pernah kau buang aku di lembah tak bertuan
Karna memang aku tak punya tuan
dan juga aku tak mau mempertuankanmu
aku, kamu dan kainmu....
semakin mengharu

Lusa dan kini...
Aku berjalan di kesendirian
Tanpa kainmu
Tanpa topengmu
Dan tanpa kelambumu
aku...dan kesendirian...


H5. 205, UM, Malang (PTK)
11.45 WIB, 25-2-2010

Minggu, Februari 13

Printing/Mencetak Halaman Power Point (Buku Saku)

Kali ini kita akan membahas bagaimana caranya untuk mencetak halaman power point seperti layaknya buku saku. Dimana dalam satu kertas bisa tercetak 2, 4, 6, 9 atau lebih slide. Sehingga dengan bentuknya yang kecil, bisanya banyak orang menyebutnya sebagai cetakan buku saku.

Pertama buat slide presentasi yang akan dicetak, paling tidak sediakan 6 slide/ halaman yang siap untuk dicetak. Berikut contohnya:

image

Gambar 1. Contoh Slide Power Point yang akan dicetak

Untuk mecetak, klik tombol image pada pojok kiri atas power point, seperti berikut:

image

Gambar 2. Tempat untuk mencetak (Ms. Office Power Point 2007)

Atau tekan tombol Ctrl + P pada keyboard untuk mengeluarkan kotak pencetakan, sehingga tampilan yang keluar semacam berikut:

image

Gambar 3. Hasil tampilan untuk mencetak (Ctrl + P)

Keterangan:

Name : pilih printer yang akan digunakan untuk mencetak

Print range : All untuk mencetak keseluruhan halaman

Current Slide untuk mencetak halaman tempat kursor berada

Slide untuk mencetak slide yang dipilih saja

Pada kali ini akan dicontohkan untuk mencetak seluruh halaman, dengan cara pada menu Print what pilih Handout dan tentukan banyaknya slide per halaman.

image

Gambar 4. pilih Handout

image

Gambar 5. Tentukan banyaknya slide dalam satu kertas yang akan dicetak

Jika menginginkan urutan vertikal atau horizontal, bisa Anda gunakan pilihan Order: Horizontal atau Vertikal. Sedang untuk pilihan warna atau tidak, bisa Anda gunakan pilihan Color/grayscale.

Klik OK untuk mencetak, sehingga hasilnya seperti berikut:

image

Gambar 6. Hasil cetak 6 slide per halaman

image

Gambar 7. Hasil cetak9 slide per halaman

Selamat mencoba.

Sangat mudah kan untuk membuat cetakan buku saku? Open-mouthed smile

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More