Briefing Kelas Inspirasi Malang
"Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka."
Kami Orang Desa Yang Tak Punya nasionalisme
Kalau seorang pejabat disebut orang yang paling mengerti apa itu nasionalisme, maka – sekali lagi kami belum punya hal itu. Kalian tahu, arti kata oposisi dan koalisi saja kami tidak paham, yang kami paham cuma istilah saling menasehati dan saling tolong, itu saja.
Rabu, September 17
MACAM, FUNGSI, PENELUSURAN, PENGKAJIAN DAN PEREKAMAN KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 12.47
Oleh: Wahyu Nur Hidayat
A.
PENGERTIAN KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka
adalah pengkajian kembali literatur-literatur yang terkait (review of
related literature). Sesuai dengan arti tersebut kajian pustaka berfungsi
sebagai pengkajian kembali (review) pustaka (laporan penelitian dan
sebagainya) tentang masalah yang berkaitan, tidak selalu tepat identik dengan
bidang permasalahan yang dihadapi, tetapi termasuk pula yang seiring dan
berkaitan.
B.
MACAM-MACAM
KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN
Kajian pustaka
dari hasil penelitian lain dimaksudkan untuk memperkuat pandangan peneliti
didukung oleh hasil penelitian lain yang relevan, serta untuk menghindari
adanya pengulangan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain atau
menjaga originalitas penelitian. Kajian pustaka primer meliputi jurnal
penelitian, laporan hasil penelitian, abstrak, narasumber.
Kajian pustaka
dari teori dimaksudkan agar peneliti dapat mengidentifikasi masalah yang
diteliti dalam konteks ilmu pengetahuan yang relevan. Kajian pustaka dari teori
merupakan kajian pustaka dari sumber pustaka sekunder. Sumber pustaka
sekunder adalah publikasi di mana
penulis mendeskripsikan hasil karya orang lain. Sumber sekunder adalah buku
(text books), ensiklopedia pendidikan, kajian penelitian, atau buku tahunan.
Macam-macam kajian pustaka primer sebagai berikut: (a) Buku adalah sumber pustaka ilmiah yang
secara resmi telah dipublikasikan atau telah menjadi peganggan dalam
mempelajari suatu bidang ilmu. (b) Surat
kabar/ majalah merupakan sumber pustaka yang cukup baik dan mudah diperoleh
dimasyarakat, mengingat informasi dari surat kabar dan majalah merupakan
informasi yang sifatnya popular tapi para peneliti dianjurkan untuk lebih
dahulu mengevaluasi isi yang hendak diambil seperti what, who, how, when, why. Kemudian (c) Internet merupakan sumber kajian pustaka yang dihasilkan akibat
kemajuan teknologi yang telah membawa dampak yang sangat signifikan dibidang
informasi, dalam melakukan kajian pustaka menggunakan internet prinsip
pemutakhiran sangat penting karena ilmu
berkembang dengan cepat. Sebuah teori yang efektif pada suatu periode mungkin
sudah ditinggalkan pada periode berikutnya.
Sedikitnya terdapat dua syarat utama yang harus dipenuhi oleh
sumber bacaan, yaitu: (a) adanya keterkaitan antara isi bacaan dengan masalah
yang dibahas, (b) Kemutakhiran sumber bacaan, artinya sumber bacaan yang sudah
kadaluwarsa isinya harus ditinggalkan.
Sering dijumpai banyak laporan penelitian mencantumkan daftar pustaka yang
sangat banyak, tetapi tidak berkaitan
dengan masalah yang dibahas.
Pada umumnya urutan langkah yang dilakukan dalam melakukan kajian
teoritis melalui sumber bacaan adalah sebagai berikut: Mengkaji teori-teori
ilmiah yang berhubungan dengan konsep-konsep yang dipermasalahkan dan akan
dipakai dalam analisis (a) membahas hasil-hasil kajian ilmiah lain yang
berhubungan dengan apa yang dipermasalahkan (b) merangkum hasil-hasil kajian
teori, yang dapat berupa kesimpulan yang berisi jawaban sementara (hipotesis)
terhadap rumusan masalah, atau rangkuman argumentasi teoritik yang akan
digunakan hasil kajian, (c) mengkaji rumusan masalah penelitian,
mengidentifikasi istilah kunci dan topik yang terkait dengan rumusan masalah,
(d) teori-teori yang digunakan untuk mendukung penelitian bukan hanya yang
tercantum dalam rumusan masalah, melainkan pula yang menggambarkan hubungan
sebab akibat dengan variabel yang diteliti.
C.
LANGKAH-LANGKAH
MELAKUKAN PEREKAMAN KAJIAN PUSTAKA
Langkah-langkah
untuk melakukan perekaman kajian pustaka, sebagi berikut: (a)
memulai dengan materi hasil penelitian yang secara sekuensi diperhatikan
dari yang paling relevan, relevan dan cukup relevan. Cara lain dapat juga
misalnya, dengan melihat tahun penelitian di awali dari yang paling mutakhir
dan berangsur-angsur mundur ketahuan yang lebih lama, selanjutnya (b) Membaca
abstrak dari setiap penelitian lebih dahulu untuk memberikan penilaian apakah
permasalahan yang di bahas sesuai dengan yang akan dipecahkan dalam penelitian,
(c) Mencatat bagian-bagian penting dan relevan dengan permasalahan penelitian untuk
menjaga agar tidak terjebak dalam unsure plagiat, para peneliti hendaknya juga
mencatat sumber-sumber informasi dan mecantumkannya dalam daftar pustaka, jika
memang informasi berasal dari ide / hasil penelitian orang lain, (d)
membuat catatan kutipan atau salinan
informasi sehingga peneliti dengan mudah dapat mencari kembali bila
sewaktu-waktu diperlukan, sangat di anjurkan dalam hal ini bagi para peneliti
agar membuat kutipan dalam sistem kartu berukuran 7,5 x 10 cm atau yang sudah
di sediakan dalam toko-toko buku dan alat tulis umumnya. Kedua muka kartu
secara bolak-balik dapat digunakan. Muka pertama untuk substansi kutipan,
sedangkan muka sebaliknya sebagai catatan sumber kutipan, (e) Atur kartu-kartu
tersebut menurut abjad atau katalog yang telah dibuat sesuai dengan interes
peneliti, agar mudah dalam mencari bila sewaktu-waktu diperlukan, (f) Tulis juga pada muka kartu sebaliknya, dari
mana sumber tersebut di ambil secara lengkap dan teliti, (g) Agar mudah mencari
dan mengatur kartu-kartu yang di buat, peneliti hendaknya membuat satu
substansi kutipan untuk setiap kartu, (h) Yakinkan bahwa isi acuan tersebut di
kutip secara langsung, di ringkas atau di uraikan dengan menggunakan bahasa
sendiri. Hal yang demikian perlu dilakukan agar peneliti terhindar dari
plagiator (penjiplak).
D.
KAJIAN PUSTAKA DARI TEORI YANG BERKAITAN DENGAN PERMASALAHAN YANG
DITELITI (SEKUNDER)
Adapun struktur
penulisan kutipan kajian pustaka baik dari kajian pustaka primer maupun
sekunder adalah sebagi berikut:
1.
Cara
Menulis Kutipan Langsung
a.
Kutipan
kurang dari 40 kata
Kutipan yang berisi kurang dari 40 kata ditulis di antara tanda kutip (“....”) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama, dan diikuti nama penulis, tahun dan nomor halaman.
Nama penulis dapat ditulis secara terpadu dalam teks atau menjadi satu dengan tahun dan nomor halaman di dalam kurung.
nama penulis disebut dalam teks secara terpadu.
Contoh:
Soebronto (1990:123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”.
Nama penulis disebut bersama dengan tahun penerbitan dan nomor halaman.
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (Soebronto, 1990:123)
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘...’)
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat kecenderungan semakin banyak ‘campur tangan’ pimpinan perusahaan semakin rendah tingkaat partisispasu karyawan di daerah perkotaan” (Soewignyo, 1991:101).
b.
Kutipan
40 kata atau lebih
Kutipan yang
berisi 40 atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang
mendahului, ditulis 1,2 cm dari garis tepi sebelah kiri dan kanan, dan diketik
dengan spasi tunggal. Nomor halaman juga harus ditulis.
Contoh:
Smith
(1990:276) menarik kesimpulan sebagai berikut.
The ‘placebo effect’, which had been verified in previous studies,
disappeared when behaviors were studied in this manner. Furthermore, the
behaviors were never exhibited again, even when real drugs were administered.
Earlier studies were clearly premature in attributing the results to a plcaebo
effect.
c.
Kutipan
yang sebagian dihilangkan
Apabila
dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang dibuang, maka
kata-kata yang dibuang diganti dengan tiga titik.
Contoh:
“Semua pihak
terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah ... diharapkan sudah
melaksanakan kurikulum baru” (Manan, 1995:278).
Apabila ada kalimat yang dibuang, maka
kalimat yang dibuang diganti dengan empat titik.
Contoh:
“Gerak
manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara mata, tangan,
atau bagian tubuh lain .... Yang termasuk gerak manipulatif antara lain adalah
menangkap bola, menendang bola, dan menggambar” (Asim, 1995:315).
2.
Cara
Menulis Kutipan Tidak Langsung
Kutipan yang disebut secara tak
langsung atau dikemukakan dengan bahasa penulis sendiri tanpa tanda kutip dan
terpadu dalam teks. Nama penulis bahan kutipan dapat disebut terpadu dalam
teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbitnya. Jika memungkinkan
nomor halaman disebutkan. Perhatikan contoh berikut.
Nama penulis disebut terpadu dalam
teks.
Contoh:
Salimin
(1990:13) tidak menduga bahwa mahasiswa tahun ketiga lebih baik daripada
mahasiswa tahun keempat.
Nama penulis disebut dalam kurung
bersama tahun penerbitannya.
Contoh:
Mahasiswa tahun
ketiga ternyata lebih baik dari pada mahasiswa tahun keempat (Salimin,
1990:13).
Penelitian Sebagai Upaya Sistematik Dalam Menemukan Dan Atau Mengembangkan Pengetahuan Yang Benar
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 06.58
Oleh: Wahyu Nur Hidayat, 2011
Aktivitas penelitian di berbagai bidang ipteks secara
substansi ditandai oleh empat hal, yaitu adanya upaya bersifat sistematik,
adanya sesuatu hasil temuan, adanya kebermanfaatan dan adanya tindak lanjut
penyebarluasan temuan (Mukhadis, 2013:70).
Upaya sistematik dalam konteks ini ditandai dengan adanya kejelasan
langkah-langkah yang ditempuh secara eksplisit, jelas dan lugas mulai dari
penentuan masalah sampai penarikan kesimpulan dan atau generalisasi
(perampatan) dan dapat direplikasi oleh peneliti lain temuan (Mukhadis,
2013:70). Penelitian sebagai upaya
sistematik memiliki arti bahwa untuk
dapat memperoleh pengetahuan yang benar, penelitian dilaksanakan dengan
menggunakan metode ilmiah oleh peneliti yang memiliki integritas ilmiah. Penelitian dilaksanakan berdasarkan teori-teori,
prinsip-prinsip, serta asumsi-asumsi dasar ilmu pengetahuan dengan menggunakan
penalaran deduktif serta prosedur dan teknik sistematik.
Sebagai
contoh, Creswell (2012:8-11)
menyebutkan setidaknya terdapat 6 sistematika penelitian yaitu: (1)
mengidentifikasi masalah penelitian, (2) mencari literatur yang sesuai dan
mendukung, (3) menspesifikkan tujuan penelitian, (4) mengumpulkan data, (5)
menganalisa dan mengintepretasikan data, dan (6) membuat laporan dan evaluasi
penelitian.
Gambar
1.1 Sistematika
penelitian menurut (Sumber: Creswell, 2012:8)
Aspek temuan dari suatu penelitian dalam bidang Ipteks
secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu sebagai hasil
‘menemukan’
dan ‘mengembangkan’
(Mukhadis, 2013:70). Hasil penelitian dikelompokkan ke dalam kategori menemukan
apabila dari masalah, metode dan hasil penelitian tersebut memenuhi indikator
aspek kebaruan dan belum pernah diteliti oleh peneliti lain sebelumnya.
Sedangkan hasil penelitian dikatakan mengembangkan apabila temuan
tersebut berupa penyempurnaan atau modifikasi dari berbagai hasil penelitian
sebelumnya yang berorientasi menghasilkan produk, yang memiliki nilai tambah
yang dignifikan terhadap produk yang telah ada sebelumnya.
Kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar
sebagai penyempurnaan pengetahuan sebelumnya telah dilaksanakan oleh para
peneliti dan ilmuan dalam bidang ilmunya masing-masing. Pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep,
generalisasi-generalisasi, dan teori-teori yang telah dihasilkan dari berbagai
penelitian itu merupakan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi dalam berbagai bidang. Disamping itu hasil penelitian juga telah
memungkinkan manusia dapat lebih baik memecahkan masalah-masalah
praktis yang dihadapi dalam hidupnya.
Berikut akan dijabarkan secara kompleks tentang bentuk-bentuk
konkret dari penelitian –pengertian
beserta contohnya- antara lain:
a. Eksperimen
Penelitian eksperimental merupakan bentuk penelitian
percobaan yang berusaha untuk mengisolasi dan melakukan kontrol setiap
kondisi-kondisi yang relevan dengan situasi yang diteliti kemudian melakukan
pengamatan terhadap efek atau pengaruh ketika kondisi-kondisi tersebut
dimanipulasi. Dengan kata lain, perubahan atau manipulasi dilakukan terhadap
variabel bebas dan pengaruhnya diamati pada variabel terikat. Menurut Emzir (2008:96-103)
desain penelitian ekperimen dibagi menjadi empat bentuk yakni, pre-experimental design, true experimental design, quasy experimental design dan factorial design.
Contoh:
Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran TANDUR
Berbantuan Web Interaktif Terhadap Hasil Belajar Teknologi Informasi dan
Komunikasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Malang. (Kuasi Eksperimen
terhadap Siswa Kelas VII SMP Negeri 3
Malang
Tahun Ajaran 2010/2011). (Sumber:
perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak
diterbitkan).
b. Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah suatu metode
penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang
ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau. Penelitian ini tidak
mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi
menggambarkan suatu kondisi apa adanya. Penggambaran kondisi bisa individual
atau menggunakan angka-angka. (Sukmadinata, 2006:5)
Penelitian deskriptif, bisa
mendeskripsikan suatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan
dalam tahapan-tahapan perkembangannya, penelitian demikian disebut penelitan
perkembangan (Developmental Studies).
Dalam penelitian perkembangan ini ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan
waktu.
Contoh:
Manajemen
Pengembagan Kinerja Guru SMK se-Kabupaten Kuningan: Studi Tentang Kepemimpinan Entrepeuneur Dan
Sistem kompensasi Kreativitas dan Kinerja Inovatif. (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri
Malang, skripsi tidak diterbitkan).
c. Korelasional
Penelitian korelasi adalah suatu
penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah
ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya
hubungan dan tingkat variabel yang penting, karena dengan mengetahui tingkat
hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan
penelitian. (Sukardi, 2003:166)
Penelitian korelasi merupakan bentuk penelitian
untuk memeriksa hubungan diantara dua konsep. Secara umum ada dua jenis
pernyataan yang menyatakan hubungan, yaitu: (1) gabungan antara dua konsep, ada
semacam pengaruh dari suatu konsep terhadap konsep yang lain; (2) hubungan
kausal, ada hubungan sebab akibat. Pada hubungan kausal, penyebab diferensikan
sebagai varibel bebas dan akibat direferensikan sebagai variabel terikat. Pada
penelitian korelasi tidak ada kontrol atau manipulasi terhadap variabel.
Contoh:
Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kompetensi Interpersonal Pada
Remaja (Studi korelasi
pada remaja tunanetra yang mengalami ketunanetraan tidak sejak dari lahir di
PSBN Wyata Guna Bandung). (Sumber: repository.upi.edu).
d. Komparatif
Penelitian kausal komparatif atau penelitian ex post facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis dimana
ilmuan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi
variabel tersebut telah terjadi. Pendekatan dasar klausa komparatif melibatkan
kegiatan peneliti yang diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu
terhadap variabel lainnya kemudian dia berusaha mencari kemungkinan variabel
penyebabnya.
Penelitian komparatif membandingkan situasi masa
lalu dan saat ini atau situasi-situasi paralel yang berbeda, khusunya apabila
peneliti tidak memiliki kontrol terhadap situasi yang diteliti. Penelitian ini
bisa memiliki perspektif makro (misal: internasional,nasional) dan mikro
(misal: komunitas, individu).
Contoh:
Studi Komparatif
Penerapan Model Contextual Teaching and
Learning (CTL)
dengan Model Problem Based Learning (PBL) dalam
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada
Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik dan Elektronika Di SMKN 12 Bandung. (Sumber: repository.upi.edu).
e. Evaluasi
Penelitian evaluasi merupakan bentuk penelitian yang
bertujuan untuk memriksa proses perjalanan suatu program sekaligus menguraikan fakta-fakta yang
bersifat kompleks dan terlibat di dalam program. Misalnya adalah keefektifan, efisiensi dan kemenarikan
suatu program (Mukhadis, 2013:61).
Contoh:
Evaluasi Proses
Pembelajaran TIK SMA Negeri di Kota Malang Berdasarkan Pada Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar
Proses. (Deskriptif tentang kondisi proses pembelajaran mata pelajaran TIK SMA
di Kota Malang Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah populasi 10 SMA Negeri dan
sampel penelitian sebanyak 5 SMA Negeri). (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak
diterbitkan).
f. Simulasi
Penelitian simulasi merupakan bentuk penelitian yang
bertujuan untuk mencari gambaran melalui sebuah sistem berskala kecil atau
sederhana (model) dimana di dalam model tersebut akan dilakukan manipulasi atau
kontrol untuk melihat pengaruhnya. Penelitian ini mirip dengan penelitian
eksperimental, perbedaannya adalah di dalam penelitian ini membutuhkan
lingkungan yang benar-benar serupa dengan keadaan atau sistem yang asli.
Contoh:
Penggunaan Simulasi Monte Carlo Untuk Menentukan Nilai Outcome Pada Pengambilan Keputusan (Studi Kasus Pengambilan Keputusan pada Toko NAFC Collection). (Sumber: repository.upi.edu)
Penggunaan Simulasi Monte Carlo Untuk Menentukan Nilai Outcome Pada Pengambilan Keputusan (Studi Kasus Pengambilan Keputusan pada Toko NAFC Collection). (Sumber: repository.upi.edu)
g. Survey
Survey research designs are procedures in quantitative research in which
investigators administer a survey to a sample or to the entire population of
people to describe the attitudes, opinions, behaviors, or characteristics of
the population. (Creswell, 2012: 376)
Penelitian survey digunakan untuk
mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan
sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut bisa berkenaan dengan orang,
instansi, lembaga, organisasi dan unit-unit kemasyarakatan dan lain-lain,
tetapi sumber utamanya adalah orang. Desain survey tergantung pada penggunaan
jenis kuisoner. Survey memerlukan populasi yang besar jika peneliti
menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata, semakin besar sample survey
semakin memberikan hasil akurat. Penelitian survei memiliki tiga tujuan utama
yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengidentifikasi secara terukur keadaan
sekarang untuk membandinkan, menentukan hubungan kejadian yang spesifik.
Contoh:
Stress and Burnout
in Rural and Urban Secondary School Teachers. Journal of Educational Research. 1999. 92, pg. 287–293. (dalam
Creswell, 2012:378)
h. Studi
Kasus
Sebuah studi kasus adalah
eksplorasi mendalam dari sistem terikat (misalnya,
kegiatan, acara, proses,
atau individu) berdasarkan pengumpulan data yang luas. Studi kasus
melibatkan investigasi kasus, yang dapat didefinisikan sebagai suatu entitas
atau objek studi yang dibatasi, atau terpisah untuk penelitian dalam hal waktu,
tempat, atau batas-batas fisik. Penting untuk memahami bahwa kasus dapat berupa
individu, program, kegiatan, sekolah, ruang kelas, atau kelompok. Setelah kasus
didefinisikan dengan jelas, peneliti menyelidiki mereka secara mendalam,
biasanya menggunakan beberapa metode pengumpulan data, seperti wawancara,
observasi lapangan, dan dokumentasi.
Studi kasus
kolektif; (a) melibatkan beberapa kasus, (b) dapat terjadi selama bertahun situs,
dan (c) menggunakan banyak individu. Kerangka konseptual untuk studi kasus
adalah bahwa dengan mengumpulkan informasi mendalam tentang kasus, peneliti
akan mencapai pemahaman mendalam tentang kasus ini, apakah kasus itu adalah
seorang individu, kelompok, kelas, atau sekolah.
Contoh:
Butera, G. 2005.
Collaboration in the context of Appalachia: The case of Cassie. The Journal of Special Education, 39(2):
106–116.
Butera (2005)
menggunakan studi kasus dan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi,
dan dokumen untuk menggambarkan kolaborasi tim dengan anak 4 tahun di West
Virginia. (Stoner, 2010: 21)
i. Teori
Dasar (Grounded Theory)
Grounded Theory merupakan pendekatan yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan atau
menemukan teori yang didasarkan pada studi fenomena. Dengan menggunakan grounded theory, peneliti sengaja (a)
memilih peserta yang mengalami fenomena yang sedang dipelajari, (b)
menganalisis data (yaitu, wawancara, dokumen, dan catatan), dan (c) mendekati
fenomena yang diteliti tanpa prasangka pengertian. Kerangka konseptual ini
memungkinkan suara peserta muncul , mensyaratkan bahwa peneliti
mengidentifikasi tema utama atau konsep dari data peserta , dan memberikan
jalan untuk mengembangkan teori dari perspektif peserta .
Most grounded theory researchers will begin with research
questions but they do not start with a hypothesis, nor do they begin their
investigation with a thorough review of the literature relating to their topic.
They build up theory from their data and they do not wait until all data are
collected before they begin the analysis stage. (Bell, 2005: 19)
Contoh:
Bays, D. A., &
Crockett, J. B. 2007. Investigating Instructional Leadership For Special
Education. Exceptionality, 15(3):
143–161.
Pendekatan grounded
theory digunakan oleh Bays dan Crockett (2007) untuk menyelidiki kepemimpinan
instruksional untuk pendidikan khusus di sekolah dasar. (Stoner, 2010: 22)
j. Etnografi
Ethnographic researchers attempt to develop an understanding
of how a culture works and many methods and techniques are used in this such
us: participant observation, interview, mapping and charting, interaction
analysis, study of historical records and current public documents, the use of
demographic data. (Bell,
2005:16)
Etnografi adalah
analisis mendalam dari kelompok sosial. Data biasanya dikumpulkan melalui
observasi, wawancara, dan dokumen. Jenis penelitian ini berfokus pada membangun
catatan perilaku dan kepercayaan dari kelompok dari waktu ke waktu. Etnografi
mengharuskan peneliti berpartisipasi, baik sebagai pengamat atau peserta aktif,
waktu interaksi yang cukup lama dengan kelompok yang diteliti. Kerangka
konseptual etnografi adalah bahwa keterlibatan langsung ke dalam budaya
kelompok akan memungkinkan peneliti untuk melihat dunia dari perspektif
kelompok, dan melihat yang akan memberikan pemahaman tentang perilaku dan
keyakinan kelompok.
Contoh:
Harry, Klingner,
& Hart. 2005. African American families under fire: Ethnographic views of
family strengths. Remedial and Special
Education, 26(2): 101–112.
Harry, Klingner,
dan Hart (2005) menerbitkan sebuah studi etnografi siswa Amerika keturunan
Afrika dalam pendidikan khusus di sebuah distrik sekolah beragam budaya
perkotaan. (Stoner, 2010: 22)
k. Kultural
Penelitian kultural (budaya) merupakan penelitian
yang dilakukan atas objek berupa unsur atau gejala budaya dengan menggunakan
perangkat metodologis yang tercakup di dalam ilmu pengetahuan budaya. Unsur
atau gejala budaya adalah unsur atau gejala yang terdapat di dalam suatu
masyarakat yang berkaitan dengan perangkat nilai-nilai, pemikiran, dan hasil
budi daya dalam bentuk interaksi antara masyarakat dengan lingkungannya atau
segi hasil pemikiran atau kreasi anggotanya yang terungkap dalam wujud tulisan
atau benda-benda.
Contoh:
Identifikasi Ajen Budaya Sunda Dina Wawacan Jaka
Bayawak.
(Sumber:
repository.upi.edu).
l. Historis
Penelitian historikal merupakan bentuk penelitian
yang memiliki tujuan untuk menggambarkan fakta dan menarik kesimpulan atas kejadian
masa lalu. Data primer dari penelitian ini adalah data yang bersifat historis,
misalnya para arkeolog menggunakan sumber data berupa dokumentasi tentang masa
lalu. Penelitian historikal dapat digunakan untuk menemukan solusi sementara
berdasarkan kejadian masa lalu dan menggambarkan tren masa kini atau masa
depan.
Kothari (2004)
mengategorikan jenis penelitian histori ke dalam dua pendekatan, yaitu
pendekatan perspektif –mempelajari kegiatan/agenda masa lampau sampai sekarang-
dan pendekatan retroperpektif –mempelajari kegiatan/agenda saat ini kemudian
dihubungkan dengan hal serupa di masa lalu-.
Contoh:
Seni Tradisi Gembyung di Kampung Ganceuy Kabupaten Subang 1975-1999
(Suatu Kajian Historis Terhadap Sosial Budaya Masyarakat). (Sumber: repository.upi.edu).
m. Etnologi
Penelitian etnologi merupakan penelitian yang fokus
kepada perilaku manusia. Peneliti lebih condong menggunakan interpretasi
langsung dari perilaku subjek yang diteliti daripada melakukan interpretasi
dari segi teoritik. Peneliti harus
berusaha untuk tidak nampak sebagai peneliti, karena bila tidak demikian
interpretasi atas data yang didapat dari responden akan terpengaruh.
Contoh:
Eufemisme Dalam Bahasa Simalungun (Suatu Kajian
Sosiolinguistik) (Sumber:
repository.usu.ac.id).
n. Penelitian
Praktis (Penelitian Tindakan/Action
Reasearch)
Action research designs often utilize
both quantitative and qualitative data, but they focus more on procedures
useful in addressing practical problems in schools and the classrooms. Action research
designs are systematic procedures used by teachers (or other individuals in an
educational setting) to gather quantitative and qualitative data to address
improvements in their educational setting, their teaching, and the learning of
their students (Creswell, 2012:577).
Penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian yang
berisi berbagai macam prosedur untuk menguraikan kasus-kasus yang bersifat
mikro atau khusus. Simpulan dari penelitian tindakan langsung diberlakukan
hanya untuk kasus yang diteliti dan tidak bisa digeneralisasikan. Penelitian
tindakan lebih condok ke metode kualitatif yang sangat bergantung pada data
penagamatan yang bersifat behavioralistik.
Contoh:
Upaya Meningkatkan
Hasil Belajar Matematika Siswa Tentang Pemecahan Masalah Yang Melibatkan Uang
Melalui Metode Simulasi (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas III B SDN
Cicadas 03 Gunung Putri Bogor). (Sumber:
repository.upi.edu).
Selasa, September 16
Seperempat Abad ku Disini
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 05.33
Tak terasa, sudah seperempat abad aku berjalan di atas bumi tempat ku berpijak ini. Entah apa saja yang telah ku lakukan, yang pasti masih belum mencapai target dan sasaran yang sesuai. Tepat 11 September 2014, kejutan tiba-tiba datang dari teman2 dan dosen. Beberapa kejutan berdatangan dan yang ku pikir, "Ulang Tahun Perak" ternyata seperti ini toh. Semua memberikan energi positif untuk berkarya lebih baik lagi. Terima kasih untuk semua...
Berikut adalah beberapa foto kenangan tersebut :)
Terima kasih teman-teman...Kalian Josh!!
Berikut adalah beberapa foto kenangan tersebut :)
Gambar 1 Kejutan dari Onter bersama Bu Yuni, Bu Siti dan Azis di Cafe Warna setelah bergalau ria bertemu dengan pak rektor :). Tepat di tanggal 11 September 2014 Singkong kejunya nikmat. Terima kasih...
Gambar 2 Minggu, 14 Septermber 2014. @Sidoarjo
Gambar 3 Tak bisa berkata banyak karna sedang shock -..-" Ada2 aja nih orang Bandung kirim-kirim makanan.
Gambar 4 Berfoto ia bersama teman sekelas @H5
Gambar 5 Founder @mhsmalang ikut meniup lilin ulang tahun. Makasih bantuannya....
Gambar 6 Saatnya kita potong bersama. Taraaaa...
Terima kasih teman-teman...Kalian Josh!!
Minggu, September 14
Profil Diri
Posted by Wahyu Nur Hidayat, M.Pd on 06.58
Wahyu Nur Hidayat
Magister Pendidikan Kejuruan
Wahyu, adalah Master Pendidikan Kejuruan, Universitas Negeri Malang. Selama masa studi di UM, ia pernah dipercaya untuk memimpin Korp Asisten TEUM, Kadiv IT WSE dan sekbid penalaran HME. Kecintaannya pada dunia pendidikan ditunjukkan melalui berbagai kegiatan Skills Upgrading yang melibatkannya sebagai trainer dan tutor. Tak heran jika pria yang sempat menjabat sebagai Ketua Litbang dan Kaprodi TI di SMK Widyagama Malang ini pernah mendapatkan 2 dana pengabdian masyarakat DIKTI bidang pendidikan; "One Teacher One Blog" di Kabupaten Jombang dan "Javanese Tutoring System" di Kota Malang. Selain itu dia juga pernah bergabung di Gerakan Indonesia Mengajar di Lebak-Banten.
SMK Widyagama Malang | Jln. Borobudur No. 12 Malang
Kakomli RPL - TKJ dan Kepala Litbang | 2011 - 2012
Indonesia Mengajar | Jln. Galuh II No. 4, Kebayoran Baru
Pengajar Muda Angk. IV penempatan Kab. Lebak | 2012 - 2013
CV. kafeEDU | Jln. Simpang Bogor No. 12 Malang
General Manager | 2013 - sekarang











