Sabtu, Februari 19

Ucup dan Final AFF 2010 I (26 Desember 2010)

13.00 WIB

Riuh gemuruh angin membawa pesan
"INDONESIA MERAIH MIMPI", ulasan salah satu media televisi
Ucup, Seorang anak paruh baya
yang sedari tadi setia menyimak berita
bingung dan bertanya padaku,
"maksud e opo?" -maksudnya apa-
akupun tak heran dengan tanyanya...

Di saat uforia AFF 2010 menggema di seluruh penjuru Indonesia
tak lain dan tak bukan karna TIMNAS kita belum pernah terkalahkan sejak babak penyisihan
serta pesta gol-gol diluar dugaan
antusiasme meningkat dan harapan itu muncul kembali

sedang untuk satu anak ini,
akupun turut berduka,
dia adalah 1 dari sekian ribu masyarakat Indonesia
yang trauma akan prestasi persepakbolaan negeri ini.
15 tahun sejak piala Tiger -dan sekarang AFF- digelar,
Bangsa kita hanya mampu menjadi spesialis Runner Up selama 3 kali,
dan ini cukup membuat kita haus kemenangan
di perparah lagi,
5 tahun belakangan,
permainan kita sangatlah buruk
bahkan sandangan spesialis (2) tak pernah terdengar lagi pekiknya.
dan semuanya itu cukup membuat anak yang duduk termangu ini
kehilangan harapan pada Timnas GARUDA

Sejak awal bola bergulir,
dan GARUDA tampil gemilang dengan melibas HARIMAU MALAYA 5-1
dilanjut 6-0 dengan LAOS dan 2-1 dengan THAILAND
tetap membuatnya teguh pendirian
takkan melihat GARUDA bertanding lagi...
trauma akut pun serasa tlah mengalir ke seluruh nadinya

hingga sampai siang ini,
disaat kami terpaku di depan layar bersama,
alisnya pun terangkat
dan menyirat keheranan
"Hah..!! Opo bener mas?", tanyanya sambil tangan kanannya menepuk pundakku dengan keras
"Iyo leee...", sahutku dengan sedikit meringis kesakitan
"Jambu, Asem, Anggur..." dan beberapa nama buah-buahan hingga hewan dia sebut satu persatu,
dan berakhir dengan bacaan syukur, "Alhamdulillah duh gusti..."
akupun tak luput dari tendangan dan pukulannya
anak ini tlah hidup kembali dari traumanya
dan orang di dekatnya saat itu -aku-
menjadi samsak pelampiasan kebahagian
remuk semua rasa

tapi tak apa,
syukurlah dia tlah kembali
dan doa serta harapan pun dipanjatkan
setidaknya belum terlambat
untuk mendukung GARUDA beraksi sore ini.

 

17.40 WIB
Suara adzan magrib pun berkumandang
dari sebuah surau kecil pinggir kali

Cepat-cepat Ucup melangkahkan kakinya
berdandan ala santri,
peci hitam, sarung dan baju koko pun membalut tubuhnya
berlomba untuk shof terdepan
dan berharap doa hari ini akan lebih manjur

salam pun terdengar
dan dzikir serta doa-doa telah dipanjatkan bersama
perlahan lahan,
Ucup pun menggeser posisi duduk ke pojok kanan depan
dalam kerendahan diri,
dia pun menengadahkan tangannya ke atas
seraya berdoa...

"Tuhan...
cukup lama ku terpuruk lesu
dalam kubangan yang ku bangun
berserta ribuan harap yang terkubur
pada kejayaan dan kemenangan sang GARUDA

3 kali Kau tunda kemenangan ini,
bahkan untuk 5 tahun belakangan
Kau cabut kepak2 sayap yang menggelora
seaakan Kau wajibkan kami berpuasa
dan ayat-ayat yang ku lantunkan tiap malam
mencumbu dan berbisik
"belum waktunya, sobat..."

Dan pada satu waktu
akupun berhenti dalam harap
biarlah GARUDA terbang sendiri
cukuplah,
tak usah ajak aku,
aku malu...

Namun setelah lama menunggu,
Kau hadirkan momen itu lagi, Tuhan...
jiwa yang tlah lama tertidur
seakan bangkit.
bersama riuh sorai dari Sabang - Merauke

GARUDA DI DADAKU
GARUDA KEBANGGAANKU
KU YAKIN...
HARI INI, PASTI MENANG!

TUHAN...
Kami sudah rindu kemenangan,
Dalam kerendahan diri ini
ku mohon padaMu...
Lancarkanlah jalan sang GARUDA menggapai mimpinya
Berilah kami pelepas dahaga setelah lama berpuasa
inilah harap kami dalam kuasaMu...

Kau pemilik kami,
dan Kau tau yang terbaik bagi kami,
Trima kasih Tuhan
amien, amien ya rabbal alamin..."

dan ucup pun tak kuasa menahan air matanya
yang sedari dari menetes bersama bulir-bulir harapnya


-bersambung-

0 comments:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More